Pertolongan Pertama saat Terpapar Debu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau berada dalam status Siaga III pada Minggu (6/9). Lontaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau terbawa angin hingga ke wilayah Banten hingga Jabodetabek.
Berbeda dari debu jalanan biasa, abu vulkanik gunung berapi mengandung pecahan batuan tajam, kaca silika, dan mineral mikroskopis. Teksturnya yang padat dan bersudut tajam sangat rentan memicu iritasi pada mata, kulit, dan saluran pernapasan.
Jika kamu berada di wilayah yang terdampak sebaran abu Gunung Anak Krakatau dan terlanjur terpapar, lakukan langkah pertolongan pertama berikut.
Pertolongan pertama jika debu vulkanik terkena mata
Mata merupakan organ yang paling sensitif terhadap gesekan material halus. Partikel silika dari abu Krakatau berisiko tinggi menggores permukaan kornea jika penanganannya salah.
Jangan mengucek mata
Rasa gatal atau ganjalan di mata adalah respons alami, tetapi menguceknya justru akan membuat partikel abu menggores kornea (abrasi kornea).
Bilas dengan air mengalir
Miringkan kepala dan alirkan air bersih atau cairan saline steril dari sudut mata bagian dalam ke arah luar secara perlahan.
Lepas lensa kontak
Kalau kamu pakai lensa kontak, lepaslah dengan kondisi tangan yang sudah dibersihkan. Dilansir Kemenkes RI, jangan gunakan lensa kontak selama abu vulkanik masih menyelimuti pemukiman agar partikel tajam tidak terperangkap di bawah lensa.
Gunakan tetes mata pelembap
Tetes mata pembersih atau lubricant dapat membantu meluruhkan sisa-sisa partikel halus yang masih mengendap.
Membersihkan abu vulkanik dari wajah
Sifat abu vulkanik yang menyerap kelembapan alami dan bertekstur kasar dapat membuat kulit muka terasa perih, gatal, atau kering.
Basuh air tanpa digosok
Langkah awal yang paling krusial adalah membasuh wajah menggunakan air mengalir. Menggosok muka secara langsung saat masih terdapat sisa abu bertindak layaknya amplas yang merusak lapisan kulit luar.
Gunakan pembersih berformula lembut
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, menyebut, setelah partikel kasar luruh, gunakan sabun pencuci wajah berformula lembut (gentle cleanser) tanpa kandungan scrub atau bahan aktif eksfoliasi yang keras. Keringkan wajah dengan menepuk-nepuk handuk bersih secara perlahan, bukan diusap berulang kali.
Oleskan pelembap
Pengaplikasian pelembap (moisturizer) sangat disarankan untuk memulihkan kelembapan alami kulit yang terkikis oleh sifat kimiawi abu.
Bagaimana jika terlanjur menghirup abu vulkanik?
Paparan abu vulkanik pada saluran pernapasan dapat memicu batuk, iritasi tenggorokan, hingga sesak napas—terutama bagi kelompok rentan seperti penderita asma atau lansia.
Segera masuk ke ruangan tertutup
Sebagaimana dirilis Kumparan mengenai imbauan keselamatan di daerah terdampak erupsi, masyarakat diminta segera masuk ke dalam rumah serta menutup rapat pintu, jendela, dan ventilasi untuk meminimalkan sirkulasi udara luar.
Pakai masker yang tepat
Gunakan masker N95 atau KN95 saat terpaksa beraktivitas di luar rumah karena mampu menyaring partikel mikro secara efektif. Jika terdesak, gunakan masker medis berlapis.
Perbanyak minum air putih untuk membantu membasahi tenggorokan dan mempercepat pembersihan saluran cerna serta pernapasan atas secara alami.
Kapan harus periksakan diri?
Meski pertolongan pertama sudah dilakukan, tetap waspadai respons tubuh dalam beberapa jam setelah paparan. Segera kunjungi posko kesehatan atau fasilitas medis terdekat jika mengalami gejala lanjutan seperti:
Penglihatan kabur atau timbul rasa nyeri menetap pada mata
Kulit memerah hebat yang disertai rasa terbakar
Batuk terus-menerus, dada terasa berat, atau sesak napas yang tidak kunjung membaik.
