Mengulik Persalinan Caesar Metode ERACS: Percepat Pemulihan dan Minim Rasa Sakit
·waktu baca 4 menit

Marak selebriti Indonesia yang melakukan proses persalinan caesar dengan metode ERACS. Menjadikan metode ERACS ini menjadi perbincangan yang hangat di tengah masyarakat dan digandrungi ibu-ibu hamil masa kini jika dibandingkan metode caesar konvensional.
Lantas seperti apa persalinan caesar ERACS itu?
Prosedur ERACS (Enhanced Recovery After Caesarean Surgery) ini merupakan pengembangan dari konsep Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) yang awalnya digunakan pada operasi bedah digestif atau operasi bedah umum.
Metode ERACS sebenarnya sudah dapat dilakukan sejak lama, tetapi baru kembali booming di masa pandemi ini. Dengan pembatasan kala pandemi, pasien tentu mengharapkan proses pemulihan yang cepat sehingga bisa segera pulang ke rumah, dibandingkan menghabiskan waktu yang lebih lama di rumah sakit karena khawatir dapat terpapar atau terinfeksi corona.
Salah satu rumah sakit yang menerapkan metode ERACS adalah Siloam Ambon, sejak tahun lalu secara bertahap. Tetapi baru dilakukan secara sempurna sejak 9 September 2021 hingga sekarang.
Kurang lebih sudah sebanyak 40 kasus melahirkan di Siloam Ambon yang berhasil menggunakan metode ERACS sejak September hingga Desember 2021.
“Metode ERACS ini lebih unggul dikarenakan proses recovery yang lebih cepat, painless atau rasa nyeri yang sangat sedikit, mobilisasi pasien lebih cepat dan lebih baik, pasien dapat lebih cepat pulang dan berkumpul dengan keluarga," kata dr. Ida Bagus Gita Dharwa Wibawa, SpAn (Spesialis Anastesi).
Sementara itu, Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Cabang Maluku, dr. Markus Daniel Taliak, SpOG memaparkan perbedaan antara metode ERACS dan metode konvensional.
“Perbedaan ini bisa ditemukan sejak proses persiapan operasi, di mana pada metode konvensional pasien diharuskan untuk puasa makan 8 jam sebelum operasi. Sedangkan pada metode ERACS ini 8 jam sebelum operasi pasien masih dapat makan dengan bebas, 6 jam sebelum operasi masih dapat mengkonsumsi makanan yang ringan," terangnya.
"Bahkan 2 jam sebelum operasi pasien diarahkan untuk mengkonsumsi cairan berkalori, seperti air gula dengan harapan sang pasien memiliki energi optimal dan mengurangi rasa stress pada pasien hal ini bertujuan untuk membantu proses pemulihan pasien pascaoperasi nanti," tambah dia.
dr. Erwin Rahakbauw, SpOG yang merupakan salah satu tim dokter Obsgyn menjelaskan, perbedaan signifikan antara metode ERACS dan konvensional ada pada teknik operasi.
Metode ERACS tidak mengeluarkan rahim dari rongga perut dalam proses operasinya sehingga tidak mengakibatkan penarikan pada saraf-saraf yang dapat menyebabkan rasa mual setelah operasi.
Pada teknik ERACS juga dokter menghindari proses pencucian rahim. Sedangkan dari teknik pembiusan sendiri dengan memberikan pembiusan seminimal mungkin untuk memberikan rasa nyaman pada pasien.
Tujuan akhir dari proses penyembuhan ERACS adalah 8 jam setelah operasi pasien sudah dapat bergerak dan kurang dari 24 jam pasien sudah dapat berjalan dan keesokan harinya sudah dapat segera kembali ke rumah.
dr. Cok Istri Arintha Devi, SpAn, salah satu tim dokter Anastesi di Siloam Hospitals Ambon membagikan pengalamannya sebagai pasien pertama yang melahirkan di Siloam Ambon dengan metode ERACS.
Ia mengatakan, perbedaannya cukup besar dibandingkan proses kelahiran pertamanya dengan metode caesar konvensional. Ia merasakan proses melahirkan yang jauh lebih nyaman dan lebih relax dibandingkan sebelumnya.
Dr. Coki, sapaan karibnya, juga menegaskan jika selama ini di Indonesia kebanyakan para ibu hamil berpendapat bahwa dengan melahirkan normal, rasa sakit yang dialami hanya pada saat melahirkan saja.
Sedangkan pada operasi caesar pada umumnya sang pasien tidak merasakan sakit pada waktu operasi tetapi pascaoperasi akan merasa sangat tidak nyaman, nyeri, dan rasa sakit yang tidak tertahankan ketika efek pembiusannya selesai.
Dengan pengembangan metode ERACS ini diharapkan dapat mengubah stigma masyarakat mengenai sakitnya melahirkan dengan caesar.
Keberhasilan suatu proses terkhusunya proses melahirkan dengan metode ERACS ini adalah hasil kerjasama semua tim dokter yang menangani baik dari tim Obsgyn, Anastesi dan juga tim dokter Anak.
Pasien juga diharapkan dapat ikut bekerja sama dengan mengikuti anjuran dan arahan dokter, tim bidan dan perawat ruangan yang akan selalu siap membantu dan mengarahkan pasien agar proses pemulihannya lebih cepat. Karena cepatnya proses pemulihan sang pasien kembali pada seberapa besar kemauan pasien itu sendiri.
Dengan jumlah tim dokter obsgyn yang memadai dan mumpuni diharapkan agar dapat memberikan pelayanan yang lebih optimal terkhususnya dalam penyempurnaan penerapan metode ERACS secara menyeluruh agar dapat membantu para ibu-ibu di Ambon dan Maluku agar tetap dapat melahirkan secara caesar tanpa perlu khawatir dan merasa nyaman dan aman.
