Kumparan Logo

Penyebab Cuaca Panas di Siang Hari: Tutupan Awan Minim, Sinar Matahari Intens

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga menggunakan payung saat berjalan di trotoar kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (16/3/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Warga menggunakan payung saat berjalan di trotoar kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (16/3/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jabodetabek, diterpa cuaca panas menyengat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan kondisi tersebut disebabkan oleh minimnya tutupan awan, sehingga paparan sinar Matahari semakin intens menusuk kulit.

Banyak warga mengeluhkan cuaca panas bersuhu tinggi, hingga mencapai 36 derajat Celsius, di media sosial. Beberapa di antaranya bahkan mengaku harus menyalakan pendingin ruangan (AC) dan kipas secara bersamaan.

Agita Vivi, Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, cuaca panas yang terjadi di Indonesia belakangan ini umumnya disebabkan oleh pengaruh dominasi angin timuran dari Australia seiring menguatnya Monsun Australia yang membawa massa udara lebih ke wilayah Indonesia.

Kondisi udara yang lebih kering ini membuat pertumbuhan awan berkurang, sehingga tutupan awan lebih sedikit. Akibatnya, paparan sinar Matahari ke permukaan menjadi lebih intens. Selain itu, posisi semu Matahari yang berada di sekitar Khatulistiwa menandakan bahwa intensitas sinar Matahari sedang mencapai puncaknya di wilayah Indonesia.

"Akibatnya suhu siang hari terasa lebih terik, terutama di wilayah perkotaan yang diperkuat oleh efek panas dari jalan, bangunan, dan aktivitas manusia," papar Agita kepada kumparan, Senin (27/4).

Hal yang sama diungkap oleh Siswanto, Koordinator Bidang Informasi Iklim Terapan BMKG. Dia menyebut cuaca panas di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, berkaitan erat dengan gerak semu Matahari di atas wilayah Indonesia yang biasanya melewati Pulau Jawa dua kali, yaitu pada April dan Mei, serta September dan Oktober.

Berdasarkan data pengamatan dari stasiun meteorologi BMKG, biasanya fluktuasi suhu udara tahunan mencapai puncaknya pada September dan Oktober, disebabkan oleh radiasi maksimal yang datang dari sinar Matahari karena minimnya tutupan awan di musim kemarau.

Petugas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan pantauan suhu udara di Kantor BMKG, Jakarta. Foto: Aprilio Akbar/ANTARA FOTO

Lonjakan suhu udara permukaan di Indonesia juga tercatat umumnya terjadi pada bulan-bulan tersebut pada saat intensitas keringnya musim kemarau bertambah, dipengaruhi oleh hadirnya fenomena El Niño.

Selain itu, kelembapan juga memainkan peran penting. Agita menyebut kelembapan udara yang meningkat dapat membuat tubuh terasa lebih gerah karena proses penguapan keringat tidak berlangsung optimal.

Pengaruh Indeks Ultraviolet Sinar Matahari

Lebih lanjut Agita menjelaskan, kondisi cuaca panas juga bisa diakibatkan oleh pengaruh indeks ultraviolet (UV) yang lebih tinggi, meski tidak secara langsung dan bukan menjadi penyebab utama kenaikan suhu udara.

Ketika tutupan awan berkurang akibat dominasi udara kering, sinar Matahari termasuk radiasi ultraviolet akan lebih banyak mencapai permukaan tanpa terhalang awan, sehingga nilai indeks UV pada siang hari dapat meningkat.

Dalam kondisi langit cerah, paparan sinar Matahari bisa terasa lebih menyengat di kulit dan menambah sensasi panas. Meski begitu, secara keseluruhan udara panas yang terasa sebenarnya disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kondisi atmosfer, kelembapan udara, serta minimya tutupan awan.

“Jadi, indeks UV yang tinggi lebih berkontribusi pada rasa terik dan risiko paparan sinar matahari, sementara panas udara dipengaruhi kombinasi faktor meteorologis lainnya,” paparnya.

Ilustrasi Perempuan Sinar Matahari. Foto: tete_escape/Shutterstock

Kapan Musim Kemarau di Indonesia?

Meski sebagian besar wilayah Indonesia mengalami cuaca panas terik, beberapa daerah masih diguyur hujan, seperti di Bogor dan Depok. Artinya, musim kemarau memang belum terjadi secara merata di wilayah Indonesia. Ini disebabkan karena Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas dengan dinamika atmosfer berbeda-beda di tiap daerah.

Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia memang mulai memasuki musim kemarau. Namun potensi hujan masih terjadi di beberapa wilayah termasuk Depok dan Bogor yang diakibatkan oleh faktor lokal, seperti kelembapan udara yang masih cukup basah, pertemuan angin, kondisi topografi pegunungan di sekitar Bogor yang turut mendukung pembentukan hujan.

- Agita Vivi, Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG -

Hal ini diperkuat dengan Analisis Perkembangan Musim Kemarau Dasarian II April 2026. Berdasarkan jumlah ZOM (Zona Musim), sebanyak 10.4% wilayah Indonesia (73 ZOM) telah mengalami musim kemarau.

Wilayah yang sudah mengalami musim kemarau meliputi sebagian kecil Aceh, sebagian kecil Sumatera Utara, sebagian kecil Riau, sebagian Kep. Riau, sebagian kecil Banten, sebagian kecil Jawa Barat, sebagian kecil Jawa Tengah, sebagian kecil Bali, sebagian Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagian kecil Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagian Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara, dan sebagian Maluku.

Secara umum, Indonesia akan memasuki periode musim kemarau pada bulan Juni - September 2026, dan mencapai puncaknya pada bulan Agustus - September 2026.

“Suhu udara menurun signifikan umumnya pada Januari hingga Februari, saat musim hujan mencapai puncaknya, di mana hujan lebat memberi efek pendinginan pada udara kita, selain berkurangnya permukaan bumi terpapar sinar matahari karena banyaknya tutupan awan tebal,” kata Siswanto.