Misteri 100 Tumbal Manusia di dalam Gua, Persembahan untuk Dewa Suku Maya
ยทwaktu baca 3 menit

15 tahun lalu, para ahli menemukan gua besar misterius di Belize, Honduras, Amerika Tengah. Gua itu dijuluki dengan nama 'Midnight Terror Cave.'
Betapa tidak, gua itu menyisakan kisah yang tak terpecahkan di balik teka-teki lebih dari 100 tumbal manusia yang diduga dikorbankan Suku Maya ke dewa hujan mereka, lebih daru 1.000 tahun lalu.
Gua tersebut diperkirakan dipakai untuk pemakaman selama periode Klasik Maya (250 hingga 925 masehi). Gua ini dinamai oleh penduduk setempat yang dipanggil untuk menyelamatkan seorang penjarah yang terluka pada tahun 2006.
Tim arkeolog dari California State University, Los Angeles (Cal State LA) profesor termasuk mahasiswa, kemudian melakukan penggalian dan memakan waktu selama tiga tahun.
Mereka menemukan ada lebih dari 10.000 tulang yang ditemukan di gua. Tulang belulang itu ditemukan milik dari 118 orang. Banyak di antaranya meninggalkan bukti trauma jelang waktu kematian mereka.
Tim menyelam lebih dalam dan menyingkap kisah saat-saat terakhir para korban. Namun, penelitian terbaru mereka tidak begitu berfokus pada tulang. Mereka memperhatikan mulut mereka, menyelidiki plak kalsifikasi dari area gigi mereka.
Kalsifikasi ini juga dikenal sebagai kalkulus gigi atau lapisan kotoran yang mengeras di permukaan gigi yang sulit dibersihkan meski telah disikat.
Studi yang diterbitkan 20 September di International Journal of Osteoarchaeology ini menggambarkan, para ahli menemukan serat atau benang biru menempel pada gigi setidaknya dua korban.
Penulis utama studi Amy Chan, memulai analisisnya tentang gigi ini. Dia tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang kesehatan gigi para korban.
"Setelah menemukan kasus patologi gigi yang minimal, saya tertarik untuk menentukan bahan makanan apa yang dikonsumsi para korban," katanya dilansir Live Science.
Kalkulus gigi dapat mengawetkan potongan mikroskopis makanan yang dimakan seseorang - seperti serbuk sari, pati dan fitolit, yang merupakan bagian tanaman yang termineralisasi.
Chan mengikis kotoran dari enam gigi dan mengirimkannya ke rekan penulis studi Linda Scott Cummings presiden dan CEO Institut PaleoResearch di Golden, Colorado. Scott menemukan sampel tersebut mengandung serat kapas dan beberapa di antaranya diwarnai dengan warna biru cerah.
"Penemuan serat kapas biru di kedua sampel itu mengejutkan," kata Chan, karena "biru penting dalam ritual Maya."
Pigmen unik "Biru Maya" telah ditemukan di situs lain di Mesoamerika, di mana tampaknya telah digunakan dalam upacara - terutama untuk melukis tubuh korban, tulis Chan dan rekan dalam makalah penelitian mereka. Serat biru ini juga ditemukan dalam minuman beralkohol berbasis agave di pemakaman di Teotihuacan, sebuah situs arkeologi di tempat yang sekarang disebut Meksiko.
"Sangat menarik bahwa mereka menemukan serat berwarna dalam kalkulus gigi," kata ahli lain, Gabriel Wrobel, seorang bioarkeolog dari Michigan State University.
Meski punya bukti kuat, namun Chan dan timnya menyadari, penelitian yang mereka lakukan memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, kecepatan pembentukan dan pengerasan plak dapat bervariasi, berdasarkan jenis makanan yang dimakan.
Ada juga faktor lain yakni fisiologi seseorang, sehingga para peneliti tidak dapat mengetahui secara pasti kapan serat-serat tersebut terjebak di gigi para korban. Selain itu, sangat sedikit juga gigi korban 'Midnight Terror Cave' yang memiliki kalkulus gigi. Kondisi ini membatasi analisis dalam studi.
"Studi di masa depan akan memberikan konteks yang lebih luas untuk menafsirkan data ini," tulis para peneliti dalam studi mereka.
