Orang yang Kena Lockdown Saat Ini Lebih Banyak Dibanding saat Perang Dunia II

Pengumuman lockdown India yang disampaikan Perdana Menteri Narendra Modi, pada Selasa (24/3), menyebabkan jumlah penduduk dunia yang hidup dalam karantina wilayah naik dua kali lipat. Saat ini diperkirakan 2,9 miliar penduduk di sejumlah negara atau sepertiga penduduk dunia berada dalam lockdown untuk menekan penyebaran virus corona.
Sampai hari ini, Minggu (29/3), menurut data yang dihimpun Worldometers, terdapat 668.363 orang yang terinfeksi virus COVID-19 dengan 31.045 di antaranya meninggal dunia di 199 negara. Dampak lockdown akibat pandemi corona mempengaruhi lebih banyak kehidupan manusia dibanding beberapa peristiwa sejarah lain, termasuk perang dunia dan migrasi massal.
Jumlah penduduk yang berada dalam kondisi lockdown akibat pandemi corona lebih besar dibanding penduduk yang terdampak Perang Dunia II. Pada tahun 1940, menurut United States Census Bureau, populasi dunia baru mencapai 2,3 miliar jiwa. Angka populasi saat Perang Dunia II itu lebih kecil dibanding jumlah orang yang berada dalam wilayah lockdown sekarang.
Penduduk yang terdampak akibat pandemi corona juga lebih besar dibanding yang disebabkan peristiwa sejarah lain. Misalnya jumlah penduduk yang ikut berperang dalam dua perang dunia, Perang Dunia I dan II.
Menurut Encyclopaedia Britannica, kedua perang tersebut melibatkan 135 juta orang yang bertempur. Tapi dua perang dunia itu lebih mematikan dibandingkan pandemi virus corona. Perang Dunia II membunuh sekitar 70 sampai 85 juta jiwa manusia.
Selain itu, lockdown akibat penyebaran virus corona juga berdampak pada peristiwa migrasi tahunan yang dilakukan umat manusia. Misalnya, mudik saat Tahun Baru China, perayaan Prayagraj Kumbh Mela di India, Thanksgiving di Amerika, dan Haji di Mekkah. Berdasarkan data Statista, jumlah penduduk yang mengikuti perayaan tahunan itu mencapai 690,5 juta jiwa.
Sebelumnya, pandemi Flu Spanyol yang berlangsung pada 1918-1919 juga memiliki dampak yang serupa, meski secara epidemiologi wabah itu berbeda dibanding virus corona. Saat itu Flu Spanyol menginfeksi sepertiga dari total 500 juta populasi penduduk dunia.
Namun, di luar angka statistik itu, dampak yang disebabkan oleh pandemi corona ke kehidupan umat manusia masih sulit dijabarkan lewat angka-angka. Pemerintah di berbagai negara telah merespons pandemi virus corona dengan berbagai kebijakan pembatasan di sektor transportasi, perdagangan, dan aktivitas sosial lain.
“Lockdown sebenarnya bukanlah sebuah terminologi teknis. Tapi kata itu digunakan untuk mendeskripsikan segala sesuatu yang menyangkut karantina wilayah secara total maupun parsial seperti menghentikan sementara aktivitas bisnis atau mewajibkan warga tinggal di rumah,” kata Lindsay Wiley, professor hukum kesehatan Washington College of Law seperti dikutip Vox.
Beberapa negara ini menerapkan kebijakan lockdown di wilayah mereka dengan aturan teknis yang berbeda.
Amerika Serikat, 327 juta: Lockdown parsial terhadap 75 juta warga tergantung kebijakan negara bagian dan kota.
Afrika Selatan, populasi 57,8 juta: Lockdown sampai 15 April
Argentina, populasi 45,5 juta: Warga hanya diperbolehkan meninggalkan rumah untuk membeli kebutuhan pokok sampai 31 Maret.
Australia, populasi 24,9 juta: Bisnis selain menyediakan kebutuhan pokok ditutup. Orang tua siswa diberi opsi untuk meliburkan anaknya.
Belgia, populasi 11,4 juta: Warga diminta tetap di rumah dan hanya boleh berbelanja kebutuhan pokok.
China (Wuhan), populasi 11 juta: Warga diminta berada di rumah kecuali untuk berbelanja kebutuhan pokok. Kebijakan ini berlaku sampai 8 April. Setidaknya 16 kota di Provinsi Hubei juga di-lockdown.
Kolombia, populasi 49,7 juta: Karantina wilayah, warga hanya diperbolehkan belanja kebutuhan pokok sampai 11 April nanti. Sementara warga berumur di atas 70 tahun diharuskan di rumah sampai Mei nanti.
Denmark, populasi 5,8 juta: Warga berjumlah lebih dari 10 orang dilarang berkumpul, sekolah, perpustakaan, restoran, dan aktivitas bisnis lain ditutup.
Prancis, populasi 66,9 juta: Warga dilarang keluar rumah selain untuk membeli kebutuhan pokok.
Jerman (Bavaria), populasi 82,7 juta: 16 negara bagian di Jerman membatasi aktivitas bisnis dan pertemuan umum. Di Bavaria, pemerintah melarang warga untuk meninggalkan rumah tanpa alasan yang bisa diterima.
India, populasi 1,3 miliar: Total lockdown. Setiap orang dilarang keluar rumah sampai 21 April.
Inggris, populasi 66,5 juta: Warga diminta tetap di rumah kecuali untuk berbelanja kebutuhan pokok
Irlandia, populasi 4,9 juta: Fasilitas pendidikan, budaya, dan anak ditutup. Pembatasan pertemuan sosial.
Israel, populasi 8,9 juta: Warga diwajibkan tetap di rumah kecuali untuk membeli makanan dan obat-obatan.
Italia, populasi 60,4 juta: Lockdown nasional di seluruh wilayah.
Yordania, populasi 9,9 juta: Warga dilarang keluar rumah. Bila melanggar dapat dikenakan ancaman hukuman penjara seumur hidup.
Kenya, populasi 51,4 juta: Sekolah, kelab malam, dan restoran ditutup.
Kuwait, populasi 4,1 juta: Warga dilarang mengunjungi restoran dan gym, tidak ada penerbangan komersial, dan pembatasan berpergian di siang hari.
Maroko, populasi 36 juta: Tidak ada penerbangan internasional, pelarangan ibadah di masjid, sekolah dan restoran ditutup.
Selandia Baru, populasi 4,9 juta: Warga diminta tetap di rumah sampai akhir April
Norwegia, populasi 5,3 juta: Pelabuhan, bandara, dan sekolah ditutup. Berbagai event dibatalkan.
Polandia, populasi 37,9 juta: Bar dan restoran ditutup, warga negara asing dilarang masuk, dan setiap warga yang baru masuk akan dikarantina.
Spanyol, populasi 46,7 juta: Total lockdown.
