Kenapa Ada Orang Takut Badut? Begini Kata Ilmuwan
·waktu baca 4 menit

Apa kamu salah satu orang yang takut sama badut? Tenang, kamu enggak sendirian. Coulrophobia atau ketakutan akan badut adalah fenomena yang diakui secara luas.
Studi menunjukkan, ketakutan akan badut terjadi di antara orang dewasa dan anak-anak di berbagai budaya. Namun, belum diketahui dengan pasti kenapa ini bisa terjadi. Literatur akademik hanya menyebutkan coulrophobia bisa disebabkan oleh berbagai faktor, tapi tidak ada penelitian khusus yang menyelidiki masalah ini secara mendalam.
Berangkat dari situ, tim ilmuwan dari University of South Wales melakukan studi untuk mengetahui kenapa ada orang yang takut oleh badut, termasuk memahami psikologi di balik coulrophobia.
“Kami ingin mengeksplorasi seberapa umum ketakutan terhadap badut pada orang dewasa dan untuk melihat tingkat keparahan ketakutan pada mereka yang melaporkannya,” papar Sophie Scorey, peneliti PhD di University of South Wales yang terlibat dalam penelitian.
Para peneliti kemudian menyusun kuesioner psikometrik untuk menilai prevalensi dan tingkat keparahan coulrophobia. Kuesioner tersebut diisi oleh 987 peserta berusia 18 hingga 77 tahun yang tersebar di berbagai negara.
Dijelaskan di The Conversation, hasilnya sekitar 53,5 persen responden mengaku takut badut hanya pada taraf tertentu, dan 5 persen responden mengaku sangat takut badut. Menariknya, persentase laporan orang yang mengalami ketakutan oleh badut sedikit lebih tinggi ketimbang fobia lain, seperti sangat takut binatang (3,8 persen); darah,suntikan, atau cedera (3,0 persen); ketinggian (2,8 persen); ruang tertutup (2,2 persen); dan terbang (1,3%).
Peneliti juga menemukan fakta bahwa wanita cenderung lebih takut pada badut ketimbang laki-laki. Alasan perbedaan ini tidak jelas. Fakta lainnya adalah coulrophobia akan berkurang seiring bertambahnya usia dan ini juga berlaku pada phobia lain, seperti ular atau laba-laba.
Asal mula orang takut badut
Langkah selanjutnya adalah mencari tahu asal-usul orang bisa takut badut. Kuesioner lanjutan diberikan kepada 53,5 persen responden yang mengaku takut badut pada tingkat tertentu. Ada delapan pertanyaan yang diberikan. Semua pertanyaan ini bisa menjelaskan asal-usul ketakutan terjadi. Berikut daftarnya:
Perasaan takut atau resah karena riasan badut membuat mereka terlihat tidak manusiawi. Respons serupa terkadang terlihat pada boneka atau manekin.
Fitur wajah badut yang berbeda membuat kita merasa terancam.
Riasan badut yang menyembunyikan sinyal emosional dan menciptakan ketidakpastian.
Warna riasan badut mengingatkan kita pada kematian, infeksi atau cedera darah, dan membangkitkan rasa jijik atau tak ingin melihat.
Perilaku badut yang tak terduga membuat kita tidak nyaman.
Takut badut telah terjadi dari anggota keluarga.
Citra negatif badut dalam budaya populer.
Pengalaman yang menakutkan dengan badut.
Menariknya, banyak responden tidak memilih nomor 8. Artinya, pengalaman hidup bukanlah satu-satunya alasan kenapa orang takut badut. Sebaliknya, citra negatif badut yang digambarkan dalam budaya populer menjadi penyebab banyak orang mengidap coulrophobia.
“Hal ini bisa dimengerti karena beberapa badut dalam buku dan film dirancang untuk menakut-nakuti. Seperti Pennywise, badut menyeramkan dalam novel It 1986 karya Stephen King,” kata para peneliti.
Namun, beberapa orang juga mengaku takut pada badut Ronald McDonald, maskot makanan cepat saji yang didesain bukan untuk menakut-nakuti. Ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih mendasar tentang penampilan badut yang meresahkan.
Faktor lainnya adalah karena riasan badut yang menyembunyikan sinyal emosional dan penuh ketidakpastian. Artinya, orang-orang takut sama badut karena tidak bisa melihat ekspresi wajah mereka yang tertutupi make-up.
“Kita tidak bisa melihat wajah ‘asli’ mereka dan karena itu tidak dapat memahami maksud emosional mereka,” papar peneliti.
Jadi kita tidak tahu apakah mereka mengerutkan kening atau alis, yang menandakan bahwa mereka marah. Kita juga tidak dapat mendeteksi apa yang ada dipikiran badut atau apa yang akan mereka lakukan pada kita sehingga membuat kita gelisah saat berada di dekatnya.
- Peneliti University of South Wales -
Penelitian ini memang telah memberikan wawasan baru soal coulrophobia, tapi masih banyak pertanyaan yang tersisa, seperti jika riasan yang menutupi ekspresi menimbulkan rasa takut, apakah orang yang wajahnya dicat seperti binatang juga menciptakan efek yang sama? Atau adakah sesuatu yang lebih identik sehingga membuat badut terlihat menyeramkan?
Pertanyaan tersebut menjadi fokus dalam penelitian selanjutnya.
