Riset Baru Ungkap Cara Licik Virus Corona Bermutasi Mengecoh Sistem Imun

Sejak pertama kali muncul pada akhir tahun 2019, virus corona terus merajalela hingga menyebabkan pandemi. Kini situasi semakin sulit karena SARS-CoV-2 ini bisa bermutasi, menyebabkan varian baru virus corona bermunculan di berbagai negara.
Teranyar, ada varian baru virus corona di Inggris dan Afrika Selatan pada akhir 2020 lalu. Para pakar kesehatan masyarakat mengatakan, mutasi virus corona dari Inggris dan Afrika Selatan membuat mereka menular pada tingkat yang lebih tinggi.
Tentu hal ini sangat meresahkan, meski kini sudah ada beberapa perusahaan farmasi yang berhasil mengembangkan vaksin yang cukup efektif melawan virus corona. Namun jika dibiarkan bermutasi, virus corona baru bisa lebih berbahaya karena lebih cepat menginfeksi dibandingkan varian pendahulunya.
Virus corona yang menjadi penyebab COVID-19 merupakan jenis SARS-CoV-2. Sedangkan varian baru merupakan jenis yang berbeda, misal, B.1.351 untuk mutasi virus corona di Afrika Selatan. Lalu, bagaimana cara virus corona bermutasi?
Sebuah studi baru di jurnal Science menemukan, bahwa SARS-CoV-2 bermutasi hanya dengan menghapus potongan kecil kode genetiknya. Virus ini memiliki mekanisme "proofreading”, kemampuan memeriksa kode apabila terjadi kesalahan saat virus bereplikasi.
Namun ketika virus melakukan ini, proses penghapusan tidak akan muncul di radar proofreader. Sehingga, adanya perubahan pada virus tersebut tidak akan terdeteksi oleh sistem imun tubuh.
"Ini sangat pintar," kata penulis senior studi Paul Duprex, direktur Center for Vaccine Research di University of Pittsburgh, kepada Live Science. “Anda tidak bisa memperbaiki apa yang tidak ada di sana."
Proses penghapusan ini biasanya terjadi pada genom, tempat di mana antibodi orang akan mengikat dan menonaktifkan virus. Tetapi karena penghapusan tidak bisa terdeteksi, maka antibodi akan terkecoh karena menganggap itu adalah virus yang sama sebelum kode genetik berubah.
Duprex mengibaratkan penghapusan kode genetik itu seperti manik-manik warna-warni pada aksesoris. Sekilas, perbedaan tidak tampak seperti masalah besar. Namun bagi antibodi, virus tersebut sangat berbeda.
“Perubahan kecil ini bisa berdampak sangat besar,” tegasnya.
Duprex dan tim peneliti lainnya pertama kali memperhatikan mutasi pada pasien yang terinfeksi virus corona, terjadi dalam waktu yang sangat lama, yaitu 74 hari. Di masa ini, sistem kekebalan pasien akan semakin melemah, mencegah tubuh membersihkan virus dengan benar.
Selama infeksi yang berkepanjangan, virus corona mulai berkembang dan layaknya bermain "kucing dan tikus" dengan sistem kekebalan tubuh. Pada masa kejar-kejaran ini, virus akan mengubah kode genetiknya. Apabila bisa selalu kabur, maka virus akan berhasil bermutasi.
Ilmuwan menggunakan database yang disebut GISAID untuk menganalisis sekitar 150.000 urutan genetik SARS-CoV-2 yang dikumpulkan dari sampel di seluruh dunia. Mereka menemukan sebuah pola.
Penghapusan ini membentuk varian virus yang sangat beragam. Tim peneliti kerap menemukan perubahan ini berkali-kali dalam dalam sampel SARS-CoV-2 yang dikumpulkan dari berbagai belahan dunia pada waktu yang berbeda.
Tampaknya strain virus ini secara independen mengembangkan penghapusan ini karena tekanan selektif yang umum. Para peneliti menjuluki tempat penghapusan kode genetik tersebut sebagai "daerah penghapusan berulang." Mereka memperhatikan bahwa daerah-daerah ini cenderung menjadi titik lonjakan protein virus di mana antibodi akan mengikat untuk menonaktifkan virus.
“Hal ini memberi kami petunjuk pertama bahwa kemungkinan penghapusan ini mengarah pada upaya kabur atau evolusi (virus) untuk menjauh dari antibodi yang mengikat," kata McCarthy.
Para peneliti memulai proyek riset mereka pada musim panas 2020, ketika virus corona dianggap tidak bermutasi secara signifikan. Tetapi berdasarkan temuan ini, mereka berani mengatakan hal yang bertolak belakang dengan kepercayaan tersebut.
Pada Oktober 2020, mereka menemukan varian baru dari hasil penghapusan ini yang kemudian dikenal sebagai " varian baru virus corona di Inggris," atau B.1.1.7. Varian ini mendapat perhatian dunia sejak Desember 2020, ketika ia menular dan menyebar dengan cepat di Inggris.
Temuan ini menggarisbawahi pentingnya memantau evolusi virus dengan melacak penghapusan dan upaya mutasi lainnya.
"Kami perlu mengembangkan alatnya, dan kami perlu memperkuat kewaspadaan kami untuk mencari hal-hal lain dari mereka. Sehingga kami dapat mulai memprediksi apa yang sedang terjadi," kata McCarthy.
Meskipun virus dapat bermutasi untuk menghindari antibodi, namun sistem kekebalan tubuh kita ini masih dapat mengikat dan menonaktifkan virus secara efektif.
"Mengejar virus dengan berbagai cara berbeda adalah cara kami mengalahkan mutasi virus corona," kata Duprex dalam sebuah pernyataan . "Kombinasi antibodi yang berbeda (yaitu perawatan antibodi monoklonal) dan berbagai jenis vaksin. Jika ada krisis, kami ingin mendapatkan cadangan itu."
Penemuan ini juga menunjukkan mengapa penting untuk memakai masker dan menerapkan langkah-langkah lain untuk mencegah penyebaran virus. Semakin banyak orang yang terinfeksi, semakin besar peluang virus untuk bereplikasi dan berpotensi bermutasi.
"Apa pun yang bisa kita lakukan untuk mengurangi jumlah replikasi akan memberi kita sedikit waktu," kata Duprex.
