Kumparan Logo

Lucinta Luna Alami Cyberbullying, Begini Dampak Psikologisnya Menurut Ahli

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lucinta Luna. Foto: Munady Widjaja
zoom-in-whitePerbesar
Lucinta Luna. Foto: Munady Widjaja

Selebgram Lucinta Luna tengah menjadi perbincangan publik, menghiasi berbagai media pemberitaan. Bukan karena tingkahnya yang sering menuai kontroversi, kali ini dia harus mendekam di penjara lantaran terlibat kasus penyalahgunaan zat psikotropika jenis Benzo.

Lucinta dengan 4 orang lainnya diciduk Satuan Narkoba Polres Metro Jakarta Barat di Apartemen Thamrin City pada Selasa (11/2) pagi. Saat dilakukan penggeledahan polisi menemukan barang bukti berupa dua jenis obat di dalam tas Lucinta Luna.

Belakangan kuasa hukum Lucinta, Milano Luis, membeberkan motif kliennya mengonsumsi obat-obatan jenis benzodiazepine. Ini tak lain karena Lucinta Luna mengalami depresi akibat sering menerima bully-an dari netizen di media sosial.

Adapun dalam video yang beredar, Lucinta terlihat tengah depresi dengan mata melotot dan menggeram seperti orang mengamuk. Video itu diambil di Yogyakarta saat Lucinta hendak bunuh diri dan ia tidak mengonsumsi obat-obatan tersebut.

Milano mengatakan, kala itu Lucinta depresi lantaran unggahan oknum selebgram memasang foto ibundanya yang sudah meninggal dengan keterangan foto yang cukup pedas. Terlepas dari itu semua, cyberbullying memang bisa berdampak buruk pada psikologis seseorang.

Penyanyi dangdut, Lucinta Luna. Foto: Munady Widjaja

Menurut Yanuar Fahrizal, Dosen Departemen Keperawatan Jiwa PSIK FKIK Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), jika tidak ditangani dengan benar, korban cyberbullying bisa berujung pada bunuh diri.

Lantaran dilakukan di dunia maya, pelaku tidak bisa bertemu korban, hal ini yang menjadi peluang seseorang melakukan cyberbullying. Padahal bisa saja saat itu pelaku menuliskan makian atau cacian yang bagi dia biasa saja namun berdampak luar biasa bagi korban

"Misalnya di Instagram, artis Korea kesehariannya dia artis, dia punya haters. Ketika ada haters, ketika seseorang dibenci, dan dibully, dia tidak punya ketahanan psikologis yang baik, maka dia akan rentan depresi," ucapnya pada November 2019.

Dijelaskan lebih rinci dalam makalah berjudul “Dampak Psikologis Wanita Karir Korban Cyber Bullying” yang ditulis oleh Vera Imanti, Dosen Psikologi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta, cyberbullying sendiri diartikan sebagai perilaku agresif yang disengaja dan berulang dengan tujuan melecehkan atau menyakiti korban melalui perangkat teknologi.

Cyberbullying meliputi 7 aspek, yakni flaming, harassment, denigration, impersonation, outing and trickery, exclusion, dan cyberstalking. Secara garis besar, ketujuh aspek tersebut dapat diartikan sebagai perilaku seseorang dalam mengintimidasi korbannya, mulai dari mengirim pesan dengan kata-kata kasar di media sosial, menyebarkan gambar-gambar untuk merusak nama baik dan reputasi korban, hingga memberi ancaman terhadap korban dengan menggunakan media elektronik.

Marak Cyberbullying pada Artis Foto: infografik:Putri Sarah Arifira/kumparan

Ketika semua itu menimpa seseorang, maka korban cyberbullying akan mengalami beberapa gejala, salah satunya adalah stres yang berkaitan dengan sikap, perilaku kognitif, dan kesehatan fisik. Setidaknya ada tiga gejala stres yang akan dialami korban bullying.

Pertama adalah gejala fisiologis. Gejalanya ditandai dalam bentuk keluhan fisik atau gangguan fisik. Saat seseorang mengalaminya, ia akan merasakan sakit di bagian-bagian tertentu, seperti kepala, perut, kulit, sesak napas, dan lain-lain. Namun ketika ditinjau secara medis, orang tersebut tidak mengalami gangguan fisik akibat virus atau bakteri.

Kedua adalah gejala psikologis. Dalam ranah ini, gejala dapat dilihat dari emosi seseorang menjadi tidak stabil, cara berpikir keliru, hingga memengaruhi kondisi sosial. Emosi yang kurang stabil menyulitkan korban untuk menyesuaikan diri ketika berada dalam kondisi tertekan.

Karena penguasaan emosi yang kurang baik, maka akan mempengaruhi cara berpikir. Bisa menghambat dalam menemukan solusi, mengambil keputusan, hingga menentukan sikap.

Ilustrasi Bunuh Diri Foto: Thinkstock

Terakhir adalah gejala perilaku. Semakin tinggi tingkat stres yang dialami tanpa adanya katarsis dan pelampiasan yang tepat, maka akan memunculkan perilaku di luar kebiasaan si korban.

Perilaku ini dipengaruhi oleh kondisi psikologis, seperti emosi, cara berfikir, juga kondisi sosialnya. Orang yang mengalaminya akan memunculkan perilaku emosi yang kurang stabil, mudah marah, mudah putus asa, menarik diri dari lingkungan, berpikir negatif, produktivitas menurun, konsentrasi menurun, serta motivasi yang rendah.

Ketika gejala-gejala itu mulai dialami seseorang, dan dibiarkan begitu saja, maka bisa berakibat fatal, apalagi saat korban tidak memiliki dukungan dari orang-orang terdekatnya. Dan skenario terburuknya adalah bunuh diri.

Dalam hal ini, menurut perawat Rumah Sakit Jiwa Prof Dr Soerojo Magelang, Abdul Jalil, kunci pencegahan bunuh diri yang paling efektif adalah pendekatan dari keluarga.

"Penangan pencegahan bunuh diri ke community base atau family base. Jangan sampai tiga hari dari rumah sakit, pasien ada keinginan bunuh diri lagi,” katanya pada November 2019 lalu.

kumparan post embed