Penyebab Siang Panas Sore Hujan di Jakarta menurut BMKG

Apakah kamu merasa cuaca saat ini tidak menentu? Siang terasa panas dan gerah, masuk sore malah diguyur hujan. Anomali cuaca ini dirasakan di Jakarta dan sekitarnya, serta pulau Jawa.
Padahal Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pernah menyebutkan musim kemarau di Indonesia sudah terjadi sejak awal April 2025, berlangsung secara bertahap di berbagai wilayah. Lantas, apa yang terjadi?
Menurut Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, M.Sc., Deputi Bidang Klimatologi BMKG, hasil analisis menunjukkan baru 8 persen Zona Musim yang teridentifikasi masuk musim kemarau sampai awal Mei 2025. Artinya, sebagian besar wilayah Indonesia memang masih mengalami musim hujan.
“Sebagaimana prediksi BMKG pada Maret 2025, kemarau tahun ini memang diprediksi akan mundur pada 29% zona musim,” papar Ardhasena melalui pesan singkat kepada kumparan, Rabu (21/5).
Dia menjelaskan, hujan yang terjadi pada awal Mei 2025 dipicu oleh adanya gangguan cuaca skala mingguan. Meski begitu, prediksi skala dasarian menunjukkan curah hujan dasarian akan mulai berkurang pada akhir Mei 2025. Sebagian besar wilayah Jawa diprediksi baru akan masuk musim kemarau pada Juni dan Juli 2025.
Selain itu, fenomena cuaca panas terik di siang hari dan hujan di sore hari merupakan tanda dari peralihan musim hujan ke musim kemarau. Kondisi atmosfer yang labil pada masa transisi ini berpotensi memicu terbentuknya awan konvektif seperti Cumulonimbus (CB), yang dapat menyebabkan cuaca ekstrem seperti hujan lebat, petir, angin kencang, bahkan hujan es.
Keadaan dinamika atmosfer yang fluktuatif dan dapat berubah secara tiba-tiba pada periode ini, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem. Kondisi seperti hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang masih mungkin terjadi.
Kapan puncak musim kemarau tiba?
Berdasarkan pemantauan dan analisis dinamika iklim global dan regional yang dilakukan BMKG, musim kemarau 2025 juga diprediksi akan lebih singkat dari biasanya di sebagian besar wilayah Indonesia.
Pada Mei dan Juni, sejumlah wilayah akan mulai terdampak musim kemarau, termasuk sebagian besar wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua. Adapun puncak musim kemarau akan terjadi pada Juni hingga Agustus 2025, dengan wilayah-wilayah seperti Jawa bagian tengah hingga timur, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku diperkirakan mengalami puncak kekeringan pada Agustus.
Terkait sifat musim kemarau 2025, sekitar 60% wilayah diprediksi mengalami kemarau dengan sifat normal, 26% wilayah mengalami kemarau lebih basah dari normal, dan 14% wilayah lainnya lebih kering dari biasanya.
Durasi kemarau diprediksi lebih pendek dari biasanya di sebagian besar wilayah, meskipun terdapat 26% wilayah yang akan mengalami musim kemarau lebih panjang, terutama di sebagian Sumatera dan Kalimantan.
- Dwikorita Karnawati, Kepala BMKG -
Mitigasi kekeringan saat puncak musim kemarau
Dwikorita memberikan beberapa imbauan untuk mengantisipasi kekeringan di sejumlah wilayah saat puncak musim kemarau tiba. Di sektor pertanian, disarankan untuk melakukan penyesuaian jadwal tanam sesuai prediksi awal musim kemarau di tiap wilayah, pemilihan varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan, serta optimalisasi pengelolaan air untuk mendukung produktivitas pertanian di tengah keterbatasan curah hujan.
“Untuk wilayah yang mengalami musim kemarau lebih basah, ini bisa menjadi peluang untuk memperluas lahan tanam dan meningkatkan produksi, dengan disertai pengendalian potensi hama,” imbuhnya.
Untuk sektor kebencanaan, peningkatan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi hal yang sangat krusial, terutama di wilayah yang diprediksi mengalami musim kemarau dengan sifat normal hingga lebih kering dari biasanya.
Pada periode saat ini di mana masih ada hujan, perlu ditingkatkan upaya pembasahan lahan-lahan gambut untuk menaikkan tinggi muka air dan pengisian embung-embung penampungan air di area yang rentan terbakar.
Sementara di sektor lingkungan dan kesehatan, Dwikorita mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi penurunan kualitas udara di wilayah perkotaan dan daerah rawan karhutla, serta dampak suhu panas dan kelembaban tinggi yang dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat.
Adapun sektor energi dan sumber daya air, diimbau untuk mengelola pasokan air secara bijak dan efisien demi menjamin keberlanjutan operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA), sistem irigasi, dan pemenuhan kebutuhan air baku masyarakat selama periode musim kemarau berlangsung.
Dwikorita berharap masyarakat dan pemerintah berkolaborasi untuk menyusun langkah-langkah antisipasi menghadapi musim kemarau 2025.
