Kumparan Logo

Mengenal Sel Dendritik, Basis Vaksin Nusantara yang Digagas Terawan

kumparanSAINSverified-green

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi vaksin Bacillus Calmette Guerin (BCG). Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi vaksin Bacillus Calmette Guerin (BCG). Foto: Shutter Stock

Mantan Menteri Kesehatan (Menkes), Terawan Agus Putranto, saat ini tengah meninjau uji klinis fase II vaksin COVID-19 Nusantara yang dilakukan di RSUP dr. Kariadi, Semarang.

Vaksin ini dikembangkan oleh PT Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma) bersama AIVITA Biomedical asal Amerika Serikat, Universitas Diponegoro (Undip), dan juga RSUP Dr. Kariadi.

Terawan mengatakan, vaksin COVID-19 Nusantara berbasis personalized atau dikenal dengan istilah dendritic cells vaccines (sel dendritik). Sel dendritik merupakan sel imun yang menjadi bagian dari sistem imun. Satu vaksin hanya diperuntukkan pada satu orang atau bersifat personalisasi. Dengan demikian, vaksin ini diyakini aman bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta (komorbid).

Terawan mengatakan, pengembangbiakan vaksin COVID-19 dengan sel dendritik akan terbentuk antigen khusus, kemudian membentuk antibodi. Dalam uji klinis tahap I vaksin Nusantara yang melibatkan 30 relawan, ia mengeklaim hasilnya memuaskan.

"Uji klinis I yang selesai dengan hasil baik, imunitas baik dan hasil safety (baik). Kan uji klinis I mengontrol safety dari pasien. Dari 30 pasien, imunogenitasnya baik," jelas dia.

Terawan optimistis vaksin ini mampu secara personalisasi menanamkan kekebalan ke seseorang. Termasuk untuk mereka yang memiliki penyakit komorbid tertentu.

Terawan Agus Putranto saat meninjau persiapan uji klinis fase II vaksin Nusantara di RSUP dr. Kariadi Semarang. Foto: Dok. Istimewa

"Ketika kami dapat amanah mencari vaksin yang aman untuk komorbid. Komorbid itu kan berbagai macam, termasuk autoimun dan sebagainya. Tentunya konsep generalized harus diubah menjadi personalized vaccination," bebernya.

Meski vaksin bersifat personalisasi, tapi tetap bisa diproduksi massal. "Jadi orang pikir tidak bisa produk massal. (Tapi ini) Bahkan sebulan bisa 10 juta (dosis), bisa dilakukan. Ini buatan Indonesia, jadi kita bisa sejajar dengan negara lain," kata Terawan.

Apa itu sel dendritik?

Dijelaskan oleh dr. Dito Anurogo, staf pendidik di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar, sel dendritik adalah sel sistem imun spasial berbentuk mirip bintang yang bisa dijumpai di jaringan seperti kulit. Sel dendritik dapat meningkatkan respons imun melalui antigen di permukaan ke sel lain pada sistem imun serta bertindak sebagai penyusun atau pengatur antigen yang berada di sel-sel lain.

Sel dendritik juga dapat dijumpai di hidung, paru-paru, saluran pencernaan, serta kulit. Di kulit, sel dendritik disebut sebagai sel Langerhans. Pertama kali dideskripsikan oleh Ralph Steinman pada tahun 1973, ketika ia sedang menyelesaikan pendidikan post-doktoral di laboratorium Zanvil A Cohn.

Steinman menemukan sel dendritik di limpa dan kemudian mengetahui bahwa sel-sel ini dapat ditemukan di semua jaringan limfoid dan non-limfoid. Di tahun 2011, ia dianugerahi hadiah Nobel di bidang Fisiologi-Kedokteran.

Ilustrasi vaksin corona. Foto: Shutterstock

Sel dendritik sendiri berasal dari sel punca hematopoietik CD34+ di sumsum tulang, terdiri atas kumpulan subset yang berbeda secara perkembangan dan fungsional yang mengatur fungsi sel T. Sel dendritik dapat berperan di berbagai penyakit infeksius, kanker, dan autoimunitas.

Menurut Dito, sel dendritik dapat dikembangkan menjadi vaksin. Saat ini satu-satunya vaksin berbasis sel dendritik yang disetujui Food and Drug Administration (FDA) adalah sipuleucel-T. Vaksin ini digunakan untuk meningkatkan kelangsungan hidup pasien pengidap kanker prostat metastatik.

Sipuleucel-T berhasil meningkatkan rerata kelangsungan hidup pasien hingga empat bulan. Beberapa clinical trials menggunakan vaksinasi berbasis sel dendritik telah diujicobakan di berbagai tipe kanker, termasuk kanker payudara, melanoma metastatik, kanker prostat, kanker ginjal, dan kanker paru-paru.

Faktanya, vaksin sel dendritik yang digunakan untuk penderita kanker memiliki efek samping yang perlu diperhatikan, seperti demam, infeksi saluran pernapasan bagian atas, batuk, batuk darah, ulserasi atau luka gesek di mulut, tenggorokan, dan lidah, serta pendarahan gusi, dan epistaksis (mimisan).

Adapun vaksin berbasis sel dendritik dibuat melalui teknik rekombinan dengan mengambil sel PBMC (Peripheral Blood Mononuclear Cell) dari manusia (proses leukapheresis), dan dikembangkan di luar tubuh hingga menjadi sel dendritik matang, kemudian diubah menjadi vaksin COVID-19 dan disuntikkan kembali ke manusia untuk membentuk kekebalan tubuh.