Kumparan Logo

Pemanasan Global Rampas Waktu Tidur Manusia di Bumi, Kok Bisa?

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ibu susah tidur. Foto: amenic181/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu susah tidur. Foto: amenic181/Shutterstock

Peningkatan suhu Bumi dalam beberapa tahun terakhir menuai banyak masalah, baik lingkungan hingga kehidupan manusia. Sebuah riset baru di jurnal One Earth mengungkap efek lain pemanasan global.

Penelitian itu menyebutkan pemanasan suhu Bumi yang terjadi pada periode 2015 hingga 2017 menyebabkan manusia kehilangan waktu tidur hingga 44 jam per tahunnya. Nilai itu setara dengan waktu tidur kebanyakan manusia yang kurang dari 7 jam selama 11 malam.

Ilmuwan mengungkap temuannya ini melalui gelang pelacak tidur dari lebih 47 ribu manusia di 68 negara berbeda. Berkurangnya waktu tidur merupakan efek dari peningkatan suhu di malam hari.

“Suhu yang lebih hangat dari biasanya (mampu) mengurangi jatah tidur manusia."

Para peneliti menjelaskan tubuh manusia perlu didinginkan terlebih dahulu sebelum mereka akan tidur. Hal tersebut dilakukan untuk bisa membuat tidur lebih nyaman dan berkualitas. Sayangnya, banyak manusia sulit tidur saat suhu menjadi lebih hangat seperti saat ini.

Bahkan, beberapa studi mengungkap berkurangnya waktu tidur dan penurunan kualitas tidur memicu beberapa permasalahan kesehatan, seperti serangan jantung, depresi yang berkepanjangan hingga berujung bunuh diri, serta berkurangnya kualitas kerja yang bisa menyebabkan kecelakaan kerja.

Ilustrasi tidur di lingkungan kerja. Foto: Vichien Petchmai/Getty Imges

Wanita dan lansia paling terdampak

Peningkatan satu derajat suhu di malam hari, sangat berdampak pada kelompok wanita dan lansia. Pengurangan waktu tidur akibat pemanasan global pada wanita seperempat lebih tinggi dibandingkan pria. Sementara pada lansia, mereka menjadi kelompok paling terdampak dengan dua kali lebih banyak mengalami pengurangan waktu tidur.

Menurut pada ilmuwan asal Denmark itu, wanita memiliki kadar lemak yang lebih tinggi dibandingkan pria. Sehingga wanita cenderung mengalami penurunan suhu tubuh yang lebih lambat.

Sementara pada kelompok lansia berumur lebih dari 65 tahun, mempunyai sistem regulasi suhu tubuh yang sudah menurun. Tak heran jika mereka menjadi rentan saat ada peningkatan suhu global dengan bisa nyaman untuk tidur di malam hari.

Perlu perhatian pemerintah dunia

Minor menyebutkan studi yang dilakukan bersama timnya memberikan gambaran nyata tentang masalah pemanasan global yang tidak hanya terjadi di negaranya, namun di seluruh dunia. Studi itu penting untuk menjadi landasan kebijakan bagi pemerintah di seluruh dunia dalam pengelolaan kota, termasuk kebijakan struktur bangunan yang tahan terhadap kenaikan suhu.

Penggunaan pendingin udara (AC), kata Minor, bukan solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan itu. Pemakaian AC justru memperburuk kondisi Bumi dengan meningkatkan emisi, yang efek jangka panjangnya suhu menjadi terus meningkat.

Ancaman semakin parah

Ilmuwan mengkhawatirkan kondisi peningkatan suhu sangat berdampak pada negara yang memiliki iklim cenderung hangat, seperti Afrika, Amerika Tengah, dan Timur Tengah. Masyarakat yang tinggal di negara itu dapat lebih cepat mengalami pengurangan waktu tidur di masa mendatang.

Masy, penduduk setempat, mengisi wadah plastik dengan air hujan, di komune Sampona, wilayah Anosy, Madagaskar, 11 Februari 2022. Foto: Alkis Konstantinidis/REUTERS

“Kami mengharapkan individu-individu itu bisa beradaptasi dengan baik,” ucap Minor.

Selain itu, negara berkembang dengan mayoritas masyarakat berpenghasilan rendah juga menjadi negara terdampak selanjutnya. Hal itu terjadi karena mereka tidak bisa membangun rumah dengan struktur tahan terhadap peningkatan suhu serta ketidakmampuan mereka untuk mengakses alat elektronik seperti kipas angin.

Menurut para ilmuwan, pengurangan waktu tidur masih terus berlanjut jika pemanasan global masih terus menghantui Bumi. Ironinya, mereka memprediksi pada 2099, hampir seluruh umat manusia di Bumi akan kehilangan waktu tidurnya sebanyak 50 hingga 58 jam setiap tahun.