Kumparan Logo

Pria Ini Bisa Baca dan Tulis 30 Aksara Indonesia Kuno, Salah Satunya Kawi

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Diaz Nawaksara menguasai hampir 30 aksara Indonesia kuno.  Foto: Twitter/Diaz Nawaksara
zoom-in-whitePerbesar
Diaz Nawaksara menguasai hampir 30 aksara Indonesia kuno. Foto: Twitter/Diaz Nawaksara

Diaz Nawaksara, pria berusia 30 tahun adalah orang biasa dengan kemampuan luar biasa. Bagaimana tidak, Diaz mampu membaca dan menulis lebih dari 30 aksara Indonesia kuno.

Diaz bukan lulusan filologi yang notabene memang belajar aksara kuno. Saat kuliah, dia mengambil jurusan manajemen informatika dengan fokus pada penyimpanan data melalui metode komputasi. Kelihaiannya dalam membaca dan menulis aksara kuno didapat dari pekerjaannya yang melibatkan suatu hal yang sangat kuno, yakni melestarikan aksara Indonesia berusia sekitar 500 tahun.

"Saya memulai tahun 2012 dengan mempelajari aksara Jawa terlebih dahulu," kata Diaz sebagaimana dikutip CNA.

Dari situ, Diaz terus mempelajari aksara kuno lainnya hingga saat ini dia mampu membaca dan menulis lebih dari 30 aksara kuno serta fasih memahami sekitar setengah dari bahasa yang terdapat dalam tulisan tersebut.

Ini adalah kemampuan yang sangat langka, mengingat biasanya orang Indonesia hanya mampu membaca satu sampai dua aksara kuno. Sementara sisanya membaca huruf latin. Selain itu, masyarakat Indonesia juga banyak yang bisa menulis dan membaca bahasa Arab.

Ini tak lain karena sebagian masyarakat Indonesia memeluk agama Islam, di mana Al-Quran sebagai kitab sucinya. Sebagian kecil lainnya mampu membaca dan memahami bahasa Mandarin.

Naskah Kalender Jawa Dicetak Ulang di Yogyakarta Foto: Wikimedia Commons

Diaz mengaku, mempelajari aksara Indonesia kuno cukup mudah. "Transformasi suatu naskah dari masa ke masa masih bisa dilacak. Mungkin masalahnya lebih pada pemahaman bahasa dan maknanya, karena sebagian besar bahasa dalam manuskrip jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari.

"Penguasaan kosakata menentukan kefasihan dalam membaca naskah kuno, terlepas dari jenis naskahnya," katanya kepada CNA.

Diaz sendiri lahir di Bandung, Jawa Barat, dari orang tua berdarah Sunda. Ketertarikannya pada aksara Jawa berawal secara tidak sengaja. Diaz remaja memang sudah tertarik dengan barang-barang antik. Saat ia mengenyam pendidikan di bangku SMP, Diaz kerap mengumpulkan barang-barang dari zaman sebelum kemerdekaan, termasuk radio, gramofon, dan keris.

Setelah lulus dari perguruan tinggi, Diaz pindah ke Yogyakarta untuk bekerja sebagai guru bahasa Inggris dan pemandu wisata. Suatu hari, ia pergi ke pasar loak dan menemukan manuskrip Jawa dijual di sana. Penasaran, Diaz akhirnya memutuskan untuk membelinya kendati tidak membaca isi manuskrip tersebut karena ditulis dalam aksara Jawa kuno.

Aksara Jawa. Foto: Instagram/@bagolleol

Kebetulan pacar Diaz adalah orang Jawa dan bisa membacanya manuskrip tersebut. Setelah dipelajari lebih lanjut, manuskrip tersebut ternyata berisi undang-undang kuno kesultanan Yogyakarta pada masa penjajahan Belanda yang dikenal dengan sebutan ‘rijksblad’.

Sembari menerjemahkan, sang pacar mengajari Diaz cara membaca aksara Jawa kuno. “Untungnya, saya juga hobi bahasa sehingga saya bisa mempelajarinya dengan intens dan fokus. Setelah sebulan, saya bisa mulai menulisnya. Dan setelah dua sampai tiga bulan saya bisa membacanya dengan lancar,” kata Diaz.

Sejak saat itu, Diaz semakin tertarik mempelajari manuskrip lain dan mulai mempelajari banyak aksara Indonesia kuno. Dia mengoleksi buku-buku Jawa kuno. Ia juga memiliki manuskrip yang ditulis dalam aksara Kawi.

Kawi dianggap sebagai nenek moyang aksara Jawa dan diyakini berkaitan dengan aksara India yang berkembang sekitar abad ke-8 hingga ke-16. Untuk mengembangkan pemahamannya, Diaz mengunjungi kuil dan museum yang memamerkan naskah tersebut.

Aksara Sunda. Foto: Wikimedia Commons

Keliling Indonesia untuk belajar ragam aksara kuno

Diaz telah berkeliling Indonesia untuk menemukan dan mempelajari manuskrip kuno. Dia mengaku, manuskrip-manuskrip tersebut telah membawanya pada pemahaman sejarah Indonesia yang lebih baik. Dalam pencariannya, ia juga menemukan aksara Bali yang sakral yang diyakini memiliki nilai spiritual yang tinggi.

Diaz gemar mempelajari hal-hal baru dan memberikan jawaban atas pertanyaan orang-orang yang kerap ia temukan dengan membaca naskah kuno. Namun di atas segalanya, Diaz meyakini bahwa mengetahui dan melestarikan aksara Indonesia kuno adalah hal yang sangat penting karena mencerminkan jati diri bangsa.

“Banyak orang tidak tahu nenek moyang mereka dan apa keahlian mereka. Mereka tidak tahu karena tidak bisa membaca sumbernya. Ketika mereka bisa membaca manuskrip, itu berarti mereka tahu lebih banyak detail tentang leluhur mereka,” ungkapnya.

Pengetahuan manajemen informasi yang diperolehnya selama kuliah membantunya dalam hal ini. Sekarang, dia punya tujuan agar aksara Indonesia kuno tersedia dalam penggunaan papan ketik komputer dan situs web untuk publik di masa depan. Adapun bagi mereka yang ingin mempelajari aksara kuno, dia menyarankan bergabung dengan komunitas untuk mempermudah prosesnya.