Penjelasan Ahli soal Misteri Terdamparnya 480 Paus Pilot

Fenomena terdamparnya paus berukuran raksasa di pinggir pantai sering terjadi di seluruh dunia. Bukan cuma ukuran tubuhnya yang besar, paus-paus bisa terdampar dalam jumlah yang sangat banyak dalam satu waktu bersamaan.
Awal pekan ini, 21 September, sebanyak 280 ekor paus pilot terdampar di bibir pantai di Australia. Dua hari berselang, pantauan udara menemukan 200 paus lain dilaporkan terdampar sekitar 10 kilometer dari titik penemuan awal. Ini menjadi kasus terdamparnya paus yang paling besar dalam sejarah Australia. Totalnya mencapai 480-an paus.
Pada 25 September, hari keempat upaya penyelamatan, sekitar 350 paus telah mati, 94 berhasil dikembalikan ke laut hidup-hidup dan kru masih berjuang untuk 20 ekor lainnya yang mereka harap dapat diselamatkan.
Ahli biologi kelautan, Olaf Meynecke, mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya dialami hewan paus ini ketika kasus terdampar massal terjadi. Dia bilang ini seperti seseorang yang berada dalam gelap, tetapi berusaha mencari pintu keluar dengan cara mendengarkan orang lain berteriak minta tolong di sisi yang entah di mana.
"Bayangkan mencari sebuah pintu dalam ruangan yang gelap total sambil mendengarkan orang kesayangan Anda berteriak meminta tolong dari sisi lainnya," katanya, memberi gambaran yang dialami para paus.
"Ketika paus mendapatkan masalah, mereka memanggil (kerabatnya)," ujar Meynecke, kepada The Age. "Panggilan yang mereka lakukan sangat mengganggu. Bukan panggilan normal. Anda dapat mendengar suara mereka, penuh kesulitan."
"Seperti kita, beberapa paus lebih memilih keselamatan kerabatnya dibanding keselamatan diri sendiri, mereka akan mencoba menghampirinya."
Kenapa banyak paus bisa terdampar?
Ilmuwan kelautan, Vanessa Pirotta, mengutarakan bahwa banyak teori ihwal penyebab terdamparnya paus. Beberapa teori menyatakan bahwa paus terdampar karena kesalahan navigasi.
Selain itu, ada juga yang disebabkan kekurangan makanan sehingga paus harus mencari hingga dekat pantai. Cuaca buruk, predator, hingga arus laut juga disebut dapat menjadi penyebabnya. Sonar militer bawah laut dan gempa bumi juga dikatakan dapat mengganggu sistem ekolokasi paus hingga membuatnya terdampar.
Namun, dalam kasus yang melibatkan ratusan ekor paus, ilmuwan meyakini ada hal yang lebih rumit terjadi. Meynecke menyebut ada faktor kesalahan 'pemimpin' dalam satu kelompok paus.
"Paus pilot membuat kelompok dalam jumlah yang lebih besar dibanding paus lain, biasanya mereka punya kelompok inti, terdiri dari 20 atau 30 ekor," ujar Meynecke. Kelompok-kelompok itu biasanya juga dapat bergabung menjadi satu kelompok besar untuk kawin atau berburu.
Artinya, kasus terdamparnya paus secara massal terjadi secara berturut-turut, bukan satu kejadian besar. "Mereka tidak pernah ke pantai bersamaan, beberapa datang, beberapa jam kemudian yang lain, bahkan beberapa hari kemudian lebih banyak lagi yang datang."
Dalam kasus ini, beberapa kelompok datang secara bersamaan, kemudian salah satu pemimpin kelompok, mungkin kebingungan atau kelaparan, justru memimpin kawanannya ke arah yang salah hingga terdampar.
Uniknya, menurut Meynecke, paus-paus lain akan berusaha menjawab panggilan pertolongan yang diberikan paus di bibir pantai. Paus-paus lain pun tidak ingin meninggalkan anggota kelompoknya kesulitan hingga akhirnya justru ikut terdampar.
Kondisi ini akhirnya membuat ratusan ekor paus terdampar di suatu pantai. Kekacauan pun terjadi karena jumlah, ukuran, dan suara menyayat hati yang terus dikeluarkan para paus.
Selain itu, bibir pantai berpasir juga menyebabkan paus memperoleh masalah navigasi. “Ekolokasi paus bekerja paling baik ketika mereka berada di lautan terbuka atau di mana ada batuan keras untuk memantulkannya,” ungkap Meynecke.
“Bibir pantai menyerap sonar yang mereka keluarkan terlalu cepat, jadi paus harus berada pada jarak yang sangat dekat untuk mengetahui bahwa pantai berpasir ada di depan mereka.”
Ketika mereka akhirnya sadar bahwa mereka telah mendekati pantai terlalu jauh, semua sudah terlambat. “Mereka tak tahu harus ke mana, atau bagaimana cara keluar dari sana, mereka kehabisan air. Mereka panik,” ujar Meynecke.
Mengapa menolong paus yang terdampar sangat sulit?
Bayangkan Anda berada di planet alien tanpa pakaian luar angkasa. Anda dapat bernapas, namun gravitasi menghancurkan paru-paru Anda di dalam dada. Lalu, radiasi sinar matahari juga membuat kulit Anda kering dan mendidih. Anda bahkan tak dapat bergerak sama sekali.
Menurut ilmuwan, itu adalah apa yang dialami paus ketika terdampar. Sebagai mamalia, paus tetap dapat bernapas lewat udara. Namun, hewan tersebut tidak dirancang untuk hidup di darat.
Bagi paus berukuran besar, tulang-tulang pada tubuh paus akan patah dan hancur tertindih tubuh paus itu sendiri. Selain itu, kulit paus tidak mampu menahan terpaan radiasi matahari secara langsung. Mereka akan kepanasan, kering, dan pada akhirnya mati.
“Paus tidak dapat berkeringat, mereka tidak bisa mendinginkan tubuhnya sendiri, terutama paus pilot, mereka (berwarna hitam), mereka overheat dalam waktu yang singkat,” ujar Meynecke.
Selain itu, paus juga bisa mati karena tidak bisa bernapas. Hal ini dapat terjadi ketika lubang napas yang ada di bagian atas tubuhnya tertutup atau paus terdampar dalam posisi terbalik.
Namun biasanya, yang akan membunuh paus yang terdampar adalah rasa stres yang mereka alami. Zat kimia pada tubuh mereka akan bereaksi ketika hewan tersebut panik. Jika tidak segera ditolong, zat-zat kimia itu akan terakumulasi hingga dosisnya dapat menyebabkan kematian.
Meski begitu, bukan berarti paus yang sudah terdampar tidak dapat diselamatkan. Usaha penyelamatan selalu diusahakan oleh penjaga pantai, ilmuwan, dan para ahli.
“Anda harus dapat menilai hewan mana yang sudah (terdampar) terlalu jauh, mana yang dapat dipindahkan, jika ada anak paus, di mana ibunya,” kata Meynecke.
Memindahkan paus kembali ke laut juga merupakan usaha yang melelahkan. Biasanya, tim penyelamat akan menunggu laut pasang agar mempermudah proses penyelamatan. Namun, arus pasang juga dapat membahayakan tim ketika paus mengalami kepanikan.
“Ketika kami mendapatkan hewan (terdampar) yang masih hidup, memiliki kesempatan (untuk diselamatkan), dan kami memiliki sumber daya yang cukup, tentu kita pasti akan mencobanya,” ujar Nic Deka, tim dari Layanan Alam dan Taman Tasmania, Australia, kepada The Age.
Namun, ada sebuah fenomena lain yang membuat proses menjadi lebih sulit. Paus yang sudah diselamatkan dan kembali ke laut, sering berenang kembali ke pantai hingga terdampar lagi.
Menurut Meynecke, paus-paus itu memahami risiko yang mereka ambil ketika berenang kembali ke pantai dan terdampar. Namun mereka tetap melakukannya. “Mereka ingin tetap bersama,” ujar Meynecke.
Oleh karena itu, tim biasanya menyiapkan garis di bibir pantai untuk mencegah hal ini terjadi. Sekelompok relawan ditugaskan untuk menghalau segala paus yang mencoba mendekati pantai.
Uniknya, ketika paus di laut yang menghampiri paus terdampar di pantai diteliti, keduanya tidak memiliki hubungan genetik. Keduanya bukan merupakan keluarga dekat.
“Tapi kita tahu bahwa paus dan lumba-lumba dapat membentuk pertemanan seumur hidup seperti manusia, dan keluarga dapat berubah. Atau mungkin mereka tidak mampu membedakan suara antar individu paus seperti yang dapat mereka lakukan ketika di laut.”
“Apa yang mereka dengar adalah suara meminta tolong, jadi, tidak peduli bahwa (suara tersebut tidak berasal) dari anaknya, paus-paus tersebut tetap akan pergi (menjawab panggilan,” ungkap Meynecke.
(EDR)
***
Saksikan video menarik di bawah ini.
