Kumparan Logo

Mutasi Virus Corona 10 Kali Lebih Menular Ditemukan di Malaysia, Ini Bahayanya

kumparanSAINSverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Virus Corona. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Virus Corona. Foto: kumparan

Kewaspadaan terhadap penyebaran virus corona kini harus ditingkatkan. Ada laporan terbaru menyebutkan, mutasi virus corona bisa menular 10 kali lebih cepat dari corona biasa sudah ditemukan di Malaysia.

Kementerian Kesehatan Malaysia mengumumkan bahwa D614G, salah satu mutasi virus corona SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit COVID-19, telah terdeteksi di tiga dari 45 kasus positif corona di Malaysia yang dilaporkan pada Sabtu (15/8) lalu. Kasus mutasi virus corona itu muncul dalam salah satu kluster yang dimulai dari seorang pemilik restoran yang kembali dari India dan melanggar karantina rumah selama 14 hari.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Malaysia, Noor Hisham Abdullah mengatakan, mutasi virus corona D614G ini 10 kali lebih mudah menginfeksi individu lain, apalagi jika disebarkan oleh seorang 'penyebar super'. Selain Malaysia, mutasi D614G juga ditemukan di Filipina.

"Oleh karena itu, tindakan utama kami masih pada metode pencegahan dan pengendalian kesehatan masyarakat yang disiplin dalam menjalankan SOP yang telah ditetapkan secara lengkap yaitu karantina mandiri, kebersihan diri yang tinggi terutama cuci tangan dengan air dan sabun. Gunakan masker terutama di tempat umum, tempat keramaian, tempat tertutup dan saat ngobrol dekat," kata Noor lewat akun Facebook resmi miliknya.

facebook embed

Mutasi D614G pertama kali terdeteksi di Eropa pada Februari 2020, dan sejak itu menjadi varian SARS-CoV-2 yang paling dominan ditemukan pada sampel usap di seluruh dunia. Menurut beberapa peneliti, mutasi memberikan virus corona semacam keunggulan biologis yang memungkinkan penyebarannya lebih mudah.

Mutasi D614G terletak di dalam protein yang membentuk spike virus yang fungsinya untuk menembus masuk ke dalam sel tubuh manusia. Mutasi ini mengubah asam amino pada posisi 614, dari D (asam aspartat) menjadi G (glisin) sehingga jadi, D-614-G.

Apa bahaya mutasi virus corona D614G?

Sars-Cov-2 telah mengalami beberapa mutasi sejak pandemi muncul pada Desember 2019. Namun, sejauh ini hanya satu dari mutasi ini yang berhasil diidentifikasi sebagai kemungkinan mengubah perilaku virus corona, yaitu D614G.

Mutasi muncul setelah wabah awal Wuhan, China, kemungkinan dimulai di Italia. BBC melaporkan pada Juli 2020, 97 persen sampel virus di seluruh dunia didominasi oleh strain ini.

Dr. Bette Korber, seorang ahli biologi komputasi dan ahli genetika populasi mengatakan, bahwa varian D614G sekarang tampak dominan di mana-mana, termasuk di China. Situasi ini menunjukkan bahwa bahaya dari D614G adalah kemampuannya yang mungkin lebih mudah menyebar di antara manusia daripada virus versi aslinya.

Ilustrasi Virus Corona. Foto: Shutter Stock

Dr Korber pernah mengatakan di makalah penelitiannya yang terbit pada Juli 2020, varian D614G sangat begitu dominan hingga kini menjadi pandemi secara global. Dan diperkirakan sudah ditemukan sejak awal pandemi di Inggris Raya dan AS.

Dua studi yang diterbitkan di jurnal Cell, pertama oleh Dr. Korber dan riset kedua oleh WHO Collaborating Center di China, memberikan hasil bahwa D164G, strain dominan SARS-CoV-2 tampaknya 10 kali lipat lebih menular daripada Wuhan-1 yang asli.

Cell juga menerbitkan ulasan penelitian yang dilakukan oleh Dr Nathan D. Grubaugh, asisten profesor epidemiologi penyakit mikroba di Yale School of Public Health, pada Juli 2020 lalu. Menurutnya, kedua riset tadi belum ada bukti yang menguatkan adanya peningkatan penularan virus.

Bisakah mutasi virus corona memengaruhi penelitian vaksin?

Meskipun mutasi D614G terjadi pada protein spike virus, itu tidak mengubah domain pengikat reseptor (receptor-binding domain/RBD) yang ada di ujung protein spike. RBD mengikat reseptor ACE2 pada sel manusia; itu juga merupakan target utama dari sistem kekebalan. Intinya, mutasi D614G mengubah protein spike, tetapi bukan bagian imunogenik RBD yang kritis.

Studi WHO di China juga menunjukkan, varian G614 tetap rentan terhadap netralisasi oleh antibodi yang diisolasi dari pasien yang terinfeksi. Selain itu, mengingat sebagian besar SARS-CoV-2 yang beredar di seluruh dunia saat ini adalah varian D614G, satu vaksin kemungkinan dapat bekerja dengan optimal.