Tekno & Sains
·
14 Januari 2021 6:33

Rahasia Buaya Selamat dari Kepunahan Massal Dinosaurus 66 Juta Tahun Lalu

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Rahasia Buaya Selamat dari Kepunahan Massal Dinosaurus 66 Juta Tahun Lalu (6009)
Ilustrasi Buaya. Foto: Shutter Stock
Buaya adalah salah satu hewan di muka Bumi yang paling tangguh. Mereka mampu melewati sejumlah kepunahan massal, seperti dalam kasus meteor yang menabrak Bumi 66 juta tahun lalu yang mengakhiri kisah dinosaurus.
ADVERTISEMENT
Umumnya, hewan bisa bertahan hidup lama karena dia berevolusi menyesuaikan diri dengan lingkungan. Dalam kasus buaya, justru mereka bisa bertahan hidup sejauh ini karena mereka tak memiliki banyak perubahan dibanding nenek buyut mereka yang hidup ratusan juta tahun lalu.
Buaya modern saat ini terlihat sangat mirip dengan yang berasal dari periode Jura pada 200 juta tahun yang lalu. Meski demikian, spesies mereka cuma berkembang menjadi hanya 24 saja saat ini.
Jumlah tersebut terbilang kecil dibanding hewan lain. Kadal atau burung, misalnya, telah mencapai keragaman ribuan spesies dalam waktu yang kurang lebih mirip seperti buaya.
Tentu, spesies buaya di masa lampau lebih beragam dari yang kita lihat saat ini. Para peneliti menjelaskan, mereka pernah menemukan jenis buaya yang tidak kita lihat sekarang, termasuk yang berukuran tubuh sebesar dinosaurus, pemakan tumbuhan, pelari cepat, dan berbentuk ular yang hidup di laut.
ADVERTISEMENT
Dalam penelitian baru yang diterbitkan di jurnal Communications Biology pada 7 Januari lalu, para ilmuwan menjelaskan bagaimana buaya mengikuti pola evolusi yang dikenal sebagai 'punctuated equilibrium.'
Peneliti menjelaskan, evolusi buaya umumnya lambat. Namun, terkadang mereka berkembang lebih cepat karena lingkungan telah berubah.
Secara khusus, penelitian baru ini menunjukkan bahwa evolusi mereka semakin cepat ketika iklim lebih hangat, dan ukuran tubuh mereka meningkat.
Rahasia Buaya Selamat dari Kepunahan Massal Dinosaurus 66 Juta Tahun Lalu (6010)
Ilustrasi Buaya. Foto: Shutter Stock
"Analisis kami menggunakan algoritma pembelajaran mesin untuk memperkirakan tingkat evolusi. Laju evolusi adalah jumlah perubahan yang telah terjadi selama jangka waktu tertentu, yang dapat kita lakukan dengan membandingkan pengukuran dari fosil dan memperhitungkan berapa usianya," kata Max Stockdale dari Fakultas Ilmu Geografi Universitas Bristol, dalam keterangan resminya.
ADVERTISEMENT
"Untuk penelitian kami, kami mengukur ukuran tubuh, yang penting karena ini berinteraksi dengan seberapa cepat hewan tumbuh, berapa banyak makanan yang mereka butuhkan, seberapa besar populasinya dan seberapa besar kemungkinan mereka akan punah."
Penemuan ini menunjukkan, keanekaragaman buaya yang terbatas dan kurangnya evolusi mereka adalah hasil dari laju evolusi yang lambat.
Peneliti menduga, buaya telah sampai pada rancangan tubuh yang sangat efisien dan serbaguna sehingga mereka tidak perlu mengubahnya untuk bertahan hidup.
Tubuh serbaguna yang mereka miliki itu bisa menjadi salah satu penjelasan mengapa buaya selamat dari benturan meteor pada akhir periode Kapur, di mana dinosaurus punah. Buaya umumnya berkembang lebih baik dalam kondisi hangat karena mereka tidak dapat mengontrol suhu tubuhnya dan membutuhkan suhu hangat dari lingkungannya.
ADVERTISEMENT
Iklim pada zaman dinosaurus sendiri lebih hangat dari sekarang. Peneliti menjelaskan, hal tersebutlah yang mungkin menjelaskan mengapa ada lebih banyak jenis buaya pada masa lampau daripada yang kita lihat sekarang.
"Sangat menarik untuk melihat betapa rumitnya hubungan antara bumi dan makhluk hidup yang kita bagi dengannya," kata Stockdale.
"Buaya mendapatkan gaya hidup yang cukup fleksibel untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang sangat besar yang telah terjadi sejak dinosaurus ada," pungkasnya.