Kenapa Dentuman Gunung Anak Krakatau Terdengar ke Bandung tapi Tidak di Jakarta?

Dentuman suara erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang terjadi pada Sabtu (5/9) sekitar tengah malam hingga subuh terdengar warga hingga ke Bandung, Jawa Barat. Lalu, bagaimana mungkin suara erupsi sampai jauh ke Bandung? Kenapa wilayah yang lebih dekat dengan Gunung Anak Krakatau seperti Jabodetabek justru tidak dihebohkan dengan isu ini?
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada 5 September sempat menjelaskan fenomena dentuman di Bandung ini berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau. Namun, analisis tersebut saat itu masih bersifat dugaan kuat.
Kepala PVMBG Siti Sumilah Rita Susilawati menjelaskan, ketika letusan tipe fountain (lava dan gas menyembur) terjadi, maka terjadi pelepasan energi akustik yang sangat besar.
"Energi akustik inilah yang bisa merambat hingga ratusan kilometer," kata Rita, Sabtu (5/9), melalui YouTube Badan Geologi.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Ia mencontohkan peristiwa serupa pada 10 April 2020, saat suara dentuman juga terdengar di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Tim PVMBG saat itu mencocokkan waktu kejadian dan menemukan kesesuaian dengan dua kali erupsi Anak Krakatau di tanggal yang sama, sekitar pukul 21.58 dan 22.35 WIB.
Hasil pemantauan Badan Geologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada periode tersebut juga tidak menunjukkan adanya gempa tektonik signifikan di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten yang bisa menjelaskan sumber dentuman itu.
Rita menegaskan, kesamaan waktu antara erupsi dan laporan dentuman memang menjadi indikasi kuat adanya korelasi, meski hal itu belum serta-merta membuktikan sumber dentuman secara pasti.
Suara Erupsi Merambat hingga Jauh
Rita mengatakan suara erupsi Gunung Anak Krakatau yang merambat hingga ke Bandung bukan fenomena yang tidak mungkin terjadi.
Ia merujuk preseden erupsi Gunung Kelud di Jawa Timur pada 13 Februari 2014, yang dentumannya terdengar di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Kolom erupsi saat itu mencapai ketinggian 17 km, sehingga melepaskan energi akustik yang sangat besar.
"Dengan mempertimbangkan kejadian Anak Krakatau 2020 dan erupsi Kelud 2014, kami menduga kemungkinan erupsi Gunung Anak Krakatau sebagai salah satu kemungkinan sumber suara dentuman di beberapa wilayah di Jabar pada 5 September 2026," kata Rita.
Kepala Badan Geologi Lana Saria menegaskan keras atau lemahnya suara tidak hanya ditentukan oleh jarak, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi udara dan angin di atmosfer saat erupsi terjadi.
"Jadi, dalam kondisi tertentu, gelombang suara dari erupsi dapat terbawa dan merambat jauh. Bahkan bisa terdengar lebih kuat di wilayah tertentu. Sebaliknya, di daerah yang lebih dekat, suara justru bisa lebih lemah atau tidak terdengar jelas karena arah rambatan suaranya berbeda," kata Lana kepada kumparan, Senin (7/9).
Berdasarkan evaluasi Badan Geologi, waktu terjadinya dentuman dan data pemantauan mendukung analisis kuat bahwa dentuman tersebut berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
"Namun perlu dipahami bahwa terdengarnya dentuman di Bandung bukan berarti bahaya langsung erupsi sudah mencapai Bandung, melainkan suara erupsi yang dapat merambat jauh melalui atmosfer," tuturnya.
Suara Dentuman Sesuai Waktu Erupsi
BMKG merilis penjelasan berjudul "Analisis Komprehensif Fenomena Suara Dentuman di Wilayah Bandung Raya dan Sekitarnya" sehari setelah peristiwa tersebut ramai di perbincangkan.
Tim Direktorat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu, bersama Pusat Standardisasi Instrumen MKG dan Stasiun Geofisika Bandung, memaparkan hasil pemantauan data magnet bumi, sambaran petir, dan dinamika atmosfer pada rentang waktu dentuman dilaporkan, yaitu pukul 00.30-05.00 WIB.
Data magnet bumi di empat Stasiun Geofisika –Lampung Selatan (LPS), Serang (SRG), Sukabumi (SKB), dan Tretes (TRT)– mencatat adanya gangguan yang ditandai penguatan warna merah pada spektogram yang sesuai dengan waktu letusan Gunung Anak Krakatau (GAK).
Keempat alat itu muncul warna merah pada waktu yang persis sama dengan waktu letusan Anak Krakatau. Ini semacam bukti bahwa pada waktu tersebut ada sesuatu yang kuat terjadi dan waktunya cocok dengan jam letusan.
"Hal ini menegaskan bahwa aktivitas erupsi vulkanik menghasilkan gelombang elektromagnetik berfrekuensi rendah yang mampu terekam dari jarak jauh. Propagasi gelombang ini memungkinkan munculnya gelombang kinetik kejut yang menjalar ke segala arah, dan berpotensi menjadi energi plasma yang terlepas sebagai dentuman di langit (Skyquake) apabila kondisi atmosfer mendukung," tulis BMKG.
Sebaran petir vulkanik itu terpusat di sekitar Gunung Anak Krakatau yang menurut BMKG mengonfirmasi bahwa erupsi merupakan satu-satunya sumber suara pada dini hari itu.
Arah Angin Penentu Jalur Rambat Suara
Arah angin di ketinggian juga ikut berperan. Pengukuran BMKG menunjukkan proyeksi komponen angin ke arah lintasan Anak Krakatau–Bandung bernilai negatif di beberapa lapisan atmosfer, yang berarti arah anginnya berlawanan dengan arah rambat suara. Kondisi berlawanan arah inilah yang justru mendorong gelombang suara membelok ke atas (upward refraction).
Sementara di lapisan lain, nilai anginnya positif dan justru membantu mendorong rambatan suara ke arah Bandung. Perbedaan ini menunjukkan bahwa abu vulkanik dan gelombang suara merespons struktur angin dengan cara yang berbeda. Kecepatan suara berubah-ubah dan berbeda sesuai ketinggian, sehingga suara "membelok".
Perbedaan kecepatan inilah yang membuat gelombang suara tidak merambat lurus di dekat permukaan tanah, melainkan membelok naik ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi karena pengaruh dinamika angin dan suhu.
Gampangnya, gelombang suara dari Anak Krakatau tidak merambat lurus di dekat permukaan tanah, melainkan membelok ke atas karena pengaruh angin dan suhu.
Efeknya, ada wilayah yang "dilewati" suara, ada yang "kedapatan" suara tersebut. BMKG menggambarkan wilayah itu sebagai wilayah bayangan suara (acoustic shadow zone) di lokasi yang relatif dekat dengan sumber letusan, seperti wilayah Banten, Jakarta, dan Bogor sehingga wilayah tersebut mendengar suara dengan lebih lemah atau bahkan tidak mendengarnya sama sekali.
"Berdasarkan seluruh integrasi data pemantauan instrumen dan pemodelan visual tersebut, disimpulkan bahwa suara dentuman yang dilaporkan warga kemungkinan besar bersumber dari rambatan Gelombang Seismik Akustik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau," tulis BMKG menyimpulkan.
