Riset: Orang Indonesia Lebih Religius Dibandingkan Negara Lain

27 Juli 2020 7:38 WIB
Massa aksi melaksanakan salat berjamaah di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Kamis (27/6). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Massa aksi melaksanakan salat berjamaah di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Kamis (27/6). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
ADVERTISEMENT
Hasil riset terbaru yang dilakukan Pew Research Center menunjukkan bahwa Indonesia masuk daftar teratas negara dengan tingkat kepercayaan tinggi pada Tuhan agar memiliki moral dan nilai yang lebih baik. Survei itu juga menunjukkan kesenjangan besar atas kepercayaan pada Tuhan antara negara-negara yang relatif kaya dan miskin.
ADVERTISEMENT
Pew Research Center merilis riset berjudul "The Global God Divide" dengan mewawancarai 38.426 orang di 34 negara. Dilakukan pada 2019 dan baru dirilis Juli 2020. Survei itu menemukan bahwa tingkat kereligiusan seseorang dapat dipengaruhi oleh ekonomi, tingkat pendidikan, dan usia.
Terlepas dari perbedaan dalam ketaatan beragama, rata-rata 62 persen di seluruh negara yang disurvei mengatakan bahwa agama memainkan peran penting dalam kehidupan mereka, sementara 61 persen setuju bahwa Tuhan memainkan peran penting dalam kehidupan mereka dan 53 persen mengatakan hal yang sama tentang doa.
Riset Pew Research Center berjudul The Global God Divide 2020. Foto: Dok. Pew Research Center
Hampir semua orang yang disurvei di Indonesia dan Filipina (masing-masing sebesar 96 persen responden) setuju bahwa ada hubungan antara kepercayaan kepada Tuhan dengan moral yang baik. Dibanding 32 negara lain, Indonesia dan Filipina merupakan negara dengan nilai tinggi atas kepercayaan pada Tuhan.
ADVERTISEMENT
Sementara di antara negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara yang disurvei, termasuk di Lebanon (72 persen dari responden), Turki (75 persen) dan Tunisia (84 persen), berpikir bahwa kepercayaan pada Tuhan diperlukan untuk memiliki nilai-nilai yang baik.
Ketika ditanya tentang pentingnya agama dalam kehidupan mereka, mayoritas di 23 dari 34 negara mengatakan agama sangat atau agak penting bagi mereka. Ini terjadi di Indonesia, Nigeria, Tunisia, Filipina, Kenya, India, Afrika Selatan, Brasil dan Lebanon.
Sejumlah anggota komunitas lintas agama bergandengan tangan saat berfoto bersama disela-sela ibadah Misa Natal di Gereja Katedral, Jakarta, Rabu (25/12). Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Mayoritas di beberapa negara ini memiliki komitmen keagamaan tingkat tinggi, mengatakan agama sangat penting dalam kehidupan mereka. Sikap seperti itu terjadi di Indonesia (98 persen responden), Filipina (92 persen), Tunisia (91 persen), Brasil (84 persen), India (77 persen), Turki (71 persen), Lebanon (70 persen).
ADVERTISEMENT
Riset Pew Research Center mengatakan orang Indonesia memiliki sikap paling positif terhadap keanekaragaman secara keseluruhan: dengan 76 persen mendukung peningkatan keragaman, hanya 5 persen yang menentang.

Negara berkembang cenderung percaya pada Tuhan diperlukan

Dalam risetnya, Pew Research Center memiliki gagasan bahwa negara-negara menjadi kurang religius ketika rakyat menjadi lebih kaya dan berpendidikan.
Temuan riset, responden di negara-negara dengan produk domestik bruto (PDB) yang rendah cenderung mengatakan kepercayaan kepada Tuhan diperlukan untuk bermoral dan memiliki nilai-nilai yang baik. Dengan kata lain, ada hubungan terbalik antara PDB per kapita dan persepsi publik dengan kepercayaan pada Tuhan dan moralitas.
Misalnya, di Kenya, yang memiliki PDB per kapita terendah dari semua 34 negara dalam survei ini (4,509 dolar AS pada 2019), sebanyak 95 persen responden menyatakan pandangan bahwa kepercayaan pada Tuhan merupakan bagian integral dari moral. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia.
Riset Pew Research Center berjudul The Global God Divide 2020. Foto: Dok. Pew Research Center
Sebaliknya, hanya 9 persen responden di Swedia yang mengatakan kepercayaan pada Tuhan diperlukan untuk bermoral. Swedia adalah salah satu negara dengan PDB per kapita tertinggi dari negara-negara yang disurvei (55.815 dolar AS pada 2019).
ADVERTISEMENT
Pola ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa orang Eropa cenderung kurang religius daripada orang di bagian lain.
Selain ekonomi, faktor usia juga memengaruhi tingkat religius seseorang, sementara orang dewasa yang lebih muda umumnya kurang religius.
Anak berusia 18 hingga 29 tahun adalah yang paling tidak mungkin mengatakan bahwa perlu percaya pada Tuhan untuk bermoral. Mereka yang berusia 50 dan lebih tua secara signifikan lebih mungkin untuk berpikir bahwa kepercayaan pada Tuhan diperlukan untuk moralitas, daripada mereka yang berusia 18 hingga 29 tahun.
***
Saksikan video menarik di bawah ini.