Peneliti Temukan Bukti Orang Sekarat Bakal Lihat Kenangan Semasa Hidup
·waktu baca 3 menit

Para peneliti menemukan sesuatu yang mengejutkan ketika seorang pasien lansia tiba-tiba meninggal dunia saat melakukan tes rutin: Selama 30 detik sebelum dan sesudah jantung pria berhenti berdetak, gelombang otaknya sangat mirip dengan gelombang otak kenangan, terlihat seperti bermimpi mengingat memori dan meditasi, menunjukkan orang itu mungkin sedang melihat kilas balik hidupnya, “berkilat di depan matanya ketika sekarat”.
Fenomena mengulang ingatan masa lalu ketika orang akan meninggal telah dilaporkan oleh beberapa orang yang mengaku pernah mengalami pengalaman hampir mati. Namun ini adalah bukti ilmiah pertama bahwa “kilatan” ingatan itu mungkin nyata. Kendati begitu, karena ini adalah satu-satunya studi kasus, maka belum bisa ditentukan seberapa umum fenomena dialami oleh orang.
Peneliti membuat penemuan mengejutkan pada 2016 saat mempelajari aktivitas otak pada seorang lansia di Kanada berusia 87 tahun yang mengalami epilepsi, dan studinya telah terbit di jurnal Frontiers in Aging Neuroscience. Kala itu tim tengah melakukan electroencephalogram (EEG)--tes untuk mendeteksi kelainan pada aktivitas listrik otak– guna mempelajari lebih lanjut tentang apa yang terjadi selama pasien kejang.
Saat itulah pria tersebut mengalami serangan jantung fatal dan meninggal dunia. Kematian pasien yang tak terduga ini memungkinkan tim secara tidak sengaja membuat rekaman pertama dari otak yang sekarat.
Secara total peneliti mencatat sekitar 900 detik aktivitas otak menjelang dan setelah pasien meninggal. Dari sini peneliti bisa melihat bagaimana osilasi sarafnya–pola berulang dari aktivitas saraf yang dikenal gelombang otak– berubah saat pasien sekarat. Mereka menemukan bahwa 30 detik sebelum dan sesudah jantungnya berhenti berdetak, ada perubahan yang tidak biasa pada aktivitas gelombang otaknya.
“Tepat sebelum dan setelah jantung berhenti bekerja, kami melihat perubahan pada pita osilasi saraf tertentu. Jenis osilasi khusus ini dikenal sebagai gelombang gamma,” kata dr. Ajmal Zemmar, peneliti senior dan ahli bedah saraf di University of Toronto di Kanada.
Osilasi saraf diklasifikasikan berdasarkan frekuensi dan amplitudonya. Gelombang gamma memiliki frekuensi antara 30 dan 100 hertz, frekuensi tertinggi dari setiap osilasi dan paling sering diamati di otak ketika orang mengakses pusat memori mereka di wilayah yang disebut hippocampus selama mimpi.
Tim juga mengumpulkan data ihwal jenis osilasi lain selama kematian, termasuk gelombang delta, theta, alfa dan beta. Hasilnya, gelombang gamma yang diteliti menunjukkan bahwa otak pria telah memutar ulang ingatan semasa dia hidup–sebuah fenomena yang dikenal sebagai life recall.
"Melalui pembangkitan osilasi yang terlibat dalam pengambilan memori, otak mungkin memainkan penarikan terakhir dari peristiwa kehidupan penting sebelum kita mati, mirip dengan yang dilaporkan dalam pengalaman mendekati kematian," kata Zemmar.
Percobaan pada tikus juga menunjukkan, hewan pengerat juga mengalami tingkat osilasi gamma yang serupa detik-detik waktu kematiannya. Oleh karena itu, para peneliti berpikir bahwa ingatan hidup mungkin merupakan pengalaman universal yang dimiliki oleh mayoritas otak mamalia yang sekarat, meski hanya sedikit bukti yang mendukung gagasan ini.
Meski begitu peneliti bilang, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa melihat ingatan hidup diambang kematian adalah fenomena nyata mengingat pria yang diteliti sudah tua dan menderita epilepsi yang diketahui dapat mengubah aktivitas gelombang gamma. Ini berarti aktivitas otak saat dia meninggal bisa berbeda dari orang tanpa epilepsi.
Selain itu, belum diketahui apakah pria itu benar-benar melihat atau merasakan ingatan masa lalunya, atau apakah dia hanya dalam keadaan seperti mimpi yang disebabkan oleh sistem saraf yang gagal. Jadi, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memperkuat temuan ini.
