Memahami PM 2,5 dan PM 10 yang Jadi Indikator Tingkat Polusi Udara

26 Juni 2019 13:16 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi polusi Jakarta. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi polusi Jakarta. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
ADVERTISEMENT
Kondisi udara Jakarta semakin parah. Pada Selasa (25/6) lalu, ibu kota Indonesia ini menjadi kota dengan tingkat polusi udara terburuk di dunia.
ADVERTISEMENT
Menurut data AirVisual, nilai air quality index (AQI) Jakarta mencapai 240. Angka itu diolah AirVisual dari data yang didapat dari tujuh alat pengukur kualitas udara yang tersebar di DKI Jakarta.
Nilai AQI berdasarkan enam jenis polutan utama, mulai dari PM 2,5, PM 10, karbon monoksida, asam belerang, nitrogen dioksida, hingga ozon permukaan tanah.
Yang paling disorot adalah PM 2,5 dan PM 10. Lantas, apa itu PM 2,5 dan PM 10? Berikut penjelasannya.
Tingkat polusi udara di sejumlah titik di Jakarta. Foto: AirVisual
Particulate Matter (PM) 2,5 adalah partikel halus di udara yang ukurannya 2,5 mikron atau lebih kecil dari itu. Menurut penjelasan Departement of Health New York, AS, PM 2,5 bisa mengurangi jarak pandang dan terlihat agak berkabut ketika jumlahnya tinggi.
ADVERTISEMENT
Sedagkan PM 10 adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 10 mikron, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
PM 2,5 memiliki lebar sekitar 2 sampai 1,5 mikron. Ukurannya ini membuatnya 30 kali lebih kecil dibanding lebar rambut manusia. PM 10 ukurannya bisa lebih besar, tapi risiko bahayanya sama.
Saking halusnya, organisasi pecinta lingkungan Greenpeace Indonesia menyarankan masyarakat tidak menggunakan masker biasa. Mereka diminta memakai masker N95, karena mampu menyaring partikel asap berukuran kecil di bawah PM 10.
Masker N95. Foto: 3M
Ukuran PM 2,5 membuatnya bisa masuk hingga ke dalam paru-paru. Paparan PM 2,5 dalam waktu sebentar saja sudah cukup untuk menyebabkan masalah pada mata, hidung, tenggorokan, iritasi paru, batuk, bersin, pilek, dan napas pendek.
ADVERTISEMENT
PM 2,5 juga dapat mengganggu fungsi paru dan memperburuk penyakit asma dan jantung. Sebuah riset yang dipublikasikan di The Journal of Investigative Medicine mengungkap, PM 2,5 meningkatkan risiko kanker mulut.
Beberapa riset lain juga menunjukkan sejumlah kondisi kesehatan akibat PM 2,5, mulai dari bronkitis (radang cabang tenggorok) kronis dan kanker paru.
PM 2,5 berasal dari banyak sumber. Di luar ruangan, sumbernya berasal dari asap mobil, truk, dan bus. Segala sesuatu yang melibatkan pembakaran bahan bakar, seperti kayu dan minyak, adalah sumber dari PM 2,5. Kebakaran hutan dan rumput juga menjadi sumber PM 2,5 ini.
Partikel halus ini juga bisa terbentuk akibat reaksi gas atau air di atmosfer dengan senyawa dari pembangkit listrik. Reaksi kimia ini dapat terjadi jauh dari sumber emisi. Bahkan, kejadian seperti erupsi gunung berapi juga bisa meningkatkan konsentrasi PM 2,5.
ADVERTISEMENT
Sedangkan di dalam ruangan, PM 2,5 bisa ditemukan dari rokok, memasak, membakar lilin, atau penggunaan pemanas berbahan bakar.
Batas ambang aman paparan PM 2,5 dan PM 10
Pada 1987, Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) membuat buku petunjuk mengenai kualitas udara pertamanya bernama air quality guidelines (AQGs). Sejak saat itu, informasi di dalam buku terus diperbarui.
Ilustrasi Orang Pakai Masker. Foto: AFP/JEWEL SAMAD
Edisi terakhir AQGs mengenai polutan udara terbit pada 2006 lalu. Di dalamnya ada batas ambang aman PM 2,5 dan PM 10. Menurut WHO, ambang batas aman paparan PM 2,5 dalam durasi waktu 24 jam adalah 25 mikrogram/m3. Sedangkan paparan PM 10 adalah 50 mikrogram/m3.
Sementara itu, Indonesia memiliki ambang batas paparan PM 2,5 adalah 65 mikrogram/m3. Menurut organisasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi, nilai ini tiga kali lipat lebih lemah daripada WHO.
ADVERTISEMENT
Amerika Serikat juga memiliki ambang batas paparan PM 2,5 yang berbeda dengan WHO. Menurut data dari AirVisual, di AS ambang batas paparan PM 2,5 yang baik adalah 12 mikrogram/m3, sedangkan untuk tingkat sedang adalah antara 13-35 mikrogram/m3. Sementara untuk tingkat tidak sehat adalah antara 56-150 mikrogram/m3.