Kucing Merah Kalimantan Muncul di TN Kayan Mentarang setelah 20 Tahun Hilang
·waktu baca 3 menit

Kucing merah kalimantan (Catopuma badia) kembali muncul di Taman Nasional Kayan Mentarang, Kalimantan Utara, setelah dua dekade menghilang. Keberadaannya terekam kamera pengintai yang dipasang di salah satu area hutan TN Kayan Mentarang.
Video yang diunggah akun resmi Instagram Balai TNKM memperlihatkan hewan langka tersebut berjalan cepat di atas batang kayu tumbang. Tubuhnya ramping, berwarna coklat kemerahan dengan ekor panjang menjuntai.
Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito, menjelaskan temuan ini diperoleh dari pemasangan kamera pengintai yang dipasang oleh petugas TNKM pada 2023 dan berhasil diunduh datanya setahun kemudian. Sementara kucing merah kalimantan terakhir kali terlihat di wilayah tersebut pada 2003 lalu, alias lebih dari 20 tahun.
“Ini ditemukan melalui camera trap, yang terakhir terlihat tahun 2003,” kata Seno, mengutip Antara.
Menurut Septian Adi Nugroho, petugas urusan teknis Balai TNKM, camera trap dipasang oleh dua petugas TN, yakni Josua Wandry Nababan dan Novaldo Markus, di area yang telah dipantau sejak 2021.
Kemunculan Catopuma badia di hadapan kamera menjadi bukti langka atas eksistensi spesies yang telah lama hilang dari pengamatan. Sebelumnya satwa ini hanya tercatat dua kali dalam sejarah, yakni oleh naturalis Prancis Pierre Pfeffer pada 1957 dan WWF bersama peneliti Dave Augeri pada 2003.
Mengenal spesies misterius kucing merah kalimantan
Kucing merah kalimantan dikenal sebagai salah satu spesies kucing liar paling sulit dipelajari di dunia. Selama ini, deskripsi ilmiah tentang kucing merah kalimantan didasarkan pada sedikit spesimen kulit dan kerangka yang ditemukan sejak akhir 1800-an, serta satu sampel darah dari satu individu yang tertangkap di perbatasan Sarawak dan Indonesia pada 1992.
Buku Wild Cats yang diterbitkan IUCN mendeskripsikan Catopuma badia memiliki dua variasi warna, abu-abu dan merah, dengan warna merah biasanya lebih umum pada kucing tersebut. Panjang tubuh kucing ini sekitar 53 cm, sedangkan ekornya bisa mencapai 39 cm atau 73 persen dari total panjang tubuhnya.
Secara morfologi, kucing merah menyerupai kucing emas Asia (Catopuma temminckii), namun berbeda distribusinya. Kucing emas ditemukan di Sumatera dan Asia Tenggara, sementara kucing merah hanya ada di Kalimantan dan telah berevolusi secara terpisah sejak 3,16 juta tahun lalu.
Catatan sejarah dan penelitian terbaru menunjukkan kucing merah lebih banyak ditemukan di wilayah berhutan dekat sungai, termasuk Sarawak, Sabah, dan Kalimantan. Hewan ini tak pernah ditemukan di hutan gambut atau perkebunan sawit, sehingga konektivitas habitatnya semakin terancam oleh fragmentasi dan deforestasi.
Kucing merah kalimantan masuk dalam kategori spesies terancam punah di Daftar Merah IUCN. Populasinya di alam liar diperkirakan hanya sekitar 2.500 individu, dan habitatnya terus menyusut menyisakan satu pertiga saja sejak 2010. Kepadatan populasinya juga tergolong sangat rendah, yakni sekitar satu individu per 100 kilometer persegi.
Selain kehilangan habitat, perburuan dan pembunuhan oleh warga mengancam populasi satwa langka ini. Kucing merah diburu karena dianggap sering memangsa ternak warga, sedangkan dagingnya kerap dikonsumsi warga lokal. Jerat yang dipasang di hutan juga menjadi ancaman tambahan bagi spesies yang populasinya sangat kecil ini.
Upaya konservasi
Karena sangat bergantung pada hutan hujan yang alami, kucing merah dianggap sebagai bioindikator penting bagi kelestarian hutan tropis Kalimantan. Keberadaannya mencerminkan kualitas ekosistem hutan yang baik, serta pentingnya menjaga kawasan lindung dari deforestasi dan pembangunan infrastruktur yang tak ramah lingkungan.
Para peneliti dan konservasionis menyerukan pentingnya kajian lebih lanjut mengenai perilaku, ekologi, dan distribusi spesies ini. Langkah konservasi jangka panjang meliputi peningkatan perlindungan kawasan hutan, edukasi masyarakat lokal, dan pengendalian perburuan liar.
“Kucing merah membutuhkan wilayah luas yang terhubung dan habitat yang relatif utuh untuk bertahan hidup,” ujar Oliver Wearn, ahli biologi dan konsultan konservasi.
Kemunculan spesies endemik yang hanya bisa ditemukan di pulau Kalimantan ini semakin mempertegas pentingnya upaya konservasi di kawasan dengan luas 1,27 juta hektare.
