kumparan
28 Januari 2019 7:04

Lagi, Misionaris AS Ketahuan Masuk Wilayah Suku Terasing secara Ilegal

Ilustrasi Suku Terasing
Ilustrasi Suku Terasing (Foto: Pixabay)
Hanya berselang dua bulan setelah kematin John Allen Chau saat mengunjungi Pulau Sentinel Utara pada 17 November lalu, seorang misionaris asal Amerika Serikat lainnya juga ketahuan telah memasuki wilayah yang dihuni oleh suku terasing lain di Brasil.
ADVERTISEMENT
Nama misionaris itu adalah Steve Campbell. Dia adalah misionaris Kristen dari Maine, AS.
Pada 21 Januari lalu Survival International, organisasi yang berfokus memperjuangkan hak-hak untuk masyarakat adat dan masyarakat terasing, melaporkan bahwa misionaris tersebut tertangkap basah telah masuk secara ilegal ke sebuah area hutan tropis di Brasil yang ditinggali oleh suku Hi-Merimã, salah satu suku terasing yang masih tersisa di dunia.
Pria itu dilaporkan telah ditangkap dan diinterogasi oleh FUNAI, departemen urusan pribumi Brasil. FUNAI mengatakan pria tersebut bisa berada dalam masalah serius jika terbukti bersalah.
"Jika ditetapkan dalam penyelidikan bahwa ada maksud untuk melakukan kontak (dengan suku terasing)... ia dapat dituntut atas kejahatan genosida karena secara sengaja mengekspos keselamatan dan kehidupan Hi-Merimã," kata Bruno Pereira, koordinator umum di FUNAI, kepada Folha de S.Paulo, surat kabar harian di Brasil.
ADVERTISEMENT
Mengenal Suku Hi-Merimã
Suku Hi-Merimã dilaporkan hidup di sepanjang pinggir Sungai Piranhas di negara bagian Amazonas. Selama ini mereka mempertahankan tradisi untuk membatasi kontak dengan orang asing, termasuk suku tetangga.
Seperti semua suku terasing lainnya yang memiliki sedikit atau bahkan tak memiliki kontak dengan dunia luar, sebagaimana dikutip dari IFL Science, mereka tidak memiliki kesempatan untuk membangun sistem kekebalan tubuh terhadap banyak penyakit yang muncul di dunia. Dalam hal ini misalnya adalah dengan menerima vaksin.
Suku Hi-Merimã di Brasil
Suku Hi-Merimã di Brasil (Foto: G. Miranda/FUNAI/Survival, 2008)
Dengan kondisi seperti ini, secara teori, flu biasa pun bisa memusnahkan suku Hi-Merimã.
"Bahkan jika kontak langsung belum terjadi (antara misionaris AS dengan suku Hi-Merimã), kemungkinan penularan penyakit ke mereka yang terasing pun tinggi," kata juru bicara FUNAI kepada Reuters.
ADVERTISEMENT
Tidak jelas berapa banyak anggota suku Hi-Merimã yang kini masih tersisa. Namun estimasi terakhir pada 1943 menyebutkan bahwa jumlah mereka masih ada hingga 1.000 orang.
Alasan Steve Campbell dan Ancaman Lain yang Lebih Berbahaya
Saat diinterogasi, Campbell membela diri dengan mengatakan bahwa memasuki area yang dihuni suku Hi-Merimã adalah satu-satunya cara baginya untuk sampai ke tempat tujuannya, yakni sebuah rumah di suku tetangga yang disebut Jamamadi. Dia mengaku telah tinggal di wilayah suku Jamamadi selama puluhan tahun.
Sampai saat ini belum bisa dipastikan apakah Campbell telah melakukan kontak dengan anggota suku Hi-Merimã atau belum. Namun begitu, dia telah berjanji tak akan memasuki wilayah suku Hi-Merimã lagi.
Apa yang dilakukan Campbell jelas bisa berbahaya bagi suku Hi-Merimã. Namun apa yang dinyatakan oleh Jair Bolsonaro, presiden baru Brasil yang telah dilantik pada 1 Januari 2019, bisa menjadi ancaman lain yang jauh lebih berbahaya.
Presiden Brasil Jair Bolsonaro
Presiden Brasil Jair Bolsonaro. (Foto: AFP/NELSON ALMEIDA)
Bolsonaro pernah berkata, “Jika saya menjadi Presiden, tidak akan ada lagi satu sentimeter tanah adat.” Dia menolak hak-hak adat dan menganggapnya sebagai sebagai "omong kosong" yang menghalangi usaha pertambangan dan agribisnis.
ADVERTISEMENT
Pada 2015 lalu, saat berbicara kepada Campo Grande News, Bolsonaro mengatakan hal yang merendahkan suku Indian.
"Orang Indian tidak berbicara dengan bahasa kita, mereka tidak punya uang, mereka tidak punya budaya. Mereka adalah orang pribumi. Bagaimana mereka bisa memiliki 13 persen dari wilayah nasional?" kata pria yang tiga tahun kemudian, yakni sekarang, telah resmi menjadi Presiden Brasil itu.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan