Kumparan Logo

Perusahaan Roket Milik Eks CEO Google Ditunjuk NASA ke Mars, Saingi SpaceX

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Eric Schmidt, mantan CEO Google, mengakuisisi perusahaan pembuat roket Relativity Space dan menjadi CEO di sana. Foto: Patrick T. Fallon / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Eric Schmidt, mantan CEO Google, mengakuisisi perusahaan pembuat roket Relativity Space dan menjadi CEO di sana. Foto: Patrick T. Fallon / AFP

NASA menunjuk Relativity Space —perusahaan roket yang diakuisisi mantan CEO Google, Eric Schmidt— untuk membawa misi sains ke Mars. Kalau berhasil sesuai rencana, ini bisa jadi misi swasta pertama yang benar-benar mencapai Planet Merah, mengalahkan SpaceX yang selama ini lebih dulu digadang-gadang akan ke sana.

Relativity Space akan membangun wahana antariksa yang membawa serangkaian instrumen ilmiah, meluncurkannya ke luar angkasa, dan menerbangkannya ke Mars.

Misi Bernama Aeolus

Misi ini diberi nama Aeolus, diambil dari nama dewa angin dalam mitologi Yunani. Aeolus akan membawa empat instrumen untuk mengukur dan memotret Mars dari orbit, memberikan apa yang diharapkan NASA sebagai pandangan harian dan global pertama terhadap debu, angin, dan suhu di atmosfer planet tersebut.

Data ini bukan sekadar untuk penelitian akademis. NASA menyebut data tersebut akan membuat pendaratan wahana, dan suatu hari nanti untuk astronaut, agar perjalanan ke permukaan Planet Merah menjadi lebih aman.

Administrator NASA, Jared Isaacman, menjelaskan bahwa dengan memadukan instrumen kelas dunia milik NASA dengan inovasi dan investasi dari sektor komersial, badan antariksa ini bisa menghadirkan lebih banyak sains, lebih sering, dan mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk menyampaikan data penting kepada para peneliti yang sedang bersiap untuk misi manusia ke Mars di masa depan.

Jared Isaacman mencetak sejarah sebagai orang pertama yang menyelesaikan spacewalk komersial pertama yang didanai swasta selama misi SpaceX Polaris Dawn pada September 2024. Foto: AFP/SpaceX

Skema Kontrak: NASA Sediakan Sains, Swasta Sediakan Infrastruktur

Struktur kontrak ini mirip dengan kesepakatan yang NASA buat dengan SpaceX untuk mengirim kargo ke Stasiun Luar Angkasa Internasional, atau dengan Firefly Aerospace untuk mendaratkan wahana di Bulan. Badan pemerintah menangani sisi sains, sementara perusahaan swasta menyediakan infrastruktur berbiaya rendah.

Misi ini dijadwalkan meluncur pada 2028. Ini jadwal yang sangat ketat, mengingat Relativity harus merancang dan membangun wahana antariksa untuk membawa instrumen Aeolus, sekaligus menyelesaikan pembangunan roket yang akan membawanya ke luar angkasa, semuanya dalam tenggat waktu yang sempit. NASA tidak mengungkap berapa nilai kontrak yang dibayarkan kepada Relativity Space.

Model kerja sama seperti ini bukan tanpa alasan. Isaacman, yang sudah dua kali terbang ke luar angkasa lewat misi swasta SpaceX, memang dikenal sebagai pendukung kemitraan publik-swasta semacam ini. Dalam model tersebut, perusahaan yang bekerja sama dengan NASA menanggung sebagian biaya pengembangan proyek, sebagai gantinya NASA bisa memperluas anggarannya —struktur yang kini menjadi pola standar bagi badan antariksa ini dalam membiayai misi-misi ambisius tanpa harus menanggung seluruh risiko finansial sendiri.

Tapi, bukan berarti NASA bebas risiko. Relativity adalah perusahaan yang belum pernah terbukti, dan tidak ada jaminan misi ini akan benar-benar lepas landas. Mitra startup NASA sebelumnya pernah bangkrut atau wahana pendarat Bulan mereka mendarat dalam posisi miring.

Dari Roket 3D-Print yang Gagal, Lalu Diselamatkan Eric Schmidt

Kisah Relativity Space sendiri penuh lika-liku. Perusahaan ini didirikan pada 2015 oleh dua mantan engineer SpaceX dan Blue Origin, dengan gagasan memanfaatkan teknologi pencetakan 3D secara maksimal sebagai jalan untuk membangun roket yang lebih murah.

Sayangnya, perjalanan awal mereka tidak mulus. Desain pertama perusahaan, Terran-1, meluncur pada Maret 2023 namun gagal di tengah penerbangan. Relativity kemudian banting setir dengan beralih ke desain yang lebih besar, dinamai Terran R.

Namun, sebelum Terran R sempat mencapai landasan peluncuran, perusahaan ini menghadapi tantangan pendanaan, hingga akhirnya Schmidt mengambil alih saham mayoritas tahun lalu dan menjadikan dirinya sendiri sebagai CEO.

Schmidt sendiri tidak banyak bicara soal alasan investasinya. Ia diketahui tertarik pada data center orbital, dan diduga menggunakan Relativity untuk meluncurkan teleskop antariksa bernama Lazuli, yang dibiayai oleh lembaga filantropi keluarganya, Schmidt Sciences.

Eric Schmidt, Mantan CEO dan Ketua Google, Ketua dan CEO Relativity Space berbicara di atas panggung selama hari ke-2 Forum Bisnis Amerika di Kaseya Center pada 6 November 2025 di Miami, Florida. Foto: Alexander Tamargo/Getty Images /AFP

Rivalitas dengan Elon Musk?

Bagian paling menarik dari berita ini adalah persaingan personal di baliknya. Kontrak baru ini bisa memberi Schmidt kesempatan untuk "mengungguli" Elon Musk, yang selama ini kerap menjadi lawan debatnya soal isu keamanan AI.

Ironisnya, meski Musk lama dikenal dengan ambisi besarnya menuju Mars lewat SpaceX, kenyataannya berbeda. SpaceX sendiri sebenarnya belum pernah mengirim misi mereka sendiri ke Mars.

Tesla Roadster yang diluncurkan ke arah Mars pada 2018 hanyalah aksi publisitas, bukan misi sains, dan bahkan meleset dari targetnya.

Jika Aeolus milik Relativity meluncur sesuai jadwal, misi ini bisa menjadi misi swasta pertama yang benar-benar mencapai Planet Merah.

Bagi penggemar perkembangan dunia antariksa, kabar ini menarik bukan cuma soal siapa yang "menang" — tapi soal bagaimana lanskap eksplorasi Mars mulai bergeser dari dominasi nama-nama besar seperti SpaceX dan Blue Origin, ke pemain yang sebelumnya dianggap underdog. Relativity Space, yang baru tahun lalu masih bergumul mencari pendanaan, kini justru berpotensi mencatat sejarah lebih dulu dari raksasa-raksasa industri roket yang sudah lebih lama berkecimpung di sektor ini.