Kisah Tragis Penjelajah Tewas Terjebak 27 Jam di ‘Lubang Kelahiran’ Mematikan
·waktu baca 5 menit

Di sebuah tempat di dekat Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat, terdapat labirin terowongan bawah tanah yang luas dan telah ditutup rapat selama 15 tahun. Meski luas, labirin tersebut memiliki ruang yang sempit, dan dahulu kala pernah menjadi tempat favorit penjelajah gua yang menyukai tantangan.
Labirin itu adalah Gua Nutty Putty. Kini dia telah menjadi makam bagi seorang penjelajah bernama John Edward Jones yang terjebak di dalamnya dan meninggal pada 2009 silam.
Dilansir All That’s Interesting, Gua Nutty Putty pertama kali didokumentasikan oleh seorang penjelajah bernama Dale Green pada 1960-an. Tak lama setelah itu, tempat tersebut menjadi terkenal, dengan ribuan orang berkunjung setiap tahunnya.
Namun, Nutty Putty ternyata cukup berbahaya untuk dijelajahi oleh orang amatir karena di dalamnya terdapat lubang yang sangat sempit. Lubang itu dijuluki dengan nama yang lumayan menyeramkan, ada yang disebut “The Helmet Eater”, “The Scout Eater”, dan “The Birth Canal”.
Jones ini menjadi salah satu penjelajah Gua Nutty Putty. Jones bukanlah seorang amatir. Dia dibesarkan menjadi petualang sejati. Bersama adiknya Josh, Jones kecil sering diajak ayahnya untuk menjelajahi gua di Utah.
Saat beranjak dewasa, tepat di usia 26 tahun ia mencoba melakukan ekspedisi ke Gua Nutty Putty bersama Josh dan beberapa saudaranya. Di umur segitu, Jones sudah menikah dan memiliki seorang putri berusia satu tahun. Dia merupakan mahasiswa kedokteran di Virginia.
Malapetaka datang saat Jones bersama Josh (23 tahun) memulai petualangan ke Gua Nutty Putty pada 24 November 2009, sekitar pukul 8 malam waktu setempat.
Jones bertekad untuk menjelajahi salah satu lorong paling terkenal di Nutty Putty, yakni The Birth Canal atau “Parit Kelahiran”, sebuah lubang sempit yang harus dijelajahi oleh spelunkers dengan sangat hati-hati.
Jones akhirnya mulai memasuki gua sempit tersebut, menelusuri lorong demi lorong. Tak lama setelah itu, dia menemukan sebuah lubang yang diyakini sebagai The Birth Canal. Jones kemudian menuju lubang kecil tersebut, terus menelusuri ruangan dengan kepala masuk terlebih dahulu, bergerak maju menggunakan pinggul, perut, dan jari-jarinya.
Beberapa menit kemudian, Jones sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan besar. Dia ternyata belum menemukan lorong The Birth Canal, tapi malah menyusup ke lubang sempit yang sebenarnya tidak memiliki jalan keluar. Di sana, Jones tidak punya ruang untuk berbalik menuju tempat sebelumnya. Dia bahkan tidak bisa bergerak mundur.
Dengan tinggi badan 1,8 meter dan berat 86 kilogram, Jones kemudian mencoba menerobos lubang kecil di depannya yang berukuran lebar 25 cm dan tinggi 45 cm atau kira-kira sebesar lubang mesin pengering pakaian. Namun tidak ada gunanya.
Jones terjebak 122 meter dari pintu masuk gua dengan kedalaman 30 meter di bawah tanah. Setiap gerak kecil Jones hanya memperburuk keadaannya. Dia tergantung tak berdaya dalam posisi terbalik pada sudut 70 derajat, sebuah posisi yang memberikan tekanan besar pada tubuhnya dan membuat upaya penyelamatan harus dilakukan sesegera mungkin.
“Saya benar-benar ingin keluar,” kata Jones saat tim penyelamat datang ke lokasi dia terjebak.
Namun, berbagai ide yang dilakukan tim untuk mengeluarkan Jones dari lubang selalu gagal, mulai dari menggunakan minyak sayur hingga memakai bahan peledak untuk menembus dinding gua, semuanya sia-sia.
Upaya penyelamatan Jones
Sebelum tim penyelamat datang, Josh adalah orang pertama yang menemukan Jones terjebak. Awalnya Josh mencoba menarik betis kakaknya, tapi tidak berhasil. Alih-alih keluar, tubuh Jones justru semakin tergelincir ke dalam lorong, terjebak lebih parah. Lengannya sekarang terjepit di bawah dadanya dan dia sama sekali tidak bisa bergerak.
Dari sini, yang bisa dilakukan Jones hanyalah berdoa. Akhirnya, Josh bergegas menuju pintu keluar gua untuk mencari bantuan. Tim penyelamat pertama yang berhasil mencapai Jones adalah seorang wanita bernama Susie Motola, pada 25 November pukul 00.30 dini hari waktu setempat.
Saat itu, Jones sudah terjebak selama tiga setengah jam. Motola memperkenalkan dirinya kepada Jones, meski yang ia lihat hanyalah sepasang sepatu lari berwarna biru tua dan hitam.
“Hai Susie, terima kasih sudah datang,” kata Jones. “Tapi aku benar-benar ingin keluar.”
Selama 24 jam berikutnya, lebih dari 100 petugas penyelamat bekerja keras untuk membebaskan John Edward Jones dari kedalaman Gua Nutty Putty. Rencana terakhir yang mereka punya adalah menggunakan sistem katrol dan tali untuk mencoba membebaskan Jones dari posisi berbahaya.
Namun menurut Shaun Roundy, salah satu tim penyelamat yang saat itu ada di lokasi, cara ini juga sulit dilakukan bahkan oleh penjelajah gua berpengalaman sekalipun. Musababnya, sebagian besar lorong memiliki ruang yang sangat sempit.
Waktu terus berjalan. Posisi Jones terjebak memberikan tekanan besar pada tubuhnya karena jantung bekerja sangat keras untuk memompa darah keluar dari otak. Tim akhirnya mencoba opsi terakhir ini, dengan menarik tubuh Jones menggunakan tali yang terhubung ke katrol.
Saat semuanya sudah siap, mereka menarik sekuat tenaga. Namun tiba-tiba dan tanpa peringatan, salah satu katrol putus. Roundy yakin katrol itu lepas akibat gesekan di dinding gua yang bertekstur tanah liat. Opsi terakhir ini gagal. Tim tidak memiliki cara lain.
27 jam Jones terjebak di sana, dia akhirnya menyerah. Jones meninggal dunia akibat serangan jantung, pada malam 25 November 2009. Keluarganya pasrah dan berterima kasih kepada tim penyelamat atas bantuan mereka meski nyawa Jones tidak terselamatkan.
Pejabat setempat akhirnya menutup Gua Nutty Putty untuk selamanya, seminggu setelah Jones meninggal. Tidak ada lagi orang yang masuk ke dalam gua mematikan itu. Mereka juga tidak pernah menemukan jenazah Jones yang masih berada di gua sampai sekarang. Gua Nutty Putty menjadi kuburan terakhir bagi sang penjelajah John Edward Jones.
