Obat Corona Unair Diklaim 90% Ampuh, Ramuannya Pakai Hidroklorokuin

18 Agustus 2020 14:01
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Polemik obat corona. Foto: Indra Fauzi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Polemik obat corona. Foto: Indra Fauzi/kumparan
ADVERTISEMENT
Obat corona garapan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya telah selesai melewati uji klinis tahap ketiga atau tahap akhir, Minggu (16/8). Hasil uji klinis tersebut telah diserahkan kepada KSAD yang juga Wakil Ketua Pelaksana Komite COVID-19, Jenderal Andika Perkasa.
ADVERTISEMENT
Obat corona yang dibuat para peneliti gabungan dari Unair, TNI AD, BIN dan Polri, diklaim 90 persen ampuh untuk mematikan virus corona. Dibuat dari tiga kombinasi obat, yakni Lopinavir/Ritonavir dan Azithromycin, Lopinavir/Ritonavir dan Doxycycline. Ketiga, Hydrochloroquine dan Azithromycin.
"Setelah kami kombinasikan daya penyembuhannya meningkat dengan sangat tajam dan baik. Untuk kombinasi tertentu itu sampai 98 persen efektivitasnya," ujar Rektor Unair, Prof Mohammad Nasih, dalam acara penyerahan hasil uji klinis fase 3 di Mabes AD, Jakarta, Minggu (16/8).
Lopinavir dan Ritonavir sendiri adalah obat yang dipakai sebagai bagian dari terapi antiretroviral (ART). Digunakan untuk HIV/AIDS diminum dalam dosis yang rendah. Para ilmuwan pernah menggunakan Lopinavir dan Ritonavir sebagai obat terapi untuk pasien COVID-19.
Wakil Ketua Komite Pelaksana Penanganan COVID-19 dan PEN Andika Perkasa (kanan) menerima hasil uji klinis tahap tiga obat baru COVID-19 dari Rektor Universitas Airlangga (Unair) Mohammad Nasih di Jakarta, Sabtu (15/8/2020). Foto: ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Ketua Komite Pelaksana Penanganan COVID-19 dan PEN Andika Perkasa (kanan) menerima hasil uji klinis tahap tiga obat baru COVID-19 dari Rektor Universitas Airlangga (Unair) Mohammad Nasih di Jakarta, Sabtu (15/8/2020). Foto: ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA FOTO
Dalam uji coba tersebut, pasien corona diberi Lopinavir dan Ritonavir selama 14 hari, sebagai tambahan perawatan. Namun hasilnya nihil. Lopinavir dan Ritonavir dinyatakan tidak efektif membantu menyembuhkan pasien corona.
ADVERTISEMENT
Sementara Azithromycin adalah obat yang digunakan untuk infeksi bakteri di berbagai organ dan bagian tubuh, seperti saluran pernapasan, kulit, dan alat kelamin. Obat ini terbukti memiliki sifat antivirus yang cukup efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Azithromycin punya dampak positif untuk menyembuhkan penyakit Ebola, Zika, virus pernapasan syncytial, virus influenza H1N1, enterovirus, dan rhinovirus.
Saat ini Azithromycin masih dipelajari sebagai bagian dari kombinasi pengobatan untuk COVID-19. Kendati begitu, sejumlah efek negatif juga ditimbulkan saat Azithromycin diberikan bersamaan dengan obat lain pada pasien corona, salah satunya adalah gangguan irama detak jantung.
Sedangkan Doxycycline adalah obat antibiotik yang digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit akibat infeksi bakteri dan parasit, termasuk infeksi saluran kemih, infeksi usus, saluran pernapasan, dan infeksi mata. Sama halnya dengan Azithromycin, Doxycycline juga digunakan dalam serangkaian uji coba untuk mengobati pasien COVID-19.
Ilustrasi klorokuin. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi klorokuin. Foto: Shutter Stock
Terakhir yang dijadikan ramuan obat corona Unair adalah Hydrochloroquine. Hydrochloroquine adalah obat yang digunakan untuk mencegah dan menangani penyakit malaria. Malaria merupakan penyakit akibat gigitan nyamuk yang membawa parasit seperti Plasmodium malariae, Plasmodium ovale, Plasmodium vivax, dan Plasmodium falciparum.
ADVERTISEMENT
Penggunaan Hydrochloroquine untuk pasien corona telah resmi dihentikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization), pada akhir Mei 2020. Menyusul WHO, Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat (National Institutes of Health/NIH) juga resmi menghentikan obat malaria Hydrochloroquine untuk perawatan pasien corona, pada pertengahan Juni 2020.
Namun siapa sangka obat-obat ini justru diklaim ampuh membunuh virus corona lewat riset yang dilakukan Unair dan para peneliti lintas lembaga. Dijelaskan Nasih, pembuatan obat kombinasi telah dilakukan sejak Mei 2020. Seluruh prosedur yang dipakai disebut sudah mengikuti syarat BPOM. Saat ini obat tersebut hanya tinggal menunggu izin edar dari BPOM sebelum diproduksi massal.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020