Kumparan Logo

Pendeta Gugat OpenAI, Klaim Saran Medis ChatGPT Keliru dan Ia Hampir Meninggal

kumparanSAINSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi OpenAI ChatGPT. Foto: subh_naskar/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi OpenAI ChatGPT. Foto: subh_naskar/Shutterstock

Seorang pendeta asal Florida, AS, menggugat OpenAI dan CEO Sam Altman. Ia mengeklaim saran medis yang keliru dari ChatGPT membuatnya menunda mencari pertolongan hingga mengalami emboli paru yang hampir merenggut nyawanya.

Pria bernama Scott Winters mengajukan gugatan tersebut ke pengadilan negara bagian California di San Francisco pada 22 Juli 2026. Gugatan itu berkaitan dengan jawaban GPT-4o, model AI lama yang kini telah dihentikan OpenAI.

Menurut dokumen gugatan, Winters menggunakan ChatGPT untuk berkonsultasi mengenai keluhan pusing berulang pada tahun lalu. Chatbot tersebut disebut menyarankannya membatasi aktivitas fisik dan tetap berada di rumah.

Winters kemudian menanyakan rasa nyeri bila ditekan di bagian selangkangan. ChatGPT menjawab kondisi tersebut kemungkinan bukan sesuatu yang berbahaya.

Sehari setelah menanyakan keluhan itu, Winters harus menjalani perawatan di rumah sakit. Rasa nyeri tersebut diduga menjadi tanda adanya pembekuan darah yang berkaitan dengan emboli paru. Dokter menyebut kondisi itu kemungkinan dipicu oleh kurangnya pergerakan, sebagaimana tercantum dalam gugatan.

Emboli paru terjadi ketika pembuluh darah di paru-paru tersumbat, umumnya oleh gumpalan darah. Kondisi tersebut dapat mengancam nyawa.

Dalam beberapa bulan sebelum emboli terjadi, Winters kerap membagikan diagnosis dan hasil pemeriksaan medisnya kepada ChatGPT. Chatbot kemudian memberikan rencana perawatan holistik dan menggunakan bahasa bernuansa pelayanan Kristen untuk mempertahankan keterlibatan pengguna.

"Bahkan ini dalam pengawasan Tuhan," kata ChatGPT kepada Winters, menurut dokumen gugatan, mengutip Reuters.

Ilustrasi ChatGPT. Foto: Aditya Panji/kumparan

Pada awal percakapan, chatbot masih menyarankan Winters berkonsultasi dengan tenaga medis. Namun, peringatan tersebut disebut tidak lagi muncul dalam respons berikutnya.

Gugatan juga mengeklaim ChatGPT tetap menyarankan Winters tinggal di rumah setelah ia keluar dari rumah sakit. Chatbot bahkan disebut mendorongnya menghindari program rehabilitasi yang telah direkomendasikan dokter.

OpenAI: ChatGPT Bukan Dokter

Juru bicara OpenAI, Drew Pusateri, mengatakan perusahaan percaya percakapan berbasis AI dapat membantu layanan kesehatan. Namun, ChatGPT bukan dokter dan tidak boleh digunakan sebagai pengganti layanan medis.

"Memperlakukan chatbot sebagai satu-satunya penyebab di balik keputusan atau hasil medis seseorang terlalu menyederhanakan tantangan yang jauh lebih besar," ujar Pusateri.

Menurutnya, pendekatan tersebut juga berisiko menghambat masyarakat mengakses perangkat baru yang dapat membantu perjalanan kesehatan mereka.

Winters meminta ganti rugi dan meminta pengadilan agar OpenAI mengambil langkah menyetop percakapan ketika pengguna membutuhkan pertolongan medis segera.

Ia juga meminta pengadilan menunda peluncuran ChatGPT 4o Health sampai pihak ketiga menyelesaikan audit keamanan. Produk kesehatan tersebut memungkinkan pengguna mengunggah rekam medis dan menerima saran kesehatan yang dipersonalisasi.