Kenapa Ada Orang yang Doyan Makan Pedas?
·waktu baca 4 menit

Kebanyakan orang Indonesia doyan makan makanan pedas. Kalau enggak pedas, rasanya kurang mantap dan bisa bikin selera makan berkurang.
Namun, pernahkah kamu bertanya kenapa orang Indonesia itu suka banget masakan pedas? Apa karena olahan makanan di kita memang kebanyakan pedas-pedas? Sekarang, mari kita lihat dari kacamata sains alasan kenapa orang suka pedas.
Pedas berhubungan dengan sensasi suhu atau panas. Selain berfungsi sebagai reseptor rasa, lidah memiliki reseptor suhu, beberapa di antaranya dipicu oleh makanan pedas untuk menciptakan rasa terbakar di mulut.
John Hayes, Direktur Sensory Evaluation Center di Penn State University, mengatakan bahan kimia pedas yang membakar lidah disebut capsaicin, berasal dari cabai yang mengembangkan bahan kimia sebagai metabolit sekunder untuk melindungi diri agar tidak dimakan oleh predator.
Capsaicin ini cocok dengan reseptor suhu di lidah yang disebut TRPV1. Reseptor suhu lidah TRPV1 ini biasanya akan bereaksi pada suhu sekitar 40 derajat Celsius atau lebih tinggi. Namun ketika kita memakan makanan pedas capsaicin, molekul akan mengikat reseptor dan menurunkan energi reaksinya.
Dengan kata lain, capsaicin telah menipu reseptor untuk mengirimkan sinyal pembakaran ke otak hanya pada suhu 35 derajat Celsius. Artinya, mulut akan terasa panas meski berada pada suhu kira-kira 35 derajat Celsius.
Piperin dalam lada hitam dan pH cuka yang rendah juga dapat memicu jalur pembakaran TRPV1. Sedangkan allicin dalam bawang putih, wasabi, dan minyak mustard semuanya berinteraksi dengan reseptor suhu terpisah disebut TRPA1.
“Intinya bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa menikmati sensasi terbakar ini (pedas). Sebagian besar hewan menolah pengalaman tersebut (makanan pedas),” ujar Hayes sebagaimana dikutip Live Science.
Ada beberapa teori kenapa manusia tetap doyan makan pedas meski terkadang menyiksa. Teori yang paling kuat adalah tentang risiko dan hadiah –terkait kepuasan.
Sebuah studi pada 2016 yang terbit di jurnal Appetite menunjukkan perilaku mengambil risiko adalah prediktor terbaik untuk merepresentasikan orang yang suka makanan pedas.
Alissa Nolden, ilmuwan makanan dan pakar sensorik di University of Massachusetts, mengatakan mereka yang suka naik roller coaster atau berkendara dengan kecepatan tinggi, cenderung lebih menyukai makanan pedas. Kenapa begitu? Karena wahana atau aktivitas ekstrem bisa memacu adrenalin yang memicu respons tubuh, seperti detak jantung berdebar kencang, pernapasan meningkat, dan mendapatkan kepuasan tersendiri.
Sensasi yang memicu adrenalin inilah yang membuat kita tertarik mengonsumsi makanan pedas. Semua ini bermuara pada perasaan mendapatkan hadiah atau reward, terlepas hadiah yang mereka rasakan adalah rasa sakit atau tidak nyaman. Bagaimana pengalaman risiko-hadiah dimainkan di otak masih menjadi misteri.
Konsumsi pedas juga bisa disebabkan oleh sifat kepribadian yang diperkuat dalam beberapa kelompok sosial dan budaya. Sebuah studi tahun 2015 yang terbit di jurnal Food Quality and Preference menemukan pria di Pennsylvania, AS, cenderung lebih menyukai makanan pedas ketimbang wanita. Ini karena ada hubungannya dengan budaya setempat, di mana makanan pedas terkait dengan kejantanan.
Teori lain menyebut makanan pedas menawarkan manfaat evolusioner di lingkungan panas, menurut Nolden. Beberapa ahli menduga makanan pedas bisa bermanfaat di daerah ini karena dapat memicu keluarnya keringat, sehingga membuat tubuh terasa lebih dingin setelahnya.
“Ada juga komponen genetik yang belum sepenuhnya dieksplorasi,” kata Nolden.
Menurut studi di jurnal Physiology and Behavior, beberapa orang terlahir dengan reseptor capsaicin yang berbeda atau kurang berfungsi, membuat mereka bisa lebih menoleransi rasa pedas.
Sementara itu bagi orang yang kehilangan indra perasa, makanan pedas bisa menjadi pintu gerbang untuk menikmati makanan. Misalnya, kemoterapi yang diberikan kepada pasien kanker dapat mengubah sel reseptor rasa di mulut sehingga makanan mungkin terasa pahit, atau berbeda dari sebelumnya.
Namun karena makanan pedas dideteksi oleh reseptor suhu bukan reseptor rasa, sensasi pedas akan masih terasa. Faktanya, dalam beberapa penelitian disebutkan bahwa pasien kanker memang sering mencari makanan pedas untuk meningkatkan pengalaman sensorik mereka selama atau setelah kemoterapi.
Jadi, ada banyak kemungkinan kenapa ada orang yang suka pedas. Apakah kamu salah satunya?
