Kumparan Logo

Orang Papua Nugini Punya Gen Denisovan, Bikin Sistem Imun Lebih Kuat

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Masyarakat papua nugini yang memotong jarinya untuk menjalani tradisi Iki Palek Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Masyarakat papua nugini yang memotong jarinya untuk menjalani tradisi Iki Palek Foto: Shutter Stock

Studi baru menemukan bahwa orang Papua Nugini yang terisolasi secara genetik selama ribuan tahun membawa gen unik yang membantu mereka melawan infeksi. Beberapa di antaranya berasal dari kerabat dekat manusia yang telah punah, Denisovan.

Studi ini juga menemukan penduduk dataran tinggi dan dataran rendah Papua Nugini mengembangkan mutasi berbeda untuk membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda.

“Orang-orang Nugini unik karena mereka telah terisolasi sejak mereka menetap di Nugini lebih dari 50.000 tahun lalu,” kata Francois-Xavier Ricaut, rekan penulis tudi senior dan antropolog biologi di French National Center for Scientific Research (CNRS), dikutip dari Live Science.

Tak hanya didominasi pegunungan, Papua Nugini juga ada penyakit menular yang bertanggung jawab atas lebih dari 40 persen kematian. Oleh karena itu, penduduk setempat harus menemukan strategi biologis dan budaya untuk beradaptasi. Artinya populasi Papua Nugini adalah objek luar biasa untuk mempelajari adaptasi genetik.

Manusia modern pertama kali tiba di Papua Nugini dari Afrika sekitar 50.000 tahun lalu. Di sana, mereka kawin dengan Denisovan yang telah tinggal di Asia selama puluhan ribu tahun. Hasil dari kawin silang ini, orang Papua Nugini membawa 5 persen DNA Denisovan dalam genom mereka.

Suasana usai gempa di Papua Nugini. Foto: Milton Kwaipo/Caritas Australia via Reuters

Dalam studi baru yang terbit pada 30 April 2024 di Jurnal Nature Communications, para ilmuwan menganalisis genom 54 penduduk dataran tinggi dari Gunung Wilhelm, Papua Nugini, yang hidup antara 2.300 hingga 2.700 meter di atas permukaan laut, dan 74 penduduk dataran rendah dari Pulau Daru dengan ketinggian kurang dari 100 meter di atas permukaan laut.

Mereka menemukan mutasi yang mungkin diwarisi penduduk dataran rendah dari Denisovan meningkatkan jumlah sel kekebalan dalam darah mereka. Sementara itu, penduduk dataran tinggi mengalami mutasi yang membuat sel darah mereka meningkat, sehingga membantu mengurangi hipoksia di ketinggian.

Ini bukanlah hal aneh, karena orang-orang dari beberapa lingkungan dataran tinggi lainnya telah mengembangkan mutasi berbeda untuk melawan hipoksia.

Varian gen Denisovan dapat memengaruhi fungsi protein disebut GBP2 yang membantu tubuh melawan patogen yang hanya ditemukan di dataran rendah, seperti parasit penyebab malaria. Oleh karena itu, gen-gen ini mungkin telah dipilih selama evolusi untuk membantu manusia melawan infeksi di dataran rendah di mana patogen tersebar luas.

Ke depan, tim ingin mengungkap bagaimana mutasi ini membawa perubahan pada darah masyarakat Papua Nugini. Untuk memahami hal ini, mereka perlu menyelidiki bagaimana mutasi ini berdampak pada aktivitas gen tempat mutasi ditemukan.