Misteri Asal-usul Virus Corona: Muncul Alami atau Berasal dari Lab Wuhan?

Sumber awal penyebaran virus corona SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit COVID-19 masih menjadi misteri. Belum ada bukti yang bisa menjawab secara pasti darimana virus tersebut berasal.
Alhasil, muncul perdebatan seputar sumber sebenarnya virus corona COVID-19. Ada yang mengatakan sumbernya bermula dari pasar basah Huanan di Wuhan, China, lalu ada juga yang berpendapat virus ini berasal dari sebuah laboratorium di kota yang sama.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengumumkan pemerintah sedang melakukan investigasi terkait kebenaran tentang virus corona COVID-19 berasal dari laboratorium di Wuhan.
Dalam laporan terbaru The Washington Times, investigasi yang sedang dilakukan pemerintah AS mengenai asal usul virus corona SARS-CoV-2 mengindikasikan adanya bukti tidak langsung bahwa virus tersebut berasal dari laboratorium di Wuhan.
Berdasarkan dokumen yang diperoleh The Washington Times, dilaporkan bahwa terdapat bukti yang menyatakan penyebaran virus ini berasal dari kecelakaan pada laboratorium tersebut. Sementara itu, penjelasan China tentang asal usul virus corona SARS-CoV-2 dianggap kurang kredibel.
“Terdapat bukti tidak langsung yang mengindikasikan bahwa kecelakaan di laboratorium adalah awal mula penyebaran virus. Virus ini sangat tidak mungkin berasal dari tempat lain,” tulis laporan yang didapat The Washington Times.
Meski demikian, dokumen investigasi tersebut masih belum memiliki bukti konkrit dan definitif yang menyatakan bahwa virus corona penyebab COVID-19 berasal dari laboratorium milik Institut Virologi Wuhan (WIV) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) China di Wuhan.
Bukti tidak langsung yang dimaksud adalah dokumen investigasi yang merujuk pada peneliti Institut Virologi Wuhan (Wuhan Institute of Virology/WIV) Shi Zhengli yang memimpin penelitian virus corona pada kelelawar.
Pada tahun 2015, Shi dan 14 peneliti lain melaporkan penelitian mereka pada jurnal Nature Medicine. Dalam laporan itu, Shi mengatakan bahwa mereka sedang meneliti tentang potensi penularan virus corona dari kelelawar ke manusia.
Selain itu, bukti tidak langsung yang mereka miliki juga merujuk pada kampanye online seorang dokter bernama Wu Xiaohua yang mengungkap bahwa virus SARS-CoV-2 merupakan satu dari 50 virus yang sedang diteliti oleh Shi Zhengli.
Dr. Wu mengklaim bahwa Shi Zengli menggunakan laboratorium hewan untuk meneliti virus SARS-CoV-2 dan salah satu hewan yang diuji coba di laboratorium itu bertanggung jawab atas pandemi COVID-19. Di samping itu, Dr. Wu juga melaporkan bahwa hewan yang diuji coba di laboratorium tersebut dijual untuk menjadi hewan peliharaan, sementara hewan yang mati tidak dibuang dengan benar, dan para petugas laboratorium dituduh memakan telur bekas uji coba laboratorium.
“Tuduhan Dr. Wu terkait kelalaian manajemen laboratorium cukup spesifik dan belum dibantah secara meyakinkan oleh Institut Virologi Wuhan (WIV)," tulis laporan investigasi itu.
Menurut Jenderal Mark A. Milley, Ketua Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS, intelijen AS sedang menyelidiki kemungkinan soal asal usul wabah COVID-19 yang berasal dari laboratorium di China. Namun, sampai sejauh ini bukti-bukti masih menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 bermula secara alami.
Sebelumnya, dalam laporan yang dirilis Washington Post, terungkap bahwa pada tahun 2018, sejumlah diplomat Amerika pernah melaporkan kekhawatiran mereka atas keamanan di Institut Virologi Wuhan (WIV) yang saat itu sedang meneliti virus corona dari kelelawar.
Menurut laporan ini, aktivitas di laboratorium milik WIV berpotensi menyebabkan penularan virus dari hewan ke manusia dan selanjutnya dapat mengakibatkan pandemi seperti pandemi SARS.
“Sejauh ini seluruh bukti masih belum dapat disimpulkan. Meski sejumlah bukti mengindikasikan virus ini menyebar secara alami, namun kita masih belum mengetahui secara pasti,” ujar Milley.
Ada teori lain yang berkembang seputar asal-usul virus corona COVID-19. Menurut sumber anonim Fox News, virus mematikan ini memang berasal dari laboratorium di Wuhan. Sumber Fox News mengatakan penelitian virus itu dilakukan sebagai upaya China untuk mengidentifikasi dan mengatasi virus penyakit yang lebih baik dari Amerika Serikat.
"Mungkin ini menjadi aksi penutupan fakta pemerintah paling merugikan sepanjang masa," ujar sumber anonim tersebut, kepada Fox News.
Berdasarkan laporan Fox News, pada November 2019 lalu seseorang telah terinfeksi virus SARS-CoV-2 di laboratorium WIV. Laporan itu juga menyebutkan laboratorium tersebut tidak memiliki standar keamanan yang memadai sehingga menyebabkan seseorang terinfeksi virus.
Orang yang disebut sebagai “patient zero” adalah Huang Yanling yang bekerja di laboratorium milik WIV. Ia kemudian pergi ke pasar hewan liar dan diduga menyebabkan virus menyebar. Dua laboratorium yang digunakan untuk meneliti virus corona terletak hanya beberapa menit dari pasar hewan tersebut.
Namun, kini Huang Yanling dilaporkan hilang secara misterius dan data diri perempuan itu telah dihapus di situs web WIV.
“Huang tidak pernah menampakkan diri lagi ke publik sejak dinyatakan menghilang,” tulis laporan investigasi pemerintah AS.
Sebelumnya, penyebaran COVID-19 diduga berasal dari pasar hewan liar di Wuhan. Virus ini diyakini berasal dari hewan yang kemudian berpindah ke hewan perantara sebelum dapat menginfeksi manusia. Dua hewan yang dicurigai membawa virus ini adalah kelelawar dan trenggiling.
Berdasarkan penelitian tim ilmuwan China yang diterbitkan di jurnal The Lancet, dari 41 kasus infeksi COVID-19 pertama di Wuhan, 27 kasus di antaranya berasal dari pasien yang pernah mengunjungi pasar hewan liar di Wuhan. Namun, pasien pertama infeksi COVID-19 justru dilaporkan tidak mengunjungi pasar itu.
Menurut dokumen investigasi pemerintah AS, tempat-tempat yang dicurigai menjadi awal penyebaran virus telah ditutup total oleh pemerintah China. Hal tersebut menyebabkan penyelidikan soal asal mula penyebaran virus menjadi sulit dilakukan.
Bantahan Lab Wuhan dan WHO
Direktur Laboratorium Institut Virologi Wuhan sendiri telah membantah tudingan Donald Trump. Mereka bersikeras menduga virus corona berasal dari hewan yang kemudian ditularkan ke manusia dari pasar hewan.
"Tidak mungkin virus ini datang dari (lab) kami," kata Direktur Laboratorium Institut Virologi Wuhan, Yuan Zhiming, dikutip dari AFP, pada 19 April lalu.
"Sebagai orang yang melakukan studi viral, kami jelas tahu jenis penelitian apa yang terjadi di institut dan bagaimana institut ini mengelola virus dan sampel," tambah dia.
Yuan Zhiming mengaku tidak ada staf lab yang terpapar virus corona. Selain itu, mereka juga masih terus meneliti dari mana asal mula virus corona berasal.
"Seluruh lembaga sedang melakukan penelitian di berbagai bidang terkait dengan virus corona," ucap dia.
Beberapa hari kemudian, pada 21 April, giliran WHO yang membantah isu sumber virus corona COVID-19 berasal dari laboratorium. WHO mengatakan dari bukti yang didapat, diketahui virus ini berasal dari kelelawar di China.
“Seluruh bukti yang ada menyatakan virus ini (corona COVID-19) berasal dari hewan dan bukan dimanipulasi atau diciptakan di dalam laboratorium atau di tempat lainnya,” ujar juru bicara WHO Fadela Chaib, seperti dikutip Reuters, pada 21 April.
Namun, WHO juga belum bisa memastikan bagaimana virus ini bisa menular dari hewan ke manusia. Mereka hanya mengatakan bahwa ada hewan yang menularkannya. Dengan begitu, sumber awal bagaimana virus corona COVID-19 menular ke manusia masih menjadi misteri hingga sekarang.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
***
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
