Kumparan Logo

Menristek: PLTSa Bisa Jadi Solusi Atasi Masalah Sampah di Indonesia

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tumpukan sampah yang akan dioleh di PLTSa TPA Bantar Gebang, Bekasi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Tumpukan sampah yang akan dioleh di PLTSa TPA Bantar Gebang, Bekasi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Bantargebang, Bekasi, yang diresmikan pada 2018 lalu telah menjadi solusi dalam penanganan sampah di Jakarta. PLSTa ini merupakan hasil kerja sama antara Pemprov DKI dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

“Kami sangat mengapresiasi upaya Pemprov DKI Jakarta yang telah melakukan kerja sama dengan BPPT dalam menanggulangi tumpukan sampah yang ada di Bantargebang ini,” ucap Bambang Brodjonegoro, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN), dalam kunjungan kerja ke PLTSa Bantargebang, Bekasi, yang disiarkan secara virtual, Kamis (3/3).

Bambang mengatakan bahwa pembangunan PLTSa ini merupakan contoh baik dari sinergi triple helix antara pemerintah, akademisi, dan industri dalam menghasilkan inovasi untuk menangani masalah sampah di Indonesia.

Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro. Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Ia juga terus mendorong pembangunan dan pengembangan inovasi pengelolaan sampah untuk menghasilkan energi seperti PLTSa di Bantargebang. “Limbah dijadikan energi jadi pilot project yang diharapkan ke depannya bisa menjadi salah satu sumber energi primer untuk kebutuhan listrik kita,” ujar Bambang.

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Merah Putih BPPT Bantargebang sendiri dapat mengolah sampah sebanyak 100 ton per hari dan menghasilkan energi listrik sebesar 731,1 kWh.

Sejak Februari hingga Oktober 2020, PLTSa Bantargebang telah membakar sebanyak 8.190 ton sampah dan telah menghasilkan energi listrik sebanyak 583,95 mWh atau sekitar 110 kWh per ton sampah.

Para pekerja di PLTSa TPA Bantar Gebang, Bekasi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

PLTSa ini sebagian besar peralatannya merupakan produksi dalam negeri, terdiri dari 4 peralatan utama, di antaranya adalah bunker terbuat dari concrete yang dilengkapi dengan platform dan crane; ruang bakar dilengkapi boiler sistem reciprocating grate yang didesain dapat membakar sampah dengan suhu di atas 950 derajat Celsius sehingga meminimalisir munculnya gas buang yang mencemari lingkungan, sistem pengendali polusi, dan unit steam turbin pembangkit listrik.

Adapun cara kerja PLTSa adalah membawa panas pada gas buang hasil pembakaran sampah yang kemudian digunakan untuk mengonversi air dalam boiler menjadi steam. Steam yang dihasilkan digunakan untuk memutar turbin yang selanjutnya akan menghasilkan energi listrik.

“Ke depan kita berusaha untuk dapat membuat lebih banyak PLTSa di berbagai daerah di Indonesia untuk mengurangi masalah sampah yang ada. Semoga pihak-pihak terkait dapat bekerja sama untuk menanggulangi permasalahan sampah ini,” katanya.