Penampakan Tikus Tangkap Kelelawar di Udara Terekam Kamera untuk Pertama Kali
30 Oktober 2025 10:10 WIB
·
waktu baca 2 menit
Penampakan Tikus Tangkap Kelelawar di Udara Terekam Kamera untuk Pertama Kali
Peneliti merekam pertama kalinya tikus coklat menangkap kelelawar di udara di gua Jerman, mengungkap perilaku predator tak terduga dalam ekosistem alami.kumparanSAINS

ADVERTISEMENT
Para peneliti berhasil merekam perilaku langka seekor tikus coklat (Rattus norvegicus) yang dapat menangkap kelelawar spesies Myotis di Segeberger Kalkberg, Jerman, yang sedang terbang di udara.
ADVERTISEMENT
Penampakan ini menjadi dokumentasi pertama dalam dunia ilmiah yang menunjukkan bahwa tikus dapat memangsa kelelawar secara aktif di alam liar, bukan hanya memakan sisa atau bangkai.
Penelitian tersebut dilakukan di dua gua di Jerman, yakni Segeberger Kalkberg dan Lüneburger Kalkberg. Hasil studinya diterbitkan di jurnal Global Ecology and Conservation.
Untuk mengamati interaksi antara tikus dan kelelawar, peneliti memasang kamera inframerah di mulut gua yang menjadi lokasi keluar-masuknya kawanan kelelawar.
Kamera menangkap momen tikus berdiri di atas pijakan batu dan melompat untuk menangkap kelelawar yang terbang rendah dalam beberapa malam pengamatan. Rekaman menunjukkan tikus langsung menggigit dan menyeret kelelawar yang tertangkap ke dalam sarang.
Dari hasil pengamatan, peneliti mencatat lebih dari 30 percobaan serangan, dengan sedikitnya 13 kelelawar yang tewas akibat dimangsa oleh tikus.
ADVERTISEMENT
"Tikus-tikus sering terlihat berpatroli di anjungan pendaratan di pintu masuk gua. Mereka berdiri tegak dengan kaki belakang, menggunakan ekor untuk menjaga keseimbangan, dan mengangkat kaki depan untuk mencegat kelelawar yang terbang," kata para penulis dalam penelitiannya, mengutip IFL Science.
Meski tidak ada serangan langsung yang terekam, kamera menemukan sisa-sisa tubuh kelelawar di sekitar lokasi persembunyian tikus di gua Lüneburger Kalkberg. Hal ini menunjukkan perilaku serupa kemungkinan juga terjadi di tempat lain.
Para peneliti menduga para tikus menggunakan kumis sensitifnya untuk mendeteksi arus udara dari kepakan sayap kelelawar di kegelapan, bukan bergantung pada penglihatan. Perilaku ini memperlihatkan tingkat adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan dan peluang makanan di sekitar mereka.
Tikus merupakan salah satu hewan invasif yang paling tersebar luas di seluruh dunia. Tikus dikenal sangat sukses di daerah perkotaan, tempat mereka berkembang biak karena melimpahnya makanan dan tempat berlindung.
ADVERTISEMENT
Tim peneliti berpendapat bahwa tikus-tikus tersebut mungkin memangsa cukup banyak kelelawar hingga membahayakan populasi mereka, sehingga langkah-langkah konservasi harus difokuskan pada perlindungan spesies asli.
Para ahli juga menyarankan agar pengelola kawasan gua, terutama di daerah tropis seperti Asia Tenggara, melakukan pemantauan terhadap populasi tikus invasif untuk mencegah terjadinya dampak ekologis lebih besar.
Reporter: Muhamad Ardiyansyah
