Kumparan Logo

Memahami Peran Penting Teknologi pada Deteksi Dini Penyakit

kumparanSAINSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi deteksi dini kanker. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi deteksi dini kanker. Foto: Shutter Stock

Deteksi dini penyakit menjadi poin terpenting agar masyarakat senantiasa sehat dan optimal dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Akan pentingnya deteksi dini ini, teknologi turut memegang andil, termasuk pada pengembangan lingkup wisata kesehatan.

Salah satu penerapan teknologi bagi wisata kesehatan dan deteksi dini adalah implementasi 'Modern Imaging in Cancer', yang secara umum merupakan perkembangan teknologi untuk mengetahui, mengenal, dan mengobati penyakit kanker melalui teknologi MRI, PET, CT hingga teknologi sebelumnya melalui X Ray.

Pemanfaatan teknologi ini dijelaskan dr. Hapsari Indrawati Sp.KN(K) , dokter spesialis Kedokteran Nuklir dan Konsultan dari Rumah Sakit Siloam Semanggi/MRCCC pada 'Indonesia Wellness&Health Tourism Expo 2022.

"Data menunjukkan peningkatan signifikan penderita kanker di seluruh dunia. Untuk pria, 'Kanker Prostat' dan untuk wanita 'Kanker Payudara' masih dengan presentasi tertinggi. Ketahuilah, ada keunikan tersendiri pada setiap kanker ( sifatnya), layaknya sidik jari pada manusia," jelasnya.

"Dalam pemeriksaan, terapi, menentukan hasil adalah 'keharusan' yang pada perawatan pasien kanker pasti akan melibatkan tim seperti kemoterapi,( sering berefek samping), Radiasi bahkan Pembedahan( operasi)," tutur dr. Hapsari.

Ilustrasi Pengobatan Kemoterapi. Foto: Brian A. Jackson/Shutterstock

Dokter Hapsari menjelaskan, dalam mendiagnosis kanker radiologi atau untuk mendapatkan 'bentuk', telah ada penyempurnaan dengan teknologi dalam menganalisis lebih pada gambar.

"Ada penerapan zat radioaktif atau energi radiasi terbuka dari inti nuklir dalam menilai/analisa fungsi, mendiagnosis dan pengobatan penyakit dengan pemindaian," ungkapnya.

"Sebagai ilustrasi, buah manggis yang bentuknya tidak baik dari luar namun ternyata memiliki buah (di dalam) yang putih bersih dan manis, demikian sebaliknya buah apel yang terlihat bagus bentuknya sering masam dan lainnya. Dapat disimpulkan ada 'kekurangan' dengan hanya melihat bentuk," imbuhnya.

Adapun dalam pemindaian partikel nuklir dikenal dengan hasil CT yang akan mendapatkan bentuk, dan PET yang akan menganalisis fungsi, serta PETCT yang akan menggabungkan gambar bentuk dan fungsi yang pada keseluruhan, guna menegakkan diagnosis terbaik.

dr Hapsari menjelaskan MRCCC Siloam Hospital Semanggi sebagai rumah sakit swasta pertama di Indonesia, memiliki fasilitas kedokteran nuklir.

Deteksi Dini Melalui Wisata Kesehatan

Ilustrasi kesehatan dan penyakit. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Sementara itu, dr. Pectra Wahjoepramono Sp.BS, B.med.Sci(Hons)F.I.C.S, dari Siloam Hospitals Lippo Village mengingatkan kembali pentingnya deteksi dini kesehatan sebagai bentuk pencegahan penyakit.

"Deteksi dini tentu menentukan langkah pencegahan. Deteksi dini termasuk melengkapi perjalanan wisata pun sebagai antisipasi yang akan erat kaitannya dengan perawatan, pengobatan bahkan tingkat kesembuhan," bebernya.

"Sebagai contoh, Aneurisma (aneurysm) yang adalah suatu area yang membengkak dan lemah pada otak dan 'kelainan' pada otak ini ( data) didapati pada 5% manusia. Aneurisma jika pecah dapat menyebabkan pendarahan internal, stroke dan fatalnya sering berujung pada kematian," tuturnya.

Menurutnya, dalam memastikan pentingnya organ Otak dan Jantung, saat ini telah terdapat layanan 'Brain Check Up Plus'. Siloam Hospitals pun menyediakan layanan tersebut dalam wisata kesehatan.

Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis Jantung Pembuluh Darah, I Made Sakta Suryaguna, menjelaskan mengenai Sport Cardiologi. Masalah ini perlu dipahami masyarakat karena berkaitan dengan aktivitas yang kerap dilakukan masyarakat, seperti berolahraga.

"Pada saat beraktifitas fisik atau juga berolahraga, tubuh, badan dan organ manusia akan merespons dengan dua kemungkinan, respons adaptif dan respons maladaptif," tutur Made Sakta.

Ilustrasi olahraga bersepeda. Foto: Shutterstock

Respons adaptif yaitu dimensi jantung akan lebih besar, pompa darah dan 'kelistrikan' jantung meningkat dan sejumlah pembuluh darah mengakomodasi peningkatan aktivitas yang tentunya risiko serangan jantung menjadi rendah.

Sementara, respons maladaptif terjadi karena aktivitas yang berlebihan, jenis olahraga yang tidak cocok dan kemungkinan mengidap penyakit yang berisiko.

Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan aliran dan tekanan darah atau bahkan kejadian henti jantung mendadak yang dapat disebabkan oleh genetik, gangguan katup atau lain sebagainya.

"Tentu suatu hal penting, melakukan pemeriksaan berkala sebelum kita beraktifitas fisik," imbuh dr Made Sakta.

Ia meminta setiap masyarakat hendaknya dapat memahami 'Do&Dont' pada sejumlah faktor risiko, yang dapat diubah atau dimodifikasi, maupun yang tidak dapat diubah seperti gender dan genetik.

"Namun sesuatu yang penting dan dapat diubah, adalah kurang beraktifitas, rasa malas sebagai pencetus keluhan," pungkasnya