Kumparan Logo

Perempuan Afrika Bolak-balik Kena Penyakit Demensia Selama 5 Tahun

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menyehatkan otak Foto: Thinkstock
zoom-in-whitePerbesar
Menyehatkan otak Foto: Thinkstock

Sebuah laporan medis terbaru memperlihatkan satu kasus unik tentang perempuan yang didiagnosis mengidap demensia selama lima tahun terakhir. Tak hanya menunjukkan 'perilaku aneh', gejala demensianya juga reversibel atau bolak-balik.

Dalam studi kasus di jurnal BMJ Case Reports, perempuan yang identitasnya dirahasiakan ini mulai mengalami perubahan bertahap dalam perilaku, seperti berhenti memasak, enggan merapikan rumah, hingga tidak mencuci dengan benar, dan dia mulai menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan terkait dengan demensia. Dia bahkan berjalan tanpa busana di luar rumahnya, atau kadang-kadang berbicara dengan sosok-sosok tak kasat mata.

Perempuan dari Cape Verde, Afrika, itu lantas dibawa ke rumah sakit oleh saudara perempuannya setelah hilang kesadaran dan kejang-kejang. Darahnya dites dan kepalanya diperiksa dengan CT scan, namun tidak kelihatan ciri-ciri kelainan pada keduanya. Kendati hasil elektroensefalografi (EEG) otaknya menunjukkan perlambatan umum, tetapi tidak ada aktivitas epileptiformis (pola EEG yang konsisten dengan epilepsi) di dalamnya.

Kondisinya semakin aneh, setelah hasil-hasil tes yang tidak berbahaya di rumah sakit, dia kembali mengalami kejang saat pulang. Di rumahnya, dia juga terus menunjukkan gejala psikotik. Perempuan berusia 61 tahun ini pun percaya bahwa keluarganya telah mencoba meracuni dirinya, tidak mau berbagi makanan.

Ilustrasi Depresi. Foto: Shutter Stock

"Dia terus berbicara dan berteriak tentang roh-roh kerabat yang sudah meninggal, yang dapat dia lihat dengan jelas, dan tentang siapa yang menyuruhnya untuk berhenti minum obat," tutur saudara perempuannya, seperti dikutip IFLScience.

Selain itu, sang perempuan juga kesulitan dalam mengingat hal-hal kecil, seperti mudah tersesat dan teralihkan, hingga membuatnya tidak dapat pulang sendirian setelah meninggalkan rumah.

Kondisi tersebut membawanya kembali dituntun untuk berobat, dan kali ini dirujuk ke Departemen Psikiatri di Nova Medical School di Lisbon, Portugal. Di sini, ia baru teridentifikasi kekurangan vitamin B12, yakni vitamin yang ditemukan dalam ikan, daging, susu, dan telur, penting untuk fungsi otak, penting juga guna pembentukan sel darah merah.

Para dokter percaya bahwa kekurangan ini merusak lapisan lemak di sekitar sumsum tulang belakang, menyebabkan degenerasi tulang punggung, dan memicu gejala psikotik (kelainan jiwa).

Jadi, setelah lima tahun dianggap menderita demensia, perempuan itu kini didiagnosis mengalami anemia pernisiosa. Penyakit yang disebutkan terakhir ini ialah ketidakmampuan untuk membuat sel darah merah yang cukup sehat. Tidak seperti demensia, penyakit ini lebih mudah untuk diobati.

Ilustrasi depresi Foto: Hailey Kean

"Pasien mengalami pemulihan neuropsikiatri yang luar biasa setelah penggantian vitamin dan manajemen psikofarmakologis," tulis peneliti dalam laporan medis tersebut.

Pasien kemudian diberi suplemen vitamin B12, cyanocobalamin, serta obat anti-psikotik. Segera setelah perawatan, dia langsung berhenti menunjukkan tanda-tanda psikosis dan perilaku agresif.

"Status kognitif pasien meningkat secara dramatis," lanjut penulis riset. "Dia dapat menyesuaikan diri terhadap dalam ruang dan waktu, obrolannya menjadi koheren dan logis, dan secara fungsional dia kembali dianggap normal oleh kerabatnya. Dia sekarang bisa memasak, membantu di sekitar rumah, pergi berbelanja, dan sepenuhnya mandiri dalam kegiatan sehari-hari."

Laporan yang berjudul "Reversible dementia, psychotic symptoms and epilepsy in a patient with vitamin B12 deficiency" itu mencatat bahwa penurunan kognitif yang dikombinasikan dengan psikosis dan kejang-kejang merupakan kejadian sangat langka terjadi pada orang dengan kekurangan vitamin B12. Oleh karenanya, menurut hasil studi ini, para dokter dianjurkan untuk mempertimbangkan kekurangan vitamin B12 ketika memvonis pasien dengan demensia.

"Kasus kami menunjukkan bahwa demensia yang terkait dengan kekurangan vitamin B12 masih dapat dilawan dengan terapi penggantian vitamin, bahkan setelah status defisit yang berkepanjangan."