Kumparan Logo

Pria Iran Ini Penggal dan Arak Kepala Istri, Alasannya? Bunuh Demi Kehormatan

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pembunuhan. Foto: Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pembunuhan. Foto: Getty Images

Belum lama ini peristiwa sadis dan mengerikan terjadi di Iran. Seorang pria memenggal dan mengarak kepala istrinya di jalan raya sambil tersenyum bak orang tanpa dosa. Pembunuhan sadis itu pelaku lakukan dengan motif 'Membunuh Demi Kehormatan' atau honor killing.

Pembunuhan itu dilakukan oleh Sajjad Heydari yang tinggal di ibu kota Ahvaz, provinsi Khuzestan, Iran barat, terhadap istrinya yang masih berusia 17 tahun. Sebelum tragedi itu terjadi, istri Heydari yang bernama Mona kerap diperlakukan kasar.

Namun, ia memilih bertahan karena memiliki anak berusia tiga tahun. Suatu ketika Mona merasa tidak kuat. Ia melayangkan gugatan cerai kepada Heydari. Mona juga sempat melarikan diri ke Turki sebelum akhirnya dibujuk oleh sang Ayah untuk kembali ke Iran. Inilah cikal bakal niat jahat Heydari muncul.

Mona sendiri menikah dengan Heydari ketika masih berusia 12 tahun. Pada saat itu, sang ayah mengaku telah mendapatkan izin dari pemerintah setempat untuk menikahkan anaknya yang masih belia. Sebagai informasi, usia minimum menikah di Iran adalah 13 tahun untuk perempuan dan 15 tahun untuk laki-laki.

Singkat cerita, Mona akhirnya pulang ke Iran. Sehari setelah Mona pulang, ia dibunuh oleh Heydari. Kepalanya dipenggal, lalu ditenteng di tengah jalan raya kota Ahavaz. Detik-detik Heydari menenteng kepala Mona terabadikan dalam sebuah video yang viral di media sosial.

video youtube embed

Ibu Heydari sebenarnya sudah mengetahui pembunuhan itu akan terjadi. Karena sang anak sempat mengungkapkan pada Ibunya bahwa dia ingin membunuh Mona dan bertanggung jawab sepenuhnya atas pembunuhan tersebut.

Hasil investigasi menyebut bahwa Heydari tega menghabisi nyawa Mona dengan alasan honor killing alias Membunuh Demi Kehormatan. Lantas, apa itu honor killing?

Honor Killing

Membunuh demi kehormatan umumnya dilakukan oleh pria terhadap wanita atau gadis anggota keluarganya. Dalam hal ini, pembunuh akan membenarkan tindakan mereka dengan klaim bahwa korban telah menjadi aib bagi keluarga.

Jadi, secara harfiah honor killing bisa diartikan sebagai pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang atau lebih terhadap anggota keluarganya di mana korban diyakini telah menjadi aib atau membuat malu keluarga.

Dijelaskan dalam Aljazeera, ada sejarah panjang di balik honor killing. Namun yang pasti budaya tersebut telah ada sejak zaman Romawi kuno. Menurut sejarawan Matthew A Goldstein, akar membunuh demi kehormatan di Kekaisaran Romawi bersumber dari keinginan laki-laki untuk memastikan anak yang dikandung istri adalah benar anaknya--bukan hasil hubungan gelap.

Dengan menempatkan tanggung jawab atas “kehormatan” ini di pundak perempuan, maka perempuan tersebut bisa lebih mudah dikendalikan sehingga pria yakin akan keturunannya.

Intinya, ini adalah cara paling sederhana untuk memastikan pria memiliki anak dari garis keturunannya sendiri, dengan menekan dan mengontrol seksualitas pasangannya.

Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan. Foto: Shutterstock

dr Vivian Fox, profesor di AS yang mendedikasikan hidupnya pada penelitian sejarah wanita, mengatakan bahwa budaya Honor Killing ini tak terlepas dari budaya patriarki. Budaya ini dianggap sebagai sesuatu hal yang wajar dalam agama Yahudi-Kristen, filsafat Yunani, dan kode hukum Common Law.

Sebagai bagian dari budaya yang dilestarikan oleh ideologi-ideologi ini, kekerasan terhadap perempuan dilihat sebagai bentuk ekspresi alami dari dominasi laki-laki.

“Ditahbiskan oleh para dewa, didukung oleh para imam, dilaksanakan oleh hukum, perempuan datang untuk menerima dan secara psikologis menginternalisasi kepatuhan sebagaimana diperlukan. Kekerasan terhadap perempuan dalam segala bentuknya telah dan masih tumbuh subur di lingkungan seperti itu,” kata dr Vivian Fox, seorang profesor di AS yang telah lama meneliti sejarah wanita.

Dalam masyarakat patriarki sendiri aktivitas anak perempuan diawasi secara ketat. Keperawanan dan kesucian wanita dianggap sebagai tanggung jawab kerabat laki-laki.

Britannica menjelaskan, korban pembunuhan demi kehormatan biasanya dituduh telah melakukan tindakan “amoral”, mulai dari berbicara dengan laki-laki yang bukan mahramnya (tanpa sepengetahuan keluarga) hingga berhubungan seks di luar nikah, bahkan saat si wanita menjadi korban pemerkosaan atau pelecehan seksual.

Faktanya, wanita juga bisa menjadi korban pembunuhan demi kehormatan dengan berbagai alasan lain, termasuk menolak untuk dijodohkan atau meminta cerai dari suami kasar. Ironisnya, kerabat perempuan justru sering membela si pembunuh dan bahkan terkadang membantu mengatur pembunuhan tersebut.

United Nations Population Fund memperkirakan sebanyak 5.000 wanita dibunuh setiap tahunnya atas nama membunuh demi kehormatan. Kejahatan ini terjadi di seluruh dunia dan tidak terbatas pada satu agama atau kepercayaan tertentu. Namun, peristiwa ini terjadi cukup signifikan di negara-negara Timur Tengah dan Asia Selatan, di mana hampir setengah kasus honor killing terjadi di India dan Pakistan.

Mirisnya, di sejumlah negara seperti Yordania, membunuh demi kehormatan adalah legal atau pelakunya hanya dihukum ringan. Pasal 340 KUHP Yordania bahkan membebaskan pelaku pembunuhan kalau alasannya membunuh demi kehormatan karena korban telah melakukan perzinaan.

Bagaimanapun, membunuh kerabat sendiri tidak bisa dibenarkan apa pun alasannya. Orang-orang yang melakukan budaya ini hanya berlindung dari kata “Honor” demi menutupi kejahatannya. Mestinya mereka sadar, justru membunuhlah aib dan kejahatan paling keji.