Kumparan Logo

Kenapa Pluto Tak Pernah Mungkin Kembali Jadi Planet Lagi?

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pluto. Foto: NASA
zoom-in-whitePerbesar
Pluto. Foto: NASA

International Astronomical Union (IAU) mengubah definisi resmi sebuah planet pada 20 tahun lalu. Keputusan itu berujung pada satu konsekuensi yang paling diingat publik: Pluto dicoret dari daftar planet dan diturunkan statusnya menjadi "planet katai" bersama Ceres dan Eris.

Dua dekade berlalu, 'debat kusir' soal status Pluto ternyata belum juga reda. Bahkan, gerakan untuk mengembalikan status planet Pluto kini datang bukan cuma dari meme dan petisi daring, tapi juga dari legislator negara bagian AS hingga pejabat NASA.

Meski begitu, hingga kini belum ada tanda-tanda komunitas astronom akan mengubah sikap. Tekanan dari luar yang bersifat memaksa justru berisiko membuat mereka makin kukuh mempertahankan keputusan tersebut.

Untuk memahami mengapa Pluto kemungkinan besar tak akan pernah jadi planet lagi, penting untuk menelusuri ulang alasan di balik keputusan tahun 2006 itu.

Awal Mula Pluto "Turun Takhta"

Persoalan bermula ketika astronom menemukan makin banyak objek di tata surya bagian luar yang ukurannya sebanding dengan Pluto. Temuan ini memaksa para ilmuwan mendefinisikan ulang, sebenarnya apa itu "planet".

Sebagai otoritas yang berwenang menetapkan konstanta astronomi serta memberi nama objek langit baru, IAU-lah yang akhirnya mengambil keputusan. Alih-alih menyerahkan ke komite kecil, IAU memilih membawa isu ini ke Sidang Umum di Praha demi mendapatkan pandangan seluas mungkin dari para ahli.

Dalam sidang tersebut, disepakati tiga kriteria sebuah planet:

  • Mengorbit Matahari.

  • Memiliki massa yang cukup sehingga gaya gravitasinya sendiri membuatnya berbentuk hampir bulat sempurna (kesetimbangan hidrostatik).

  • Telah "membersihkan" lingkungan orbitnya dari objek lain.

Pluto gagal memenuhi kriteria ketiga — bukan cuma karena massanya kurang besar, tapi juga karena wilayah orbitnya yang jauh dari Matahari membuatnya jauh lebih sulit "membersihkan" jalur orbit dibanding planet-planet yang lebih dekat ke pusat tata surya.

Untuk mempertegas, sidang yang sama juga mengesahkan resolusi tambahan yang secara eksplisit menetapkan Pluto sebagai planet katai sekaligus prototipe kategori baru objek trans-Neptunus.

Keputusan itu disahkan dengan suara mayoritas. Namun para penentangnya sampai sekarang masih mempersoalkan dua hal: pemungutan suara dilakukan di hari terakhir konferensi ketika sebagian astronom sudah pulang, dan lokasi sidang berada di luar Amerika Serikat — yang oleh sebagian pihak dianggap merugikan pandangan ilmuwan AS. Namun sepanjang 20 tahun terakhir, tak pernah ada upaya serius meninjau ulang keputusan ini lewat forum resmi IAU.

Mengapa Pluto Tak Lagi Dianggap Planet

Tata surya menyimpan begitu banyak asteroid dan objek Sabuk Kuiper yang mustahil semuanya dimasukkan ke dalam peta atau diajarkan namanya satu per satu di sekolah. Alam semesta memang tidak punya garis tegas antara "planet" dan objek yang lebih kecil, tapi manusia tetap butuh kategori yang jelas.

Preseden ini sebenarnya bukan hal baru. Ceres sendiri sempat dianggap planet pada awal abad ke-19, sebelum akhirnya "dicoret" dari daftar karena astronom sepakat jumlah planet perlu dibatasi.

Pada 2006, belum ada objek baru yang ditemukan sebesar Pluto, sehingga sempat muncul usulan solusi sementara: menetapkan ambang batas diameter minimal 2.350 kilometer untuk objek yang mengorbit langsung Matahari agar bisa disebut planet. Namun solusi ini dianggap rapuh, karena Sabuk Kuiper dan wilayah lebih jauh diyakini masih menyimpan banyak objek berukuran lebih besar dari Pluto yang belum ditemukan.

Eris menjadi contoh nyata. Objek ini diketahui memiliki massa lebih besar dari Pluto, dan hasil pengukuran awal bahkan sempat menunjukkan diameternya juga lebih besar — meski belakangan direvisi menjadi sedikit lebih kecil. Temuan inilah yang akhirnya memaksa IAU segera mengambil keputusan. Fakta bahwa pengukuran ulang mengoreksi diameter Eris pun dianggap bukan solusi jangka panjang — alasan inilah yang membuat Profesor Michael Brown, salah satu penemu Eris, dijuluki "pembunuh Pluto".

Yang jelas, sesuatu harus dilakukan untuk mengatasi kekacauan definisi ini. Tapi mendepak Pluto dari daftar planet bukanlah satu-satunya opsi yang tersedia saat itu.

Alternatif yang Sempat Dipertimbangkan

Ilustrasi tata surya. Foto: mkarco/Shutterstock

Sejumlah definisi alternatif sebenarnya sempat diusulkan dalam sidang IAU 2006, tapi hampir semuanya tetap akan menyingkirkan Pluto dari status planet.

Salah satu opsi adalah pendekatan historis: menjadikan Pluto planet "warisan" lewat daftar tetap, ditambah kriteria baru untuk objek yang ditemukan di masa depan. Cara ini memang bisa meredam kekecewaan penggemar Pluto, tapi dianggap tidak masuk akal secara ilmiah dalam jangka panjang — terutama jika diterapkan pada sistem bintang lain di luar tata surya. Pendekatan ini pada dasarnya memberi pengecualian karena kesalahan pengukuran awal terhadap ukuran Pluto, bukan karena alasan ilmiah yang kuat.

Opsi lain adalah mengembalikan definisi awal planet, yakni tanpa syarat "membersihkan orbit". Jika ini diterapkan, Pluto akan kembali berstatus planet, sekaligus mengangkat Ceres dan Eris ke level yang sama — bahkan Charon pun ikut naik status, menjadikan sistem Pluto-Charon sebagai planet ganda. Namun masalahnya, opsi ini akan membuka pintu bagi belasan objek lain di tata surya bagian luar yang kemungkinan juga berbentuk bulat, sehingga daftar planet berpotensi terus membengkak.

Meski konsekuensinya cukup rumit, sejumlah astronom sebenarnya tak menutup kemungkinan mempertimbangkan opsi ini demi meredam polemik publik.

Hanya saja, upaya mengembalikan status Pluto lewat argumen "hak istimewa karena ditemukan lebih dulu" dinilai bukan pendekatan yang efektif untuk meyakinkan komunitas sains. Begitu pula ketika desakan datang dari pejabat yang dianggap kurang memahami substansi keilmuan di baliknya — pendekatan semacam ini justru berisiko kontraproduktif.

Jika Pluto memang ingin dikembalikan statusnya sebagai planet, yang dibutuhkan bukan sekadar dukungan emosional, melainkan definisi ilmiah baru yang benar-benar bisa mengakomodasi Pluto tanpa mengorbankan logika keilmuan itu sendiri.