Mengenal Tanaman Porang: Kaya Manfaat, Punya Harga Jual Tinggi

Habis janda bolong, terbitlah tanaman porang. Belakangan, tanaman porang tengah menjadi primadona di kalangan masyarakat Indonesia. Bukan tanpa alasan, konon tanaman ini kaya manfaat dan punya harga jual tinggi. Tapi, benarkah begitu?
Dijelaskan dalam makalah yang diterbitkan litbang pertanian, porang (Amorphophallus muelleri Blume) adalah salah satu tumbuhan lokal Indonesia yang banyak tersebar di Pulau Jawa. Porang termasuk tanaman iles-iles, merupakan tanaman umbi-umbian dalam famili Areaceae dan umumnya tumbuh liar di bawah tegakan tanaman lain seperti Jati, mahoni, sonokeling dan sengon.
Umbi porang juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena mengandung glukomanan yang baik untuk kesehatan dan dapat dengan mudah diolah menjadi bahan pangan serta industri farmasi seperti kosmetik, kertas, tekstil, karet sintetis dan banyak lagi. Karena kaya karbohidrat, porang juga bagus diolah untuk makanan bayi.
Ada beberapa jenis porang yang sering dijumpai di Indonesia, yakni A. campanulatus, A. variabilis, dan A. oncophyllus. Jenis tanaman porang yang banyak ditanam masyarakat Indonesia sebagai bahan pangan adalah A. campanulatus var hortensis dan A. campanulatus var sylvestris karena umbinya banyak mengandung pati.
Sedangkan untuk tujuan ekspor, porang jenis A. oncophyllus lebih disukai karena umbinya kaya akan glukomanan. Porang biasanya diekspor ke beberapa negara di Asia, seperti Jepang, Cina, Vietnam, Australia dan lain sebagainya.
Balai Besar Karantina Belawan mencatat ekspor porang asal Provinsi Sumatera Utara (Sumut) sepanjang 2020 mencapai 861 ton dengan nilai Rp 19,1 miliar. Tanaman sejenis umbi-umbian ini diekspor ke China, Thailand, Vietnam dan Jepang.
Saat ini tanaman porang banyak dibudidayakan di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara , Kalimantan, dan Sulawesi. Meski mulai banyak dibudidayakan, namun penggunaan di dalam negeri masih terbilang sedikit. Sebaliknya, porang justru menjadi primadona di Jepang sebagai bahan olahan mie shirataki dan konyaku.
Menurut Ina Erlinawati, peneliti Botani Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) porang masih berkerabat dengan bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum) dan suweg (Amorphophallus paeniifolius). Berbeda dengan suweg dan bunga bangkai raksasa, pada percabangan tangkai daun porang mempunyai tonjolan berwarna cokelat kehitaman yang disebut bulbil.
“Warna umbi porang coklat tua dan bagian dalam kuning atau jingga. Berbeda dengan suweg mempunyai umbi berwarna putih disertai semburat warna merah jambu atau ungu,” kata Ina seperti dikutip Mongabay.
Bunga porang mempunyai tangkai yang sama panjang dengan tangkai daun, berukuran 30-60 cm. Adapun ciri khas bunga porang memiliki seludang bunga memelintir, bagian dalam merah muda dengan bercak-bercak putih dan mengeluarkan bau busuk ketika mekar.
Cara budidaya porang
Tanaman porang dapat tumbuh pada ketinggian tempat 100 hingga 1.000 mdpl, dengan tanah tekstur liat berpasir, struktur gembur, kaya akan unsur hara. Keadaan iklim yang diinginkan adalah curah hujan 2000 hingga 5000 mm per tahun.
Di Cimanggu, Bogor, dengan ketinggian 240 mdpl, curah hujan 4.442 mm per tahun, hari hujan 210,9 hari, suhu 260 derajat Celcius dan kelembaban 86 persen dengan jenis tanah Latosol tanaman iles-iles dapat tumbuh baik.
Sebelum menanam porang di kebun, sebaiknya pohon pelindung sudah ditanam terlebih dahulu karena porang memerlukan pohon pelindung. Pohon pelindung yang biasa digunakan adalah lamtoro (Leucaena glauca), sengon (Albizia falcataria), jati (Tectona grandis), karet (Hevea brasiliensis) dan jenis tanaman besar tahunan lainnya.
Cara menanamnya:
Pada lahan yang datar, buatlah guludan selebar 50 cm dengan tinggi 25 cm. Jarak antar guludan 50 cm. Sedangkan pada lahan miring, lahan tidak perlu diolah, cukup dibersihkan kemudian dibuat lubang tanam dengan ukuran jarak tanam 0,5 x 0,5 m; 1 x 1 m; 1,5 x 1,5 m.
Benih yang sehat satu per satu dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan letak bakal tunas menghadap ke atas,
Tiap lubang diisi 1 benih porang dengan jarak tanam sesuai kebutuhan,
Tutup benih dengan tanah halus/tanah olahan setebal 3 cm,
Pemeliharaan pada tanaman porang meliputi pemupukan, penyiangan, pembubunan dan perawatan tanaman pelindungnya,
Benih porang dapat diperbanyak dengan cara vegetatif dan generatif. Porang dapat dipanen setelah tanaman berumur 18 bulan, tergantung jenis tanahnya. Tanda-tanda bahwa porang siap panen adalah daunnya sudah tidak ada dan batangnya mulai kering. Satu pohon hanya menghasilkan satu umbi seberat 0,5 - 3 kg.
