Kumparan Logo

Pria Ini Jadi Orang Pertama yang Sembuh HIV dengan Obat?

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi HIV/AIDS  Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi HIV/AIDS Foto: Shutter Stock

Seorang pria di Brasil bisa menjadi pasien HIV pertama di dunia yang sembuh melalui pengobatan. Setelah setahun berhenti terapi obat eksperimental yang intens, dirinya tak lagi menunjukkan tanda-tanda keberadaan virus HIV/AIDS, baik melalui tes darah maupun tes antibodi.

Pria berumur 36 tahun yang tidak disebutkan identitasnya ini pertama kali didiagnosis terinfeksi HIV sejak Oktober 2012. Dua bulan setelahnya, dia langsung mendapatkan perawatan medis untuk mengatasi infeksi tersebut.

Selain dirinya, setidaknya ada 4 pasien lain yang juga mendapatkan perawatan obat eksperimental tersebut. Namun, hanya pria Brasil ini yang berhasil ‘sembuh’.

Temuan ini pertama kali disampaikan di acara International AIDS Society yang diselenggarakan secara virtual pada Selasa (7/7). Meski temuan ini dapat memberikan harapan pasien HIV/AIDS untuk sembuh, para peneliti mewanti-wanti bahwa analisis lebih lanjut diperlukan untuk verifikasi laporan tersebut.

Ilustrasi golongan obat antiretroviral. Foto: Thinkstock

“Ini adalah temuan yang menarik tetapi sangat awal,” kata Monica Gandhi, seorang spesialis AIDS di University of California, dikutip The Associated Press. "Ini telah terjadi pada satu orang, dan satu orang saja.”

Kalau nantinya penyelidikan lebih lanjut memvalidasi laporan tersebut, pasien asal Brasil ini akan menjadi orang ketiga yang sembuh dari HIV/AIDS, sekaligus yang orang pertama yang sembuh melalui jalur obat.

Sebelumnya, sudah ada dua orang pasien HIV/AIDS yang sembuh pada 2007 dan 2019 lalu. Namun, keduanya sembuh melalui jalur transplantasi sumsum tulang, bukan melalui obat. Transplantasi tersebut juga sebenarnya ditujukan untuk menyembuhkan kanker yang mereka derita, yang kemudian memiliki efek kesembuhan dari HIV karena tubuh memiliki sistem kekebalan yang baru.

Meski demikian, para ahli menentang penyembuhan melalui transplantasi sumsum tulang. Sebab, perawatan semacam itu mahal, sulit, dan mengancam jiwa pasien.

ilustrasi obat antivirus HIV. Foto: Thinkstock

Bagi kamu yang belum tahu, virus HIV sangat sulit untuk dibunuh, membuat perawatan pasien terinfeksi biasanya memakan waktu seumur hidup. Kesulitan untuk menghilangkan HIV di dalam tubuh disebabkan karena virus tersebut membangun ‘reservoir’ atau tempat persembunyian di sel-sel darah di mana ia menjadi tidak aktif dan tidak dapat diserang oleh obat-obatan atau sistem imun tubuh.

Infeksi HIV sendiri memang dapat dikendalikan dengan obat-obatan. Namun, jika pasien berhenti minum obat, virus yang tidak aktif bisa kembali aktif dan memperbarui penyakit.

Adapun dalam kasus pasien di Brasil, ia melakukan terapi antiretroviral (ARV) standar dua bulan setelah diagnosis positif HIV, menurut laporan The Telegraph. Setelah terdaftar dalam uji klinis pada 2016, dia kembali melakukan terapi antiretroviral (ART) standar dan minum obat HIV dolutegravir dan marivoc. Dia juga diberikan nikotinamida, sejenis vitamin B yang ditujukan untuk memerangi bagian dari virus yang menginfeksi sel dan menyebabkannya rusak sendiri, serta mengaktifkan sistem kekebalan tubuh.

Setelah melalui perawatan intensif dalam uji klinis selama 48 pekan, pasien asal Brasil ini kemudian hanya terapi antiretroviral biasa dan berhenti mengkonsumsi obat pada Maret 2019. Sejak saat itu, ia diuji setiap tiga minggu sekali, dan hasilnya menunjukkan bahwa pasien tidak memiliki viral load atau antibodi apa pun.

Ilustrasi Obat HIV. Foto: AFP/Geoff Robbin

Ricardo Diaz, peneliti dari Universitas Sao Paulo yang memimpin riset mengatakan, timnya mencoba ‘membangunkan’ HIV dari tubuh pasien sebelum kemudian dieliminasi oleh sistem kekebalan tubuh. Menurut laporan The New York Times, obat maraviroc dan nikotinamida memang diduga dapat membuat HIV keluar dari tempat persembunyiannya di dalam tubuh, sehingga memungkinkan obat lain untuk membunuh virus.

"Kami tidak dapat mencari (infeksi) di seluruh tubuh, tetapi dengan bukti terbaik, kami tidak memiliki sel yang terinfeksi," kata Diaz. "Saya pikir ini sangat menjanjikan. Pasien ini mungkin bisa disembuhkan,” sambungnya, sembari memperingatkan bahwa butuh waktu lebih untuk mengetahuinya secara pasti.

Adapun Sharon Lewin, ahli HIV dan penyakit menular dari Universitas Melbourne yang bukan bagian dari riset tersebut mengatakan, ketiadaan antibodi memang bisa menjadi argumen pendukung bahwa pasien tersebut telah sembuh.

Meski demikian, Lewin mempertanyakan mengapa kesembuhan tersebut hanya didapatkan oleh satu orang pasien saja dan tidak dengan empat pasien lain. Dia juga meminta agar laporan tersebut tak hanya dibuat sebagai laporan kasus, tetapi juga artikel akademis.

“Ini menarik, tetapi sulit untuk mengetahui seberapa signifikannya jika hanya satu kasus saja. Saya juga ingin tahu apa yang terjadi pada pasien lain," kata Lewin kepada The Telegraph. “Jadi sulit untuk menentukan apakah orang ini mengendalikan virus karena kita tidak tahu kapan dia tertular HIV atau apakah ada tambahan ARV dan nikotinamida yang membuat perbedaan."

***

Saksikan video menarik di bawah ini.