kumparan
25 Maret 2020 6:32

Pria AS Tewas Usai Minum Klorokuin Tanpa Resep Dokter untuk Cegah Virus Corona

Polemik obat corona klorokuin
Ilustrasi klorokuin. Foto: Shutter Stock
Seorang pria di Arizona, Amerika Serikat, tewas usai menenggak klorokuin. Sementara sang istri, yang juga minum obat tersebut, kini dalam kondisi kritis. Pasutri berusia 60-an tahun itu bermaksud menangkal virus corona SARS-CoV-2 yang tengah mewabah.
Klorokuin fosfat, dikenal juga dengan nama Chloroquine Phosphate, disebut-sebut oleh Presiden AS Donald Trump sebagai pengobatan potensial untuk COVID-19. Jaringan layanan kesehatan Banner Health menyebut, klorokuin fosfat merupakan senyawa aditif yang juga biasa digunakan sebagai pembersih akuarium, selain untuk pengobatan malaria.
Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (Food and Drug Administration/FDA) sendiri belum menyetujui penggunaan klorokuin untuk pasien COVID-19. Izin pemakaian obat masih sebatas untuk penyakit malaria, lupus, dan rheumatoid athritis atau peradangan sendi.
“Mengingat ketidakpastian seputar COVID-19, kami memahami bahwa orang-orang mungkin berusaha menemukan cara baru untuk mencegah atau mengobati virus ini,” ujar Dr. Daniel Brooks, Direktur Medis Pusat Informasi Racun dan Obat-obatan Banner Health, dikutip CNN.
“Tapi mengobati sendiri (tanpa pengawasan dokter) bukanlah cara untuk melakukannya,” lanjutnya.
Banner Health yang berbasis di Arizona tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang bagaimana pasangan suami-istri tersebut bisa memperoleh klorokuin. Padahal, klorokuin tergolong obat keras yang tidak boleh dikonsumsi tanpa resep dokter. 
Menurut laporan Banner Health, obat yang ditenggak kedua korban langsung menimbulkan efek parah sehingga keduanya harus dilarikan rumah sakit terdekat. Kejadian serupa terjadi di Nigeria. Tiga warga setempat mengalami overdosis setelah mengonsumsi klorokuin.
Peristiwa itu terjadi tak lama setelah Donald Trump mengunggah pernyataan terkait klorokuin lewat akun Twitter-nya. Menurutnya, Hydroxychloroquine, yang masih turunan senyawa Klorokuin, dan Azithromycin secara sekaligus dapat menjadi obat potensial untuk COVID-19
“HYDROXYCHLOROQUINE & AZITHROMYCYN, dikonsumsi bersamaan, memiliki peluang nyata untuk menjadi salah satu pengubah permainan terbesar dalam sejarah kedokteran,” tulisnya pada Sabtu (21/3).
Beberapa studi ilmiah memang mengindikasikan manfaat klorokuin untuk membasmi virus corona SARS-CoV-2. Namun, penelitian-penelitian tersebut masih berada pada tahap awal dan perlu didukung lewat riset lanjutan dengan sampel data yang lebih lengkap.
Komentar Trump praktis membuat pejabat kesehatan maju untuk meralat kekeliruan ini. Masih butuh kajian lebih lanjut untuk membuktikan efikasi obat dalam merawat pasien COVID-19.
SQR - Ilustrasi klorokuin
Ilustrasi klorokuin. Foto: Shutter Stock
Anthony Fauci, pakar penyakit menular terkemuka di AS, mengatakan klorokuin mungkin efektif melawan virus corona jenis baru. Namun dia menyebut klaim Trump hanya berdasarkan laporan medis sepotong-potong, tanpa melalui kajian peer-reviewed ataupun telah dimuat di jurnal ilmiah.
“Saya telah mengatakan saya bukannya tidak setuju dengan fakta secara anekdot bahwa mereka (klorokuin) mungkin bekerja (melawan virus corona), tetapi tugas saya adalah membuktikan secara definitif dari sudut pandang ilmiah bahwa mereka memang bekerja melawan virus corona,” ujarnya dikutip CNN.
Sedangkan Banner Health mendesak penyedia layanan kesehatan untuk tidak meresepkan klorokuin kepada pasien rawat jalan.
"Hal terakhir yang kami inginkan saat ini adalah membanjiri departemen gawat darurat kami dengan pasien yang percaya mereka menemukan solusi yang simpang siur dan berisiko yang berpotensi membahayakan kesehatan mereka," kata Brooks.
****
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan