Peneliti Bosscha Sebut Ada Potensi Perbedaan Awal Bulan Ramadan Tahun Ini
·waktu baca 3 menit

Jelang Ramadan 2022, tim peneliti astronomi mulai melaksanakan pengamatan hilal di Observatorium Bosscha, Lembang, Bandung Barat. Pengamatan dilakukan mulai 29 Maret hingga 2 April 2022, dari pagi sampai bulan terbenam di ufuk Barat.
Para ilmuwan menggunakan teleskop berukuran 106 mm berjenis refraktor yang dilengkapi detektor kamera berbasis CCD untuk mengamati hilal. Citra yang ditangkap oleh kamera kemudian diproses menggunakan perangkat pengolahan citra untuk meningkatkan tampilan sabit bulan.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di Observatorium Bosscha, konjungsi atau ijtimak Ramadan 1443 H di Indonesia terjadi sebelum Matahari terbenam (waktu konjungsi) pada Jumat (1/4) pukul 13.24 WIB. Sementara Matahari terbenam pada 1 April 2022 terjadi pukul 17.58 WIB, dan Bulan terbenam pada 18.09 WIB.
Usia Bulan saat Matahari terbenam 4 jam 30 menit dengan elongasi Bulan 3 derajat. Adapun tinggi hilal sebesar 1,48 derajat, sedangkan selisih terbenam Matahari dan Bulan berkisar 11 menit.
Peneliti Observatorium Bosscha, Muhammad Yusuf menjelaskan, dengan melihat data-data tadi, kemungkinan hilal bisa terlihat besok sangat kecil. Selain diprediksi ada gangguan atmosfer dan turbulensi, hasil pengamatan ketinggian Bulan saat Matahari terbenam di seluruh Indonesia pada 1 April 2022 juga menunjukkan di bawah 2 derajat.
“Tidak ada kondisi Bulan di mana ketinggiannya di atas 2 derajat ketika Matahari terbenam pada 1 April 2022. Jadi kalau kita memakai kriteria MABIMS, ketinggian 2 derajat dengan elongasi 3 derajat dan umur Bulan 8 jam, itu tidak ada yang memenuhi di seluruh Indonesia,” kata Yusuf dalam konferensi pers yang dilakukan secara virtual, Kamis (31/3).
Bahkan menggunakan teknik yang kami kembangkan sekalipun kemungkinan Bulan terlihat masih sangat menantang. Jadi, kalau pertanyaannya apakah besok ada potensi perbedaan? Tentu saja ada potensi tersebut karena bergantung kriteria yang digunakan.
- Muhammad Yusuf, Peneliti Observatorium Bosscha -
“Kalau misalkan butuh melihat (hilal) berarti harus menunggu besok harinya lagi tanggal 2 April 2022. Kalau tidak perlu melihat berarti sudah bisa ditetapkan. Tentu saja itu bukan wewenang kita. Kita serahkan siapa yang harus berwenang.”
Sebagai catatan, Muhammadiyah menggunakan kriteria Wujudul Hilal dalam menentukan 1 Ramadan, dan dengan begitu, mereka telah menetapkan 1 Ramadan 1443 jatuh pada 2 April 2022.
Sementara itu, secara umum di wilayah Indonesia tinggi Bulan kurang dari 2 derajat. Artinya, rukyatul hilal (pengamatan hilal) pada saat maghrib 1 April 2022 berpotensi tidak terlihat sehingga 1 Ramadan 1433 H akan jauh pada 3 April 2022. Inilah yang menyebabkan adanya potensi penetapan tanggal 1 Ramadan 1443.
Kendati begitu, umat Islam sebaiknya menunggu keputusan Menteri Agama RI yang akan diumumkan pada Jumat (1/4) malam setelah sidang isbat.
