Kumparan Logo

Pria Ini Alami Sindrom Kepala Nunduk Gegara Kelamaan Main Game HP

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi main game di smartphone. Foto: TimeStopper69/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi main game di smartphone. Foto: TimeStopper69/Shutterstock

Seorang pria di Jepang mengalami kondisi langka bernama sindrom kepala tertunduk, membuat tengkuk lehernya tampak benjol seperti memiliki punuk. Kondisi ini dialami akibat kelamaan bermain game di handphone (HP) dengan posisi kepala menunduk ekstrem.

Sindrom kepala tertunduk adalah kelemahan otot leher parah yang membuat kepala jatuh ke depan dan sulit diangkat. Biasanya terkait dengan gangguan neurologis, tetapi juga bisa dipicu oleh kebiasaan postur buruk, penggunaan zat adiktif, dan faktor lainnya.

Laporan studi kasus yang dipublikasikan di jurnal JOS Case Report menjelaskan, pasien mengalami nyeri leher parah selama enam bulan hingga akhirnya tak mampu lagi mengangkat kepalanya. Ia juga mengalami kesulitan menelan, menyebabkan penurunan berat badan drastis.

Foto medis memperlihatkan benjolan besar di leher akibat tulang belakang yang memanjang dan bergeser dari posisi normal. Pemindaian menunjukkan dislokasi dan jaringan perut di area tulang leher yang menonjol akibat posisi tubuh yang tidak wajar selama bertahun-tahun.

Penampakan kondisi kepala dan leher pasien yang menunduk parah hingga dagu dan dada menempel, serta hasil pemindaiannya. Foto: Tatsuya Shibata dkk/Rumah Sakit Ortopedi Oita

Pasien, yang identitasnya dirahasiakan, diketahui mulai menarik diri dari kehidupan sosial sejak remaja setelah mengalami perundungan berat. Ia kemudian menghabiskan waktu bertahun-tahun mengurung diri dan bermain game di smartphone dalam posisi menunduk terus-menerus.

Etiologi kifosis servikal (tulang belakang leher melengkung ke depan secara berlebihan) ini diduga sebagai akibat kombinasi gangguan perkembangan yang mendasari dan postur fleksi servikal (menunduk) jangka panjang yang biasa dilakukan saat bermain game di smartphone.

- Tatsuya Shibata dkk, Tim Dokter dari Rumah Sakit Ortopedi Oita di Jepang -

Pengobatan awal dengan penyangga leher tidak berhasil karena menyebabkan mati rasa. Akhirnya, tim medis melakukan serangkaian operasi, termasuk pengangkatan sebagian tulang belakang dan jaringan parut, serta pemasangan sekrup dan batang logam untuk menopang lehernya.

Enam bulan pasca-operasi, pasien bisa kembali menegakkan kepala secara normal. Dalam evaluasi setahun kemudian, tidak ditemukan lagi gangguan mengangkat kepala maupun menelan makanan.

Hasil pemindaian radiografi menunjukkan kondisi tulang belakang pasien enam bulan pascaoperasi, serta kepala dan leher pasien satu tahun setelah operasi. Foto: Tatsuya Shibata dkk/Rumah Sakit Ortopedi Oita

"Tulang belakang leher dan seluruh tubuh kembali normal; pasien dapat melihat dengan jelas," jelas tim dokter di jurnal. "Pasien mempertahankan postur alami, dan kualitas hidupnya membaik secara signifikan selama lebih dari setahun sejak operasi; namun, tindak lanjut lebih lanjut sangat penting karena kondisi spesifiknya."

Dokter meyakini kondisi ini disebabkan oleh kombinasi antara posisi tubuh yang buruk dalam jangka panjang serta kemungkinan gangguan perkembangan yang mendasarinya. Mereka menyerukan peningkatan kesadaran akan dampak negatif dari penggunaan smartphone berlebihan, terutama di kalangan anak muda.