Tekno & Sains
·
22 Januari 2018 16:04

Penampakan Wajah Manusia 9.000 dan 2.000 Tahun Lalu

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Penampakan Wajah Manusia 9.000 dan 2.000 Tahun Lalu (315250)
Wajah perempuan 9.000 dan 2.000 tahun lalu (Foto: Oscar Nilsson, rekonstruktor)
Rekonstruksi wajah dilakukan pada sebuah tengkorak berusia hampir 9.000 tahun. Tengkorak itu ditemukan di dalam gua Theopetra di Yunani pada tahun 1993. Rekonstruksi ini menunjukkan bagaimana fitur wajah manusia mengalami perubahan selama ribuan tahun.
ADVERTISEMENT
Pemilik tengkorak ini diperkirakan hidup pada 7.000 sebelum masehi, ketika Yunani memasuki akhir masa Mesolitikum dan sedang menjalani masa transisi dari masyarakat pemburu menjadi masyarakat yang mulai menanam sendiri sumber makanannya.
Para arkeolog menamakan tengkorak ini Avgi, yang berarti fajar atau permulaan. Nama tersebut diberikan karena Avgi diduga hidup pada masa permulaan munculnya peradaban di Yunani.
Tidak banyak yang tahu bagaimana kisah hidupnya atau alasan mengapa Avgi meninggal, namun berdasarkan tulang pipi, alisnya yang tebal, serta dagu terbelah, menunjukkan Avgi adalah seorang perempuan.
Wajah Avgi diperlihatkan oleh sekelompok ilmuwan dari University of Athens, Yunani, dalam sebuah acara di Acropolis Museum pada Jumat (19/1) lalu.
Penampakan Wajah Manusia 9.000 dan 2.000 Tahun Lalu (315251)
Wajah perempuan 9.000 tahun lalu (Foto: Oscar Nilsson, rekonstruktor)
Untuk merekonstruksi wajah Avgi tidaklah mudah. Dibutuhkan bantuan dari ahli endokrinologi, ortopedi, neurologi, patologi, dan radiologi agar rekonstruksi wajah Avgi bisa sesuai dengan tengkorak yang ditemukan.
ADVERTISEMENT
Rekonstruksi ini dipimpin oleh ahli gigi, Manolis Papagrisorakis. Ia mengatakan, dari tulangnya, Avgi tampak seperti perempuan berusia 15 tahun, namun jika berdasarkan giginya, ia terlihat berusia 18 tahun.
Rekonstruksi dibantu oleh tim dokter dan bekerja sama dengan Oscar Nilsson, seorang arkeolog dan juga pemahat dari Swedia. Nilsson sudah merekonstruksi banyak wajah dari masa lalu dan mengatakan kalau Zaman Batu adalah zaman favoritnya.
“(Zaman Batu) adalah zaman yang sangat panjang, tidak seperti zaman kita, tapi secara fisik kita serupa (dengan manusia dari Zaman Batu),” katanya kepada National Geographic.
Proses rekonstruksi dimulai dengan melakukan CT Scan pada tengkorak Avgi, dan kemudian menggunakan printer 3D untuk menciptakan replikanya. Setelah itu dilakukan pengukuran tengkoraknya, sementara warna mata dan kulit berdasarkan pada dugaan warna yang umum pada masyarakat di daerah tersebut kala itu.
ADVERTISEMENT
Wajah Manusia Mengalami Perubahan Seiring Berjalannya Waktu
Sebelumnya pada 2010 lalu, Papagrisorakis, Nilsson, dan University of Athens pernah melakukan rekonstruksi wajah pada anak berusia 11 tahun bernama Myrtis asal Athena. Myrtis diperkirakan hidup pada 430 sebelum masehi atau sekitar 2.000 tahun lalu. Ia diduga meninggal dunia akibat adanya wabah tifus yang mematikan pada abad ke lima sebelum masehi.
Myrtis dan Avgi memiliki perbedaan umur 7.000 tahun, dari sini sudah terlihat bahwa wajah manusia berubah menjadi lebih lembut.
“Wajah Avgi sangat unik, tengkorak dan fitur wajahnya tidak tampak seperti perempuan. Sementara wajah Myrtis tidak berbeda dengan anak-anak sekarang,” kata Nilsson seperti dikutip dari National Geographic.
“Setelah merekonstruksi banyak wajah manusia dari Zaman Batu, saya merasa sebagian wajah manusia semakin lembut seiring berjalannya waktu. Intinya kita menjadi tidak semaskulin dulu.”
Penampakan Wajah Manusia 9.000 dan 2.000 Tahun Lalu (315252)
Wajah perempuan 2.000 tahun lalu (Foto: Oscar Nilsson, rekonstruktor)
ADVERTISEMENT