Kumparan Logo

PVMBG: Ada Kenaikan Gempa di Tangkuban Parahu sejak 27 Juni 2019

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tangkuban Parahu erupsi. Foto: Dok: istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Tangkuban Parahu erupsi. Foto: Dok: istimewa

Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Nia Haerani, mengatakan bahwa timnya telah memantau adanya kenaikan gempa embusan di Gunung Tangkuban Parahu sejak 27 Juni 2019. “Tapi itu kegempaannya berfluktuasi. Kadang naik, kadang turun. Tapi kami pantau terus,” kata Nia saat dihubungi kumparanSAINS, Jumat (26/7).

Menurut Nia, hasil evaluasi dari adanya kenaikan kegempaan di Gunung Tangkuban Parahu pada 27 Juni itu telah PVMBG ke masyarakat dan beberapa instansi. “Sudah disebutkan bahwa potensi bahaya dari Gunung Tangkuban Parahu adalah kita harus mewaspadai adanya erupsi freatik dan hujan abu di sekitar kawah yang bisa terjadi tanpa adanya kejadian vulkanik yang jelas,” jelasnya.

Hari ini, Jumat, 26 Juli 2019, pukul 15:48 WIB, telah terjadi erupsi Gunung Tangkuban Parahu dengan tinggi kolom abu 200 m di atas puncak gunung. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah timur laut dan selatan. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 38 mm dan durasi ± 5 menit 30 detik.

instagram embed

Nia mengatakan, berdasarkan hasil pantauan dari Pos Pengamatan Gunung Api Tangkuban Perahu, sebelum terjadi erupsi tersebut, tidak tercatat adanya peningkatan kegempaan vulkanik. Jadi, erupsi yang terjadi tersebut bukanlah karena aktivitas magma yang hendak keluar sehingga menyebabkan gempa vulkanik dan erupsi magma.

Erupsi pada hari ini merupakan erupsi freatik, yakni disebabkan oleh adanya air bawah tanah berinteraksi dengan magma panas kemudian mendidih. Kondisi ini kemudian menyebabkan penguapan dan uap ini kemudian memberikan tekanan sehingga akhirnya menyebabkan letusan karena tekanan sudah terlalu tinggi.

Jenis erupsi ini sangat mungkin terjadi pada banyak jenis gunung api bahkan di daerah geotermal yang tidak memiliki aktivitas vulkanik.

Kini tim PVMBG masih terus memantau aktivitas Gunung Tangkuban Parahu setiap hari selama 24 jam. “Tujuannya untuk antisipasi apakah akan terjadi kenaikan lagi yang menuju erupsi atau cenderung menurun,” kata Nia.

“Kami juga pasang peralatan di sana. Alat-alat kegempaan, ada pengukur kimia, ada pengukur deformasi. Nah data terakhir dalam 24 jam itu kita plot (setiap harinya) untuk melihat kecenderungannya, misalnya dia naik ya kami antisipasi dengan memberikan peringatan instansi terkait dan masyarakat. Kalau misalnya turun ya kami evaluasi lagi,” paparnya.

embed from external kumparan