Riset: Burung Kota Lebih Cepat Kabur saat Didekati Perempuan daripada Laki-laki
·waktu baca 3 menit

Meski hidup berdampingan dengan manusia, burung-burung di perkotaan ternyata tidak sepenuhnya ramah terhadap semua orang. Riset terbaru menunjukkan, burung kota justru lebih cepat terbang menjauh saat didekati perempuan dibandingkan laki-laki.
Temuan ini berasal dari penelitian yang mengamati lebih dari 37 spesies burung di lima negara Eropa. Hasil studinya dipublikasikan pada Desember 2025 dalam jurnal People and Nature.
Para ilmuwan mengukur tingkat ketakutan burung menggunakan indikator yang disebut flight initiation distance, yakni jarak antara manusia dan burung saat burung memutuskan untuk terbang.
Hasilnya, secara rata-rata, laki-laki bisa mendekati burung hingga sekitar 1 meter lebih dekat dibandingkan perempuan sebelum si hewan kabur. Hal ini mengindikasikan bahwa burung mampu membedakan jenis kelamin manusia yang mendekati mereka.
“Sebagai perempuan yang bekerja di lapangan, saya terkejut burung bereaksi berbeda terhadap kami,” kata Yanina Benedetti, ahli ekologi dari Czech University of Life Sciences Prague.
Ia menambahkan bahwa, temuan ini menunjukkan cara hewan di kota 'melihat' manusia, sekaligus menantang asumsi bahwa pengamat manusia dalam penelitian perilaku selalu bersifat netral.
Kendati begitu, alasan di balik perilaku tersebut masih belum jelas. Ahli ekologi dari University of Washington, John Marzluff, menilai hasil penelitian ini masih perlu dikaji lebih lanjut.
“Saya belum sepenuhnya yakin tanpa penjelasan yang kuat, tetapi jelas burung memperhatikan manusia dan merespons dengan cara yang penting,” ujarnya.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan mengamati berbagai spesies burung seperti merpati kayu, gagak, burung gereja, hingga burung hitam di kota-kota di Republik Ceko, Prancis, Jerman, Polandia, dan Spanyol.
Eksperimen dilakukan dengan melibatkan empat laki-laki dan empat perempuan, semuanya ornitolog berpengalaman. Mereka memiliki tinggi badan serupa dan mengenakan pakaian yang mirip untuk meminimalkan variabel.
Setiap peserta berjalan lurus menuju burung sambil menatapnya, lalu peneliti mencatat jarak saat burung terbang. Dari total 2.701 pengamatan antara April hingga Juli 2023, ditemukan pola konsisten, di mana burung cenderung lebih cepat menjauh dari perempuan. Para peneliti mengajukan beberapa kemungkinan, seperti perbedaan feromon, bentuk tubuh, atau cara berjalan.
Menurut Marzluff, gaya berjalan (gait) bisa menjadi faktor penting yang diperhatikan burung. Namun, ia juga mempertanyakan logika tersebut. Jika perilaku burung dipelajari dari pengalaman, seharusnya mereka tidak hanya menganggap perempuan lebih mengancam.
“Sebagian burung pasti pernah mengalami interaksi negatif dengan laki-laki juga, jadi seharusnya tidak ada perbedaan signifikan,” katanya.
Peneliti juga mengakui ada faktor yang belum diperhitungkan, seperti kondisi biologis perempuan, misalnya saat menstruasi yang dapat memengaruhi aroma tubuh. Aspek ini dinilai bisa menjadi bahan penelitian lanjutan.
Para ilmuwan menekankan bahwa hasil ini masih bersifat awal dan belum bisa dijadikan kesimpulan mutlak. Penelitian lanjutan diharapkan dapat menguji faktor-faktor spesifik secara terpisah, seperti pola gerakan, bau tubuh, atau karakteristik fisik lainnya. Dengan begitu, penyebab pasti perilaku unik burung perkotaan ini bisa dipahami lebih jelas.
