Kumparan Logo

Misterius, 137 ‘Guci Kematian’ Berumur 1.000 Tahun Ditemukan di Laos

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
100 guci kematian yang misterius berumur 1.000 tahun ditemukan di 15 situs di Laos. Foto: Australian National University
zoom-in-whitePerbesar
100 guci kematian yang misterius berumur 1.000 tahun ditemukan di 15 situs di Laos. Foto: Australian National University

Lebih dari 100 guci misterius berusia 1.000 tahun ditemukan di 15 situs di hutan pegunungan di Laos. Para peneliti yang menemukannya meyakini 137 guci itu merupakan "guci-guci kematian" yang digunakan untuk mengubur orang-orang yang sudah meninggal. Namun begitu, belum diketahui secara pasti apa tujuan guci-guci itu dibawa ke dalam hutan pegunungan di Laos tersebut.

"Situs-situs baru ini sesekali hanya dikunjungi oleh para pemburu harimau. Sekarang kami telah menemukannya kembali. Kami berharap dapat membangun gambaran yang jelas tentang budaya ini dan bagaimana mereka mengurus kematian," ujar Nicholas Skopal, mahasiswa PhD dari Australian National University (ANU) sebagai salah satu peneliti dalam riset ini.

"Tapi, mengapa situs-situs ini dipilih sebagai tempat peristirahatan terakhir untuk guci-guci itu masih menjadi misteri. Selain itu, kami tidak punya bukti aktivitas manusia di wilayah ini," tambah Dougald O'Reilly, arkeolog dari ANU yang juga menjadi peneliti dalam riset, seperti dikutip dari IFL Science.

Guci kematian seorang perempuan di Mingachevir, Azerbaijan. Foto: Azerbaijan Museum of History/Wikimedia Commons

Secara total, arkeolog dari Australian National University menggali 137 guci batu yang di sekitarnya terdapat cakram-cakram (piringan besi) dengan ukiran sangat rumit. Para arkeolog meyakini, cakram-cakram itu digunakan sebagai penanda kuburan. Beberapa cakram diletakkan menghadap ke bawah sehingga memberikan misteri lebih dalam soal pemakaman guci ini.

"Ukiran dekoratif relatif jarang ada di situs pemakaman guci, dan kami tidak tahu mengapa beberapa piringan memiliki gambar binatang dan yang lain memiliki desain geometris," kata O'Reilly.

Di dalam guci-guci itu juga terdapat artefak Zaman Besi seperti keramik dekoratif, manik-manik kaca, alat-alat besi, dan alat-alat lain yang digunakan untuk membuat pakaian.

"Anehnya kami juga menemukan banyak guci mini, yang terlihat seperti guci-guci raksasa itu sendiri, tetapi terbuat dari tanah liat. Jadi, kami ingin tahu mengapa orang-orang ini merepresentasikan guci-guci yang sama tempat mereka meletakkan jenazah mereka dalam miniatur untuk dikuburkan dengan jenazah mereka" kata O'Reilly.

Guci pemakaman kuno di Situs Yoshinogari, Jepang. Foto: Wikimedia Commons

"Kami telah melihat guci megalitikum serupa di Assam di India dan di Sulawesi di Indonesia sehingga kami ingin menyelidiki kemungkinan koneksi dalam prasejarah antara daerah yang berbeda ini,” imbuhnya.

Menurut para peneliti, praktik penguburan menggunakan guci kematian sudah dilakukan sejak tahun 900 Sebelum Masehi, dan berlangsung hingga abad ke-17 Masehi. Bukti pemakaman guci juga telah ditemukan di bagian timur dunia, mulai dari India, Indonesia, hingga Libanon, Filipina, dan Mesir. Orang-orang yang mati itu dikuburkan dengan posisi meringkuk dan ditempatkan di dalam batu besar atau guci tanah bersama barang-barang lain.

Dalam banyak budaya kuno, kematian dipandang sebagai transisi bertahap dari proses hidup ke proses kematian. Untuk menghormati tradisi ini, mayat akan diletakkan begitu saja sehingga anggota keluarga dapat mengamati proses dekomposisi. Setelah jangka waktu tertentu, mayat tersebut kemudian akan dimakamkan ke dalam guci dan dikubur di dalam tanah.