Kumparan Logo

Muslim di India Dituduh Jadi Penyebar Virus Corona

kumparanSAINSverified-green

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga muslim di India. Foto: AFP/TAUSEEF MUSTAFA
zoom-in-whitePerbesar
Warga muslim di India. Foto: AFP/TAUSEEF MUSTAFA

Kementerian Kesehatan India menyebut kaum Muslim sebagai dalang penyebaran virus corona. Pernyataan tersebut lantas menyulut serangkaian aksi anti-Islam dan Islamofobia di seluruh penjuru negeri.

Parahnya lagi, pemuda Muslim yang membagikan makanan kepada orang miskin bahkan tak luput jadi target serangan.

Dilansir The New York Times, banyak warga Muslim yang menerima kekerasan dengan dipukuli dan hampir dibunuh. Serangan terjadi baik di luar maupun di dalam lingkungan masjid, mereka beragama Islam dijuluki sebagai penyebar virus.

Di Negara Bagian Punjab, pengeras suara di kuil Sikh menyiarkan pesan yang memberi tahu orang-orang untuk tidak membeli susu dari peternak sapi perah Muslim karena produk tersebut telah terkontaminasi oleh virus corona penyebab COVID-19.

Pesan-pesan penuh kebencian juga berseliweran di dunia maya. Semakin marak beredar video yang meragukan berisi imbauan kepada kaum Muslim untuk tidak memakai masker, tidak mempraktikkan physical distancing, dan tak perlu mengkhawatirkan virus corona sama sekali, seolah-olah para si pembuat video ingin umat Islam terjangkit virus corona.

Warga muslim di India. Foto: AFP/TAUSEEF MUSTAFA

Di tengah pandemi global yang menimpa dunia saat ini, selalu ada yang dijadikan kambing hitam. Presiden AS Donald Trump pun melakukannya. Trump bersikeras menyebut novel coronavirus sebagai "virus China."

Kaum Muslim di India yang berjumlah 200 juta jiwa kini berada di bawah tekanan karena tuduhan yang dilayangkan kepada mereka sebagai penyebar virus. Di India, kaum Muslim merupakan kalangan minoritas, sementara sekitar 1,3 miliar penduduknya memeluk Hindu sebagai agama mayoritas.

Serangan terhadap Kashmir, wilayah mayoritas Muslim, hingga undang-undang kewarganegaraan baru yang secara terang-terangan mendiskriminasi umat Islam, beberapa tahun terakhir ini merupakan titik terendah bagi Muslim India yang hidup di bawah pemerintahan nasionalis Hindu yang dipimpin oleh Perdana Menteri Narendra Modi dan didorong oleh kebijakan mayoritas.

Tuduhan yang dilayangkan pemerintah bukan tanpa alasan. Pemerintah India menyebut gerakan keagamaan Muslim bertanggung jawab terhadap 8.000 kasus COVID-19 di India.

kumparan post embed

Para pejabat di India meyakini agenda massa yang diinisasi kelompok Muslim yang dimaksud telah memicu munculnya sepertiga kasus virus corona di India. Pekan lalu, Tabligh Akbar yang mengumpulkan banyak orang diselenggarakan. Pertemuan serupa juga terjadi di Malaysia dan Pakistan sehingga memicu lonjakan kasus baru COVID-19.

"Pemerintah terpaksa memanggil Jemaah Tabligh," kata Vikas Swarup, seorang pejabat senior di kementerian luar negeri India, seperti dikutip The New York Times.

Namun, ia menyangkal sikap tegas tegas pemerintah yang menentang diadakannya agenda massa seperti Jemaah Tabligh merupakan representasi dari komunitas tertentu.

Mohammed Haider, yang mengelola sebuah kedai susu, salah satu dari sedikit bisnis yang diizinkan untuk tetap terbuka saat lockdown di India mengatakan, "Ketakutan menghantui kami dari mana-mana."

“Orang-orang hanya perlu alasan kecil untuk mengalahkan kami atau untuk menghukum mati kami," katanya. "Karena corona." Di banyak desa saat ini, pedagang Muslim dilarang masuk hanya karena keyakinan mereka.

Warga Muslim di India di tengah wabah corona Foto: Reuters/Amit Dave

Tahir Iqbal, satu dari 4.000 Jemaah Tabligh menceritakan bahwa orang-orang tidur, makan, dan berdoa dalam jarak dekat, dengan sedikit rasa takut terhadap virus corona. "Kami tidak menganggapnya serius pada saat itu," katanya.

Maulana Saad Kandhalvi, seorang pemimpin Jemaah Tabligh, memberi tahu para pengikutnya bahwa coronavirus adalah "hukuman Tuhan" dan tidak perlu takut.

Pada tanggal 31 Maret, otoritas Delhi mengajukan kasus pidana terhadap Maulana Kandhalvi karena kelalaiannya yang membahayakan kesehatan masyarakat. Pusat Jemaah Tabligh disegel. Keberadaan Kandhalvi pun tak diketahui hingga saat ini.

Pihak berwenang India telah menggunakan data ponsel untuk melacak keberadaan Jemaah Tabligh dan mencegat misionaris Malaysia di bandara sebelum mereka bisa naik penerbangan evakuasi keluar dari India.

Beberapa politisi nasionalis Hindu dan para pendukungnya memanfaatkan situasi ini, dengan bersemangat menumpuk sentimen anti-Muslim.Raj Thackeray, pemimpin Maharashtra Navnirman Sena, sebuah partai nasionalis sayap kanan, mengatakan kepada kantor berita setempat bahwa anggota Jemaah Tabligh "harus ditembak."

***

kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!