kumparan
25 Februari 2019 19:24

Peneliti Sebut Bayi Kembar 'Super' China Bisa Tumbuh Sangat Cerdas

Ilustrasi bayi kembar
Ilustrasi bayi kembar Foto: Shutterstock
Akhir 2018 lalu, He Jiankui mengungkapkan “tindakan gilanya” kepada dunia. Ia mengaku telah melakukan suatu pengeditan genetik dengan metode CRISPR kepada dua bayi kembar di China saat keduanya masih dalam tahap embrio.
ADVERTISEMENT
Jiankui menghapus gen CCR5 pada embrio kedua bayi kembar itu. Tujuannya untuk membuat keduanya menjadi manusia "super" yang kebal terhadap infeksi HIV.
Namun akibatnya, dunia mengecam aksi ilmuwan China itu. Jiankui mendapat kritik keras dari koleganya, menjadi tahanan rumah, dan aksinya kini sedang diinvestigasi Pemerintah China.
 He Jiankui, peneliti China
He Jiankui, peneliti China yang klaim lakukan edit genetik pada dua bayi. Foto: AP Photo/Mark Schiefelbein
Sekarang, hasil sebuah riset terbaru mengungkap hal lain yang mungkin dialami bayi kembar tersebut. Dalam makalah riset yang terbit di jurnal Cell, para peneliti menduga bahwa menghapus CCR5 punya efek positif terhadap otak bayi kembar bernama Lulu dan Nana itu.
Para peneliti mengatakan bahwa penghapusan gen CCR5 bisa meningkatkan kemampuan memori dan potensi belajar bayi kembar tersebut. Klaim ini berdasarkan hasil eksperimen mereka pada tikus dan otak para penderita stroke.
ADVERTISEMENT
Efek penghapusan CCR5 tidak hanya membuat tikus punya memori yang lebih baik, tapi juga meningkatkan kemampuan regenerasi otak manusia setelah serangan stroke.
Stroke
Ilustrasi stroke di otak. Foto: Thinkstock
Meski begitu, Alcino J Silva, ahli saraf dari University of California sekaligus anggota tim peneliti dalam riset, mengatakan bahwa efek pasti penghapusan gen tersebut tidak mungkin diprediksi.
"Interpretasi paling simpelnya adalah mutasi-mutasi yang muncul mungkin akan berpengaruh pada fungsi kognitif si kembar," ujar Silva sebagaimana dilansir MIT Technology Review.
Sebelumnya, pada November 2018, dalam konferensi internasional pengeditan gen (Human Gene Editing Summit) di China, Jiankui juga mengatakan bahwa dirinya mengetahui efek dari penghapusan CCRS, yaitu peningkatan memori pada tikus. Temuan itu merupakan hasil riset Silva sebelumnya yang dipublikasikan pada 2016.
ADVERTISEMENT
"Saya melihat makalah itu, dan saya merasa hasilnya memerlukan verifikasi independen," kata dia seperti dikutip dari ABC News.
Embrio, peneliti China
Ilustrasi pengeditan genetik embrio. Foto: AP Photo/Mark Schiefelbein
Mungkin baik, tapi manusia belum siap
Riset terbaru mengenai CCR5 memang menunjukkan bahwa mereka yang kehilangan salah satu salinan dari gen CCR5 punya performa yang lebih baik di sekolah. Dari situ para peneliti menghubungkannya dengan kecerdasan seseorang.
"Apakah bisa dibayangkan jika pada suatu waktu di masa depan kita bisa meningkatkan IQ masyarakat? Kalau saya jawab tidak, maka saya bukan seorang ilmuwan," kata Silva.
"Riset pada tikus menunjukkan bahwa jawabannya mungkin iya. Tapi tikus bukan manusia. Kita tidak tahu konsekuensi melakukan ini dan kita belum siap untuk itu," imbuh dia.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan