kumparan
Tekno & Sains21 Maret 2018 14:08

Mengapa Uji Coba Obat-obatan Dilakukan pada Hewan?

Konten Redaksi kumparan
Ilustrasi hewan percobaan di laboratorium.
Ilustrasi hewan percobaan di laboratorium. (Foto: tiburi via pixabay)
Sebelum diproduksi secara massal ataupun diujicobakan pada manusia, beberapa jenis obat terlebih dahulu diujicobakan pada hewan. Hewan yang biasa menjadi objek percobaan obat-obatan antara lain adalah hewan pengerat seperti tikus dan hewan primata seperti monyet ekor panjang ataupun beruk.
ADVERTISEMENT
Meski mungkin terdengar sadis dan tega karena menjadikan hewan-hewan tersebut sebagai objek percobaaan, peneliti senior dan biosafety officer di Pusat Studi Satwa Primata-Institut Pertanian Bogor (PSSP-IPB), Dr. Diah Iskandriati, mengatakan sampai saat ini uji coba medis terhadap hewan masih sangat perlu dan penting dilakukan.
Ia mengatakan, sebagian besar penelitian terkait obat dan vaksin di tahap akhir (final stage) tetap harus dilakukan pada hewan.
Seminar PSSP IPB
Dr. Diah Iskandriati. (Foto: PSSP-IPB)
“Karena memang hewan memiliki kemiripan dengan manusia. Terutama mamalia, terutama lagi satwa primata (yang) secara fisiologi, anatomi, immune system masih menyerupai manusia yang tidak bisa digantikan dengan alternatif lain,” kata Atie, panggilan dari Diah Iskandariati, saat diwawancarai kumparanSAINS di kantor pusat PSSP-IPB, Selasa (20/3).
Sampai saat ini, PSSP-IPB sendiri sudah melakukan kerja sama dengan berbagai instansi baik di dalam maupun di luar negeri untuk penelitian biomedis, seperti penelitian untuk obat dan vaksin terkait demam berdarah, AIDS, malaria, obesitas, asma, dan lain-lain.
ADVERTISEMENT
Laboratorium Hewan PSSP-IPB sendiri sudah mendapatkan akreditasi dari Association for Assessment and Accreditation of Laboratory Animal Care (AAALAC) International pada tahun 2006. Hal ini menunjukkan PSSP-IPB telah menerapkan standar tertinggi untuk hewan uji coba.
7 Jenis Primata yang Bisa Jadi Model Percobaan
Monyet Zhong Zhong dan Hua Hua
Monyet Zhong Zhong dan Hua Hua (Foto: Reuters/Third Party)
Untuk satwa primata, Atie menjelaskan, ada tujuh jenis satwa primata yang bisa digunakan untuk menjadi hewan model bagi penelitian biomedis.
Macaca fascicularis (monyet ekor panjang), Macaca nemestrina (beruk) itu ada di Indonesia, kemudian Macaca mulata (monyet rhesus) ada di India dan China, kemudian di Afrika ada babon dan monyet hijau Afrika, kemudian di Amerika Selatan dan Tengah ada common marmoset dan squirrel monkey,” rinci Atie.
Ada Aturan Penggunaan Hewan sebagai Model Penelitian
Ilustrasi penelitian
Ilustrasi penelitian. (Foto: Pixabay)
Penggunaan hewan untuk penelitian tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Pertama, berdasarkan SK Menhut 26/Kpts/1994, hewan untuk penelitian tidak boleh diambil dari alam.
ADVERTISEMENT
“Memang yang diperbolehkan untuk penelitian dan ekspor itu anakan. Jadi prosesnya tidak bisa sembarangan yang dari hutan kita tangkap dan digunakan untuk penelitian. Karena mereka juga masih membawa virus yang nantinya mengacaukan penelitian.”
Selain itu, penggunaan hewan uji coba pun harus tunduk kepada kode etik yang menjamin kesejahteraan hewan yang akan digunakan dalam penelitian.
“Kita harus memperlakukan (hewan) secara moral. Ada etika moralnya.”
Monyet di Sacred Monkey Forest Sanctuary
Monyet di Sacred Monkey Forest Sanctuary (Foto: Flickr/Annie Mole)
Karena itu, bagi para peneliti yang ingin menggunakan hewan sebagai model eksperimen, mereka harus melewati berbagai tahap pemeriksaan sebelum akhirnya bisa melakukan eksperimen untuk penelitian tersebut.
Sebelum diperbolehkan menggunakan hewan sebagai model penelitian, para peneliti harus terlebih dahulu menyerahkan proposal penelitian. Proposal tersebut kemudian dibicarakan oleh tim komisi etik kesejahteraan hewan untuk melihat apakah penelitian yang akan dilakukan itu memenuhi standar kode etik atau tidak. Tugas komisi etik kesejahteraan hewan sendiri memang adalah mengawasi jalannya penelitian yang menggunakan hewan.
ADVERTISEMENT
Tim tersebut akan mengulas apakah di dalam percobaan para peneliti akan memperlakukan hewan itu dengan manusiawi atau tidak. Perlu dipastikan pula agar hewan-hewan yang digunakan tidak disakiti atau disiksa, masih bisa mengekspresikan tingkah laku alami mereka, tidak kekurangan makan dan minum, dan cukup tempat bergerak.
“Jadi meskipun untuk penelitian, mereka (hewan-hewan) harus dibuat sedemikian rupa agar tidak stres,” tegas Atie.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan