Kumparan Logo

Nadiem Makarim Harus Jalani Operasi Akibat Fistula Perianal, Apa Itu?

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook dalam program digitalisasi pendidikan di Kemendikbudristek Nadiem Makarim bersandar di bahu istrinya sebelum menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (13/5/2026). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook dalam program digitalisasi pendidikan di Kemendikbudristek Nadiem Makarim bersandar di bahu istrinya sebelum menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (13/5/2026). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, dikabarkan menjalani operasi kelima akibat fistula perianal di tengah proses hukum kasus Chromebook yang sedang dihadapinya. Kabar tersebut disampaikan sang istri, Franka Makarim, melalui unggahan di Instagram pada Kamis (14/5).

“Kemarin hari dimulai di pengadilan. Malam tadi, Nadiem masuk ke meja operasi untuk kelima kalinya. Di antara dua momen itu, kami hanya bisa berdoa,” tulis Franka.

Kondisi kesehatan yang dialami Nadiem membuat publik bertanya-tanya: Apa sebenarnya fistula perianal? Apakah penyakit ini berbahaya?

Dilansir National Health Service (NHS), fistula perianal merupakan saluran kecil abnormal yang terbentuk di antara ujung usus besar dan kulit di sekitar anus. Kondisi ini umumnya muncul akibat infeksi di area anus yang menyebabkan terbentuknya abses atau kumpulan nanah di jaringan sekitar.

Saat abses pecah atau mengering, terkadang tertinggal saluran kecil yang kemudian berkembang menjadi fistula. Meski terdengar sederhana, kondisi ini bisa menimbulkan rasa nyeri berkepanjangan dan sering kali tidak dapat sembuh sendiri tanpa tindakan medis.

Ilustrasi Pantat Foto: Dok. Shutterstock

Gejala dan Cara Menanganinya

Gejala fistula perianal biasanya cukup mengganggu aktivitas sehari-hari. Penderitanya dapat mengalami sejumlah gejala, meliputi:

  • Iritasi kulit di sekitar anus

  • Nyeri berdenyut yang memburuk saat duduk, bergerak, buang air besar, atau batuk

  • Terkadang muncul cairan berbau tidak sedap, nanah, hingga perdarahan saat buang air besar

  • Area sekitar anus juga tampak bengkak dan kemerahan, bahkan disertai demam bila masih terdapat abses aktif

  • Kesulitan menahan buang air besar atau inkontinensia

  • Lubang fistula kadang terlihat seperti titik kecil di kulit dekat anus, meski tidak selalu mudah dikenali sendiri oleh pasien

Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memastikan diagnosis. Pemeriksaan dapat meliputi evaluasi area anus, colok dubur, hingga prosedur lanjutan seperti proktoskopi menggunakan alat berkamera kecil untuk melihat bagian dalam anus.

Selain itu, pemeriksaan penunjang seperti USG, CT scan, atau MRI dapat dilakukan untuk mengetahui jalur fistula dan menentukan terapi yang paling tepat.

Sebagian besar fistula perianal disebabkan oleh abses anus yang tidak sembuh sempurna. Namun, ada pula kondisi lain yang dapat memicu fistula, seperti penyakit Crohn, divertikulitis, hidradenitis suppurativa, hingga infeksi tuberkulosis (TB) atau HIV.

Karena jarang sembuh sendiri, fistula perianal umumnya memerlukan operasi. Salah satu prosedur yang paling sering dilakukan adalah fistulotomi, yakni membuka jalur fistula agar dapat sembuh menjadi jaringan parut datar.

Metode lain yang juga kerap digunakan adalah pemasangan seton, yaitu benang bedah khusus yang dipasang di jalur fistula selama beberapa minggu untuk membantu proses penyembuhan sebelum tindakan lanjutan dilakukan.

Setiap prosedur memiliki risiko dan manfaat berbeda, sehingga penanganannya perlu disesuaikan dengan kondisi pasien. Sebagian pasien dapat pulang di hari yang sama setelah operasi, namun ada pula yang membutuhkan perawatan beberapa hari di rumah sakit.

Meski bukan penyakit yang selalu mengancam nyawa, fistula perianal tetap perlu ditangani serius. Jika dibiarkan, infeksi dapat terus berulang dan menurunkan kualitas hidup penderitanya.