Kumparan Logo

Pulau Baru Muncul di Maluku usai Gempa 7,5 M, Ini Penjelasan BRIN

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pulau baru muncul pascagempa Bumi 7,5 magnitudo mengguncang Maluku.  Foto: dok. Istimewa via ANTARA
zoom-in-whitePerbesar
Pulau baru muncul pascagempa Bumi 7,5 magnitudo mengguncang Maluku. Foto: dok. Istimewa via ANTARA

Sebuah pulau kecil muncul di dekat pesisir pantai di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, setelah gempa berkekuatan 7,5 magnitudo mengguncang wilayah tersebut. Peneliti BRIN menyebut kemunculan pulau ini hal yang umum dan memang sangat mungkin terjadi.

Fenomena munculnya pulau baru di Desa Teinaman, Kecamatan Tanimbar Utara, telah mengakibatkan seluruh masyarakat setempat panik dan takut, sehingga menyebabkan mereka mengungsi untuk sementara waktu.

Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Ambon, Luthfy Pary, mengatakan belum bisa mengonfirmasi lebih detail terkait fenomena pulau baru yang muncul, karena itu perlu kajian lebih mendalam. Istilah yang mirip dengan fenomena ini dikenal dengan “mud volcano”.

“Informasi yang kami peroleh belum lengkap apakah fenomena ini memang murni diakibatkan oleh dampak ikutan akibat gempa atau bukan. Sejauh ini kami belum mendapatkan informasi yang akurat,” ujar Luthfy sebagaimana dikutip Antara.

Mengapa pulau baru bisa muncul pasca-gempa?

Lantas, apakah kemunculan pulau pasca-gempa memang bisa terjadi? Jawabannya sangat mungkin terjadi dan ini adalah sesuatu yang wajar.

Peneliti dari Pusat Riset Geoteknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eko Yulianto, menjelaskan secara umum hampir semua pulau di Indonesia terbentuk karena dua fenomena, yakni pengangkatan tektonik dan pertumbuhan gunung api (vulkanik). Proses ini terjadi berulang kali selama jutaan tahun. Setiap gempa besar dangkal terjadi dengan mekanisme gerak sesar naik, ini akan mengangkat dasar laut sedikit demi sedikit.

X post embed

Saat gempa Aceh 9,3 Magnitudo yang terjadi pada Desember 2004, misalnya, bagian utara Pulau Simeulue terangkat sekitar 3 meter, sementara bagian selatannya turun. Ketika gempa Nias yang terjadi pada Maret 2005, bagian selatan Simeulue kembali terangkat naik dan bagian utaranya turun. Pengangkatan tanah setinggi 3 meter ini mengakibatkan banyak sumur massa airnya menghilang tiba-tiba.

“Sebaliknya, pantai-pantai di Aceh tiba-tiba turun sehingga banyak daratan berubah jadi laut dan pohon-pohon tenggelam. Siklus gempa akan mengangkat dasar laut sehingga jadi darat atau pulau sedikit demi sedikit. Foto ini adalah dasar laut terangkat gempa 2004 di Simeulue,” tulis Eko di akun Twitter resminya.

X post embed

Proses pengangkatan atau penurunan daratan oleh mekanisme siklus gempa ini terbagi menjadi dua fase utama: Inter-seismic dan co-seismic. Inter-seismic adalah fase di antara dua gempa, ketika lempengan samudera menunjam di bawah lempengan benua dan menyeret turun pelan-pelan dengan kecepatan tidak lebih dari tumbuhnya kuku jari manusia.

Pantai pulau-pulau seperti Simeulue, Nias, Kepulauan Mentawai, dan Enggano akan tenggelam secara perlahan. Sementara pantai-pantai Sumatera naik pelan-pelan. Saat energi terkumpul melampaui plastisitas kerak Bumi, kerak patah dan terangkat (nyembul), energi lepas sebagai gempa. Inilah fase co-seismic. Pantai di Pulau Simeulue dan lainnya akan terangkat tiba-tiba, sementara pantai di Sumatera akan tenggelam.

Kembali ke fenomena munculnya pulau setelah gempa sesar naik 7,5 Magnitudo di Maluku, ada kemungkinan di tempat pulau baru tersebut sebelumnya sudah berupa laut dangkal, sehingga ketika ada gempa menyentak, dasar laut dangkal ini menyembul ke atas permukaan laut dan menjadi pulau baru.

Selain itu, ada kemungkinan juga terbentuknya pulau baru setelah gempa 7,5 magnitudo adalah fenomena gunung lumpur (mud volcano). Faktor utama terbentuknya gunung lumpur adalah tekanan berlebih akibat pergeseran naik dan akibat beban sedimen serta hadirnya fluida terkonsentrasi di zona tekanan tinggi.

Menurut Eko, fluida ini dapat mengalir melalui batuan porus dan retakan sesar, membawa remahan bebatuan yang dilewatiya. Tapi bagaimanapun, harus dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan apa yang menyebabkan pulau kecil ini bisa terbentuk.