Kumparan Logo

'Pasien 31', Penyebar Super Virus Corona Korea Anggota Sekte Gereja Shincheonji

kumparanSAINSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas kesehatan Korea Selatan menyemprotkan cairan desinfektan di Gereja Shincheonji Yesus di Daegu, Korea Selatan, Kamis (20/2).  Foto: AFP/YONHAP
zoom-in-whitePerbesar
Petugas kesehatan Korea Selatan menyemprotkan cairan desinfektan di Gereja Shincheonji Yesus di Daegu, Korea Selatan, Kamis (20/2). Foto: AFP/YONHAP

Angka penderita virus corona di Korea Selatan melonjak tajam, yang salah satu penderitanya diduga penyebar super, yakni Pasien 31. Per Kamis (27/2) pagi, warga Negeri Ginseng yang positif terinfeksi dilaporkan mencapai 1.261 orang, naik 1.157 dalam kurun waktu hanya enam hari. Sebanyak 12 pasien tewas saat menjalani perawatan.

Angka-angka tersebut sekaligus menasbihkan Korea Selatan sebagai pusat wabah novel coronavirus terbesar kedua setelah China. Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korsel, Jung Eun-kyeong, meminta warga untuk membatasi kegiatan di luar ruangan, termasuk menunda perjalanan keluar kota, sebagaimana diwartakan TIME.

Sejauh ini, sebagian besar kasus di Korea Selatan terkonsentrasi di Daegu yang berjarak sekitar 200 kilometer dari Seoul. Ada 9.000 pasien dalam karantina, seluruhnya merupakan jemaat Gereja Yesus Shincheonji cabang Daegu. Mereka tengah diobservasi usai salah satu jemaat gereja positif terinfeksi virus corona jenis baru yang bernama resmi SARS-CoV-2.

embed from external kumparan

Salah satu jemaat yang positif terjangkit SARS-CoV-2 merupakan seorang wanita berusia 61 tahun. Itu merupakan kasus virus corona ke-31 di Korea Selatan, sehingga tim medis menyebutnya 'Pasien 31'. Kasusnya terkonfirmasi di klinik kesehatan di Daegu pada 17 Februari 2020 lalu, menurut laporan Bloomberg.

Setelah dinyatakan positif novel coronavirus, otoritas kesehatan setempat langsung bergerak melacak riwayat perjalanan di Pasien 31. Hasilnya cukup mengejutkan, dalam 10 hari terakhir pasca kasusnya terkonfirmasi, si perempuan telah menghadiri dua kebaktian yang diikuti sekitar 1.000 jemaat Gereja Yesus Shincheonji.

Dalam 24 jam berikutnya, jumlah kasus virus corona di Korsel kebetulan semakin bertambah. Angkanya naik 20 kasus, dengan hari berikutnya tumbuh dua kali lipat dan kembali naik dua kali lipat pada lusanya. Pada 19 Februari, total kasus virus corona tembus lebih dari 1.000 kasus.

"Apa yang membuat kasus ini jauh lebih buruk adalah orang ini menghabiskan banyak waktu di daerah yang sangat ramai," kata Kim Chang-yup, profesor di Seoul National University, seperti dikutip Bloomberg. "Tumbuh ketakutan dan kebencian di antara masyarakat sekarang."

Awal Mula Pasien 31

Ambulans yang mengangkut pasien coronavirus yang dikonfirmasi tiba di luar rumah sakit di Kota Daegu, Korea Selatan, Minggu (23/2). Foto: Reuters

Pasien 31 pertama kali memeriksa dirinya di Rumah Sakit Obat China Saeronan pada 7 Februari lalu, dengan keluhan sakit kepala akibat kecelakaan mobil sehari sebelumnya. Menurut pihak rumah sakit, pasien tidak memiliki catatan bepergian ke luar negeri atau kontak dengan pasien virus penyebab COVID-19. Gejala demam, batuk, dan gangguan pernapasan juga tak tampak.

Pada hari ketiga perawatan di rumah sakit tersebut, Pasien 31 mulai mengalami demam. Tes flu dilakukan, namun hasilnya masih negatif.

Hari berikutnya, ia meninggalkan rumah sakit untuk menghadiri kebaktian pagi di Gereja Yesus Shincheonji di Daegu selatan. Perempuan itu juga sempat makan siang dengan seorang teman di sebuah hotel di Daegu timur pada 15 Februari, dan kembali menghadiri Gereja Yesus Shincheonji untuk beribadah pada 16 Februari, menurut otoritas kesehatan setempat.

Pekerja medis beristirahat di luar rumah sakit di Kota Daegu, Korea Selatan, Minggu (23/2). Foto: Reuters

Pada 17 Februari, kondisinya memburuk dan hasil pemeriksaan mulai menunjukkan tanda-tanda pneumonia. Dokter di sana kemudian langsung melakukan pengecekan virus corona. 10 hari setelah ia menginjakkan kaki di rumah sakit, infeksi SARS-CoV-2 terkonfirmasi.

Diberitakan AFP, Kamis (20/2), total dia beribadah di Gereja Yesus Shincheonji sebanyak empat kali. Dari hasil investigasi, ia dilaporkan telah menulari setidaknya 37 jemaat, hingga virus menyebar keluar gereja. Ini merupakan kasus temuan penyebar super atau super spreader kedua, setelah pengusaha Inggris Steve Walsh yang diduga telah menginfeksi 11 orang beberapa waktu lalu.

Hingga saat ini, belum diketahui bagaimana Pasien 31 bisa tertular virus corona. Pasalnya, ia tidak memiliki riwayat bepergian ke China. Namun, mencuatnya kasus ini tak pelak membuat Gereja Yesus Shincheonji kembali menuai sorotan.

Jemaat Gereja Yesus Chincheonji Dikenal Tertutup

Pejalan kaki menggunakan masker melintasi distrik perbelanjaan Dongseongro di kota Daegu, Korea Selatan. Foto: AFP/JUNG YEON-JE

Profil gereja tersebut disebut pernah diangkat dalam sebuah tayangan film dokumenter pada 2007 lalu. Konten film menyangkut praktik-praktik ibadah para jemaat, termasuk klaim pemimpin gereja, Lee Man-hee, bahwa ia bisa hidup kekal.

Profesor Teologi di Busan Presbyterian University, Ji-il Tark menyebut, bahwa jemaat Gereja Yesus Shincheonji dikenal tertutup, sehingga berpotensi mempersulit penanggulangan virus.

“Anggota-anggota Shincheonji menyembunyikan jati diri mereka sehingga teman dan keluarga tidak tahu mereka bergabung dengan gereja. Sekarang, pemerintah tidak bisa mengontak ratusan anggota Shincheonji yang menghadiri gereja cabang Daegu,” tutur Ji-il Tark, seperti dikutip TIME.

Petugas kesehatan Korea Selatan menyemprotkan cairan desinfektan di Gereja Shincheonji Yesus di Daegu, Korea Selatan, Kamis (20/2). Foto: AFP/YONHAP

“Mungkin terasa menyakitkan dan sulit untuk membuka bahwa mereka anggota Shincheonji karena itu berarti mereka berbohong kepada orang-orang tercinta, sehingga ada kemungkinan mereka bisa tetap berada dalam bahaya infeksi, yang mana merupakan skenario terburuk,” lanjutnya.

Di lain pihak, Peter Daley, pengajar Bahasa Inggris di sebuah universitas di Seoul sekaligus pengamat sekte keagamaan mengungkap, ajaran gereja Shincheonji dapat menjadi sebab jemaat kurang berhati-hati terhadap penyebaran virus.

“Kelompok ini cukup tertutup. Mereka tentu percaya pemimpin mereka abadi dan mereka kurang lebih dijanjikan hidup yang abadi,” tutur Daley.

Kasus Virus Corona Tinggi, Korsel Belum Larang Masuk Turis China

Street Market Dongseongno harus jadi tujuan wajib kamu untuk belanja saat berada di Daegu Foto: Shutter Stock

Adapun peningkatan jumlah kasus virus corona di Korsel juga dibarengi kritik tajam ke pemerintahan setempat. Mayoritas publik mengecam pemerintah yang tak kunjung melarang wisatawan asal China berkunjung ke Negeri Ginseng.

Bahkan, muncul tudingan Presiden Moon Jae-In gagal melindungi kesehatan warganya lantaran takut larangan masuk bagi turis China bakal mengganggu hubungan dagang kedua negara. Seperti diketahui, China merupakan mitra dagang terbesar Korea Selatan.

Sebuah petisi pun diunggah ke laman situs kantor kepresidenan sebagai seruan untuk mengikuti langkah Korea Utara dan menyegel seluruh pintu perbatasan. Lebih dari 760.000 orang dilaporkan telah menandatangani petisi tersebut.