Kumparan Logo

NASA Mau Kirim Bayi Cumi-cumi ke Luar Angkasa, Buat Apa?

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Cumi-cumi pendek Atlantik. Foto:  Ian Bartol
zoom-in-whitePerbesar
Cumi-cumi pendek Atlantik. Foto: Ian Bartol

NASA berencana mengirim lebih dari 100 bayi cumi-cumi dan 5.000 makhluk mikroskopis ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Cumi dan makhluk mikroskopis bakal dikirim bersama dengan peralatan lain ke ISS menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX.

Adapun hewan dikirim dalam rangka eksperimen untuk melihat efek penerbangan luar angkasa pada hewan, termasuk 128 bayi cumi-cumi. Cumi-cumi bobtail diketahui memiliki sistem kekebalan yang mirip dengan manusia.

NASA mengatakan percobaan itu dapat mendukung pengembangan langkah-langkah perlindungan untuk menjaga kesehatan astronaut selama menjalankan misi luar angkasa dengan waktu cukup lama. Nantinya, proses peluncuran bakal disiarkan langsung oleh NASA.

“Hewan dan manusia bergantung pada mikroba untuk menjaga pencernaan dan sistem kekebalan yang sehat. Kami tidak sepenuhnya memahami bagaimana penerbangan luar angkasa mengubah interaksi yang menguntungkan ini,” kata Jamie Foster, peneliti utama eksperimen.

Tardigrada, makhluk mikroskopis tekuat di Bumi. Foto: commons.wikimedia.org

Foster menambahkan, cumi-cumi mampu mengatasi masalah penting dalam kesehatannya. Sebelum kembali ke bumi, cumi-cumi akan dibekukan terlebih dahulu. Selain cumi-cumi, roket SpaceX juga akan ditumpangi oleh 5.000 tardigrada atau sering disebut beruang air.

Hewan mikroskopis dapat beradaptasi lebih baik di lingkungan ekstrem ketimbang hewan pada umumnya. Ini membuat mereka sempurna untuk dijadikan bahan eksperimen dan mempelajari bagaimana kehidupan merespons dan beradaptasi di lingkungan ekstrem.

Diharapkan hasil eksperimen ini dapat digunakan untuk memahami faktor-faktor stres yang mempengaruhi manusia di luar angkasa.

"Salah satu hal yang sangat ingin kami lakukan adalah memahami bagaimana tardigrada bertahan hidup dan bereproduksi di lingkungan ini dan apakah kami dapat mempelajari sesuatu tentang trik yang mereka gunakan dan mengadaptasinya untuk melindungi astronaut," jelas Thomas Boothby, peneliti utama eksperimen tersebut sebagaimana dikutip BBC.